Anak Hiperaktif Belum Tentu ADHD, Loh!

Written by on November 16, 2018

Anak yang tidak bisa diam dan terlalu aktif kadang membuat orang tua menjadi pusing sendiri. Pikiran itu kadang menjadi terpikirkan ke hal yang jauh, seperti memikirkan anaknya terkena ADHD atau singhatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Bukan hanya orang tua sendiri, tapi orang lain juga. Tidak hanya anak sendiri juga yang didiagnosa tapi anak orang lain pun juga. Tetapi tidak semua anak terjangkit penyakit itu, karena anak-anak tetaplah anak-anak yang membutuhkan bergerak bebas dan tingkah laku yang menandakan kalau benar dia adalah anak-anak.

Pada edisi tanggal 22 September 2018, Parenting With Heart yang berkerja sama dengan Yayasan Busur Emas memiliki tema, “Mengapa Anak Saya Terlalu Aktif?”, dengan narasumber Krishervina Rani Lidiawati, M.Psi. Dalam sesi ini menjelaskan mengenai bagaimana ciri-ciri anak yang mengenai ADHD dan bagaimana cara penanganannya.

Kris menjelaskan bahwa anak aktif sesuai dengan usianya, terutama untuk anak yang baru bisa belajar. Anak yang baru bisa belajar berjalan biasanya sangat aktif karena dia sudah bisa bebas untuk bergerak dan berlari, dan itu adalah wajar untuk usianya. Anak yang terlalu aktif kadang membuat orang di sekitarnya menjadi pusing, seperti di sekolahan, guru kadang protes karena muridnya terlalu aktif sehingga mengganggu jalannya pelajaran dan tidak bisa di kontrol.

Anak yang termasuk dalam kategori hiperaktif ini ada berbagai macam, salah satunya adalah kerap gelisah. Kerap gelisah maksudnya adalah anak itu tidak bisa duduk terlalu lama. Bahkan kalau diajar atau diperintahkan untuk duduk anak itu anak tidak bisa dia dan dia akan bergerak-gerak di kursinya. Kalau anak yang aktif itu masih memiliki batasan tertentu, dan dapat mendengarkan instruksi.

Untuk mendiagnosis apakah anak terkena ADHD saat umur sudah berusia delapan sampai sepuluh tahun. Jika anak masih berusia di bawah lima tahun akan susah. Jadi bisa dibedakan antara aktif dan hiperaktif. Kalau ADHD itu sudah terlewat batas. Tidak bisa hanya satu kali berkomentar atau berdiagnosis, tapi harus diobservasi minilam tiga bulan dan harus memenuhi tiga kategori dan di semua situasi. Banyak juga anak yg aktif di tempat tertentu. Sebagai contoh, di sekolah aktif tapi di rumah tidak, begitupun sebaliknya, di semua situasi dia sendiri tidak bisa dikendalikan. Kalau hanya satu tempat saja kemungkinan anak itu hanya mencari perhatian saja.

ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan perilaku yang dimulai dari masa anak-anak, dan bisa memengaruhi hingga remaja dan dewasa. Dilansir dari National Institute od Metal Health, ADHD adalah gangguan yang terjadi pada otak, ini ditandai dengan kurangnya perhatian adan/atau hiperaktif serta impulsif yang mengganggu fungsi dan perkembangan otak anak. Ada juga yang di sebut ADD. Gangguan ini hanya terdapat digangguan atensinya, tidak menyebabkan anak menjadi hiperaktif tapi susah berkonsentrasi terhadap satu hal, dan mudah terganggu. Ada yang hiperaktif tetapi masih dapat berkonsentrasi.

Anak dapat disebut ADHD kalau termasuk ke dalam tiga kategori berikut:

  1. Inattention: konsentrasi mudah terganggu. Hal ini menyebabkan tugasnya tidak selesai, karena tidak bisa fokus terhadap instruksi yang diberikan. Nilai akademik rendah karena mendapat informasi yang terpotong dan kerap kali juga melakukan kesalahan dan ceroboh (seperti lupa menaruh pensil bahkan bisa juga lupa untuk mandi). Istilah lupa itu karena konsentrasinya terganggu. Sedikit susah untuk tetap dalam satu topik. Ini bisa juga menjadi masalah di sekolahan,
  2. Hyperactivity: cepat gelisah, dan susah diam, selain itu memiliki energi yang lebih. Seperti istilah ‘baterainya tidak bisa habis’. Jika umur anak sudah di atas delapan tahun, harus mengajarinya untuk mengotrol kelakuan tapi hal ini akan susah. Bisa juga disebut Talk excessive (berbicara berlebihan) tidak hanya talkactive. Berbicara terus dan topiknya bisa berubah. Harus sesegera mungkin mendapatkan treatment bukan hanya diberi tahu dan dimarahi atau dihukum. Ketika dewasa salah satu treatmentnya adalah terapi perilaku. Bagaimana mengontrol perilaku-perilaku tertentu (ada yang menurunkan perilaku dan ada yang meningkatkan perilaku) meningatkan (membereskan kamar = kalau mau membereskan apa yang didapatkan (seperti kamar menjadi bersih dan bebas penyakit)),
  3. Impulsifity: tiba-tiba. Bisa bertanya atau memotong pembicaraan, atau instruksi yang belum selesai diberikan sudah angkat tangan, dan mencoba menjawab tapi jawabannya salah dan ini bisa saja mengganggu orang lain. Terjadi juga di keseharian, seperti ortu lagi berbicara apa dan langsung ditimpalin dan ngomong sendiri, ini bukan bearti melawan orang tua. Untuk orang yang sudah dewasa, dia jadi tidak sabaran (butuh usaha untuk menunggu giliran berbicara) atau saat kecil susah menunggu untuk giliran bermain (diberi permainan seperti ular tangga atau monopoli supaya anak belajar untuk menunggu dan konsentrasi).

Di era digital ini udah banyak yang didiagnosa diagnosa ADHD karena energinya tidak tersalur dan hanya untuk duduk diam dan tidak menggerakkan badan. Oleh sebab itu, banyak anak yang membutuhkan penyaluran energi karena kurang bergaul dengan alam. Perlu diwapadai untuk ortu yang membiarkan anaknya terlalu pendiam dan terlalu aktif dan berpikir akan baik-baik, saja maka perlu dipertimbangkan.

Bisa juga diberikan gadget, tetapi ini bukan sarana atau tidak disarankan untuk terapi. Ada anak yang diberikan gadget langsung diam tapi tidak temasuk ADHD dari sananya. Tetapi jika anak yang diberikan gadget tetap tidak bisa diam, maka anak itu terbukti ADHD. Sebenarnya bisa juga untuk diberikan gadget untuk mencaritahu. Sebagai contoh, anak tersebut diberikan satu permainan, apakah dia tetap main dipermainan itu sampai selesai atau mencoba untuk keluar dari permainan dan mengganti game baru karena sudah bosan. Berikan juga permainan yang sulit dikerjakan supaya dia tetap bermain dipermainan tersebut.

Jadi kesimpulannya adalah kenali anak yg aktif seperti apa, dan yang terkena ADHD seperti apa. Bisa dibilang ADHD jika tergolong ke dalam tiga kategori di atas, bukan salah satunya atau dua saja. Beberapa anak yang hanya aktif bisa diberikan permainan yang menantang udah tenang. Anak ADHD itu belum tentu konsen dalam satu permainan tapi mudah ganti permainan.

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi


Current track

Title

Artist