Anak Terlalu Sibuk, Apakah Baik?

Written by on November 22, 2018

Orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sebisa mungkin mereka membekali anak dengan berbagai ilmu yang dianggap bermanfaat untuk anaknya. Itu sebabnya, orang tua mengikuti anaknya ke berbagai macam les untuk meningkatkan kemampuan anaknya. Ada pula yang melihat anaknya menganggur di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa. Tapi kapan kesibukan anak harus diwaspadai? Bagaimana jika tidak membuahkan hasil dan membuat anak itu stress? Atau bagaimana jika hal tersebut sudah terjadi?

Program Parenting With Heart yang bekerja sama dengan Yayasan Busur Emas, pada tanggal 17 November 2018 memiliki tema mengenai “Anak Super Sibuk, Apa Dampaknya?”. Dengan konseler dari Yayasan Busur Emas, Eniwati Willyarto. Pada topik ini membahas mengenai kesibukan yang anak lakukan karena obsesi dari orang tua. Hal yang dipaksakan membuat anak menjadi tidak berguna bahkan jadi stress.

Eniwati mengutip dari perkataan Leonardo Da Vinci, mengatakan bahwa belajar tanpa menyukainya hanya mengotori memori dan tidak akan berbekas di dalamnya. Maksud dari perkataan tersebut adalah hal itu sama saja dengan membuang waktu untuk melakukan hal yang tidak disukai dan akhirnya hanya ‘menumpang lewat’. Suatu yang berlebihan tidak baik untuk orang itu sendiri.

Jika anak menyukai dan meminati hal tersebut, maka itu tidak masalah dan menjadi bekal tersendiri untuk anak dalam kehidupan berikutnya. Kadang kala orang tua memberi anak kegiatan hanya karena obsesi tersendiri. Obsesi tersebut terjaid karena apa yang diinginkan orang tua saat mereka masih kecil tidak tersampaikan, atau cita-citanya tidak terwujudkan. Sebagai contoh, saat masih kecil orang tua ingin les musik, tapi tidak diizinkan karena uang yang kurang, pada akhirnya meminta anaknya untuk diikutkan les musik, padahal anaknya tidak berbakat dalam bidang musik.

Hal ini juga terjadi karena, pada zaman ini gambaran untuk anak yang sukses sudah bergeser. Maksud dari bergeser adalah anak yang sukses adalah anak yang hebat dalam mengukir segala prestasi. Sehingga membuat orang tua memberikan les apapun untuk anaknya, baik akademik maupun non-akademik. Menanggapi banyaknya hal yang harus dimasukkan ke dalam otaknya dan secara terpaksa, tidak semua anak dapat menyanggupi hal tersebut.

Gejala stress anak yang super sibuk:

  • Fisik: berulang kali sering terjadi sakit kepala, sakit perut, diare dengan penyebab yang tidak jelas. Ketika menghadapi pelajaran yang tidak disukai bisa tiba-tiba sakit perut. Hal ini tidak selalu, tapi kalau berulang, ada sesuatu yang diwaspadai dan harus diteliti,
  • Kebiasaan yang tidak pernah dilakukan anak: gampang emosi (pemarah), menangis karena hal yg sepele, menghisap jempol,
  • Anak yang terlalu banyak belajar tidak hanya keberhasilan yg didapat, bisa juga keggagalan. Meskipun terlihat belajar terus setiap hari, sebenarnya anak tidak sepenuhnya mendapat ilmu yang telah dipelajarinya. Hal ini disebabkan terlalu banyak asupan yang diterima tidak sesuai dengan kemampuan menyerapnya karena terlalu kecil,
  • Ada stress baik dan buruk. Stress itu berguna untuk setiap orang. Ketika tanpa tekanan dan tidak ada tantangan sama sekali, membuat anak menjadi pasif, dan tidak akan siap dengan tantangan yang akan datang. Orang dewasa perlu juga satu hal yang bisa memicu diri untuk mengerjakan sesuatu, klo pada anak-anak harus hati-hati. Ketika stress karena berbagai tuntutan, menjadi suatu yang berlebihan maka kondisi anak menjadi rentan (kondisi fisik dan psikologi, ingin membuat anak berprestasi, tapi malah mengalami kemunduran)). Hal jauh lebih buruknya, ketika melihat prestasinya turun, malah ditambahi lagi untuk membuat anak itu menjadi terpacu.

Cara membedakan mana yang keinginan orang tua dan mana yang melihat potensi anak:

Dapat dilihat dari tingkah laku anak. Jika anak punya bakat dan bertalenta dalam bidang tersebut, pasti ada hasilnya dan senang mengerjakannya. Tapi jika sudah terlihat anak malas-malassan saat mau berangkat pergi ke tempat les atau sekolahan, itu perlu diteliti. Ada bebrapa anak yg pemalu dan belum termotivasi untuk ikut. Sebagai orang tua yang lebih tahu bagaimana sifat anak harus benar-benar lihat apa kebutuhannya. Jika sudah mulai kehilangan gairah aktivitas (mengeluh, capek, tidak tertarik dengan aktivitas yang pernah digemari dan tidak tertarik pada apapun) sering melamun dan konsentrasi terganggu, ini adalah gejalanya. Lihat juga prestasinya, jikalau semakin banyak diikuti les dan sebagainya, prestasinya merosot, banyak kesalahan dan kecerobohan hasil kerja yang akan merugikan anak tersebut dan masih membutuhkan bermain bersama teman dan keluarga.

“Dunia anak itu dunia bermain”, tegas Eniwati. “Ketika banyak aktivitas dan dapat dibilang seperti robot dan tanpa istirahat, ini yang membuat anak menjadi jenuh dan depresi. Kalau dilihat, rajin belajar itu baik, tapi kalau satu hari penuh diisi belajar dan kegiatan yang memerlukan kerja otak, bisa jadi depresi. Anak sekarang untuk bersosialisasinya berkurang karena gadget dan les, walaupun berganti orang untuk pelajaran yang berbeda. Jadi anak memerlukan waktu untuk bermain dan bersenang-senang,” jelasnya.

Apa yang dapat dilakukan orang tua:

  • Bedakan mana yang penting dan bagus. Semua kegiatan dan kursus yang diberikan ke anak pasti yang bagus, tapi tidak semua penting untuk anak. Contoh: anak kurang dalam bidang akademik, fokuskan dalam bidang akademisnya, ketika mulai membaik baru ditambah dengan non-akademik, seperti les seni dan sebagainya yang sesuai dengan minat, yang disukai dan kemampuan anak,
  • Harus ingat, ketika mengambil keputusan, harus berdiskusi dengan anak. Pada saat diskusi, hargai pendapatnya dan berikan kesempatan untuk memilih. Ketika memutuskan untuk tetap dengan aktivitasnya sekarang, doronglah agar lebih bertanggung jawab dan motivasinya untuk mengelola waktu. Jangan hanya mengancam, tapi tanyakan apakah nyaman dengan jadwal padat, harus dengarkan pendapatnya. Harus memotivasi anak juga supaya mau. Sama seperti guru di sekolah yang juga memiliki cara untuk memulai permainan tapi bermain, metode pengajarannya bisa dengan bermain,
  • Biarkan waktu yg terbuka untuk anak-anak, jangan tergoda untuk mengisi dengan berbagai aktivitas ini dan itu. Jangan sampai kesibukan anak dengan obsesi orang tua yang bermasalah. Padahal dibutuhkan kreativitas orang tua untuk menciptakan waktu yang senggang agar tidak terpaku dengan gamenya tetapi tetap ada kebersamaan bersama. Bagaimana dengan ortu yg sibuk? Bekerja gak setiap waktu, ada waktu yg bisa diisi dengan kegiatan bersama anak (makan malam, bermain seperti monopoli yang bisa melatih anak untuk belajar berinfestasi juga, atau bermain ular tangga yang melatih anak untuk belajar berhitung) atau saat malam mengobrol dengan anak dan bertanya bagaimana kesehariannya atau kabarnya.

Current track

Title

Artist