Heartline Network

Komnas PA Khawatir, Anak Mengolok Teman dengan Sebutan Kafir!

Ketua Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan kekhawatirannya perihal benih-benih kebencian berdasarkan aspek keagamaan yang telah menjamah anak-anak usia dini.

Arist mengatakan di beberapa derah muncul fenomena anak-anak mengolok temannya yang berbeda agama dengan sebutan kafir. "Kasusnya sama seperti bullying, tetapi kini verbalnya didasari identitas keagaaman. Itu mengkhawatirkan sekali," kata Arist, Jumat (12/5).

Selain mengolok teman, Arist menemukan fenomena anak-anak yang mempersoalkan identitas kafir. Dia mengatakan Komnas PA pernah mendapat aduan dari guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengajak murid-muridnya mengunjungi suatu mall.

"Mestinya kan muncul pertanyaan, mal itu apa gunanya. Tapi ada pertanyaan, itu malnya orang kafir atau bukan? Yang punya seagama atau tidak? Itu kan mengerikan," tutur Arist.

Arist menyatakan kaget bukan kepalang saat mendapat laporan tersebut. Dia tidak menyangka bahwa benih kebencian yang bernuansa agama sudah mengontaminasi anak usia dini. Fenomena ini, kata Aris, terjadi di hampir semua provinsi.

Anak ‘korban’ politik orang tua

Berdasarkan temuan Komnas PA, ungkapan kebencian tidak hanya terjadi antara dua anak yang berbeda agama, tetapi juga anak yang beragama sama. Bagi mereka yang menganut agama serupa, olokan yang menyakitkan bernuansa agama karena faktor perbedaan pendapat. 

Dia mengatakan, ketika anak usia dini saja sudah terkontaminasi oleh benih kebencian berdasar agama, maka tidak heran jika hal serupa menjamah murid di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Misalnya, kata Arist, di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sempat ada aduan tentang sikap murid sekolah dasar yang berani mengancam teman sekelasnya, karena perbedaan pandangan agama. 

"Di sana ada anak-anak yang berani mengancam, nanti kubakar rumahmu," tutur Arist.

Arist menyangkal maraknya penggunaan kata 'kafir' dan sejenisnya merupakan dampak dari kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Arist mengaku mendapat aduan-aduan tersebut sejak 2015.

Arist menyayangkan ketika anak-anak turut dilibatkan dalam misi dan hasrat politik orang dewasa. Menurutnya, hal tersebut merupakan wujud eksploitasi anak untuk kepentingan-kepentingan politik.

"Tidak jarang anak-anak diajak dan dilibatkan di berbagai aksi demonstrasi tanpa anak mengerti apanyang terjadi dapat mengancam keselamatan anak," ujar Arist.

Arist menyerukan agar semua pihak turut aktif dalam menangkal benih-benih paham radikalisme dan intoleransi. Mereka yang harus paling aktif dalam mengemban tugas itu menurut Arist antara lain orang tua, tenaga pengajar, dan tokoh agama.

"Menyerukan dan mengajak semua pihak khususnya keluarga dan masyarakat untuk tidak melibatkan anak-anak dalam segala bentuk aksi-aksi untuk kepentingan orang dewasa," kata Aris.

Sumber: www.cnnindonesia.com


Artikel Terkait

Gerakan 1.000 Buku Untuk Banten

Anak-anak adalah penerus bangsa. Penyambung perjuangan bagi bangsa. Lalu apakah kita sudah mempersiakan pendidikan yang cukup bagi para penerus bangsa ini? Ingatlah bahwa setiap kita punya andil un...

KPAI Bantu Pulihkan Kondisi Remaja Korban Persekusi di Cipinang

M (15), remaja yang menjadi korban persekusi atau perburuan oleh sekelompok massa, dievakuasi polisi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akan membantu memulihkan kondisi remaja itu.

Komnas PA Khawatir, Anak Mengolok Teman dengan Sebutan Kafir!

Ketua Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan kekhawatirannya perihal benih-benih kebencian berdasarkan aspek keagamaan yang telah menjamah anak-anak usia dini.

Ribuan Anak Semarang Meriahkan Karnaval Dugderan Ramadan

Ribuan anak di Kota Semarang, Jawa Tengah mengikuti Karnaval Dugderan, yang merupakan acara tahunan menyambut datangnya Ramadan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Karnaval kali ini mengangkat tema B...

1.300 Judul Buku Untuk Anak SD Banjiri Sentani, Papua

Buku adalah jendela dunia, begitulah pepatah yang sering didengungkan. Dengan membaca, kita akan tahu banyak hal. Untuk itulah, semua kalangan harus mendapatkan akses yang sama pada sumber buku.