Bayi dari Pasangan HIV

Written by on December 19, 2017

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem imun atau sistem pertahanan tubuh kita, sehingga tubuh menjadi lebih mudah terkena penyakit. Jika tidak diobati, penyakit ini bisa semakin parah dan dapat menyebabkan kematian. Menurut data dari UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) pada tahun 2016, Indonesia memiliki 48.000 orang yang baru terkena HIV, 620.000 orang yang sudah terkena HIV sejak dulu, 14% diantaranya adalah wanita hamil, dan 3200 anak-anak yang terkena HIV karena ditularkan oleh ibunya. Kasus HIV baru di Indonesia bertambah 68% pada tahun 2010, namun untungnya kematian yang disebabkan oleh HIV turun sekitar 22% pada tahun 2010.

Bagaimana HIV menular? HIV hanya menular melalui beberapa jenis cairan yang berada dalam tubuh seperti darah, cairan pada rectum, cairan pada vagina (melalui kegiatan seksual), dan air susu. Namun tidak menular pada pasangan yang saling berciuman, kecuali salah satu dari pasangan tersebut (yang mengidap HIV) memiliki luka dan berdarah pada bibir atau sekitar mulutnya sehingga dapat menularkan pada pasangannya. HIV juga tidak ditularkan melalui keringat, pelukan, berjabat tangan, atau memakan makanan dari satu piring yang sama.

Lalu bagaimana jika sebuah pasangan yang terkena HIV ingin memiliki anak? Pertama, konsul dan bicarakan hal ini dengan dokter yang sudah berpengalaman. Jika dokter tersebut tidak mendukung anda akan hal ini, carilah dokter lain yang mendukung anda akan hal ini, karena seseorang berhak mendapat dukungan atas hal yang baik. Jika hanya salah satu orang saja dari sebuah pasangan yang memiliki HIV, maka kemungkinannya akan lebih kecil anak mereka terkena HIV dibandingkan dengan pasangan yang keduanya sama-sama memiliki HIV.

HIV hanya menular pada bayi yang dilahirkan dengan cara normal, karena ada darah dari sang ibu yang dapat bergesekan dengan kulit sang bayi dan masuk ke dalam tubuhnya. Namun jika ibu melahiran secara caesar, maka kecil sekali kemungkinannya untuk sang bayi tertular HIV dari ibunya. Melahirkan secara caesar hanya mengecilkan kemungkinan sang bayi untuk terkena HIV, bukan berarti bayi yang lahir caesar sama sekali akan terhindar dari HIV. Karena bisa saja terjadi sebuah kecelakaan pada operasi caesar tersebut, seperti sang dokter tidak tahu bahwa bayi yang dilahirkan kembar, sehingga tidak sengaja melukai sedikit kulit salah satu dari bayi kembar tersebut, maka darah dari sang ibu dapat masuk kedalam tubuh sang bayi.

Bukan hanya hal diatas yang harus dipertimbangkan oleh pasangan HIV yang ingin memiliki seorang anak. Hal lain yang juga harus dipikirkan adalah psikologis sang anak. Di Indonesia masih banyak warga yang mengucilkan seseorang yang terkena HIV atau memiliki orang tua yang terkena HIV. Selain itu harus dipikirkan juga bahwa HIV tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya, namun ada obat yang dapat memperpanjang usianya. Oleh karena itu, coba pikirkan, apakah ketika anak tersebut bertumbuh, orang tuanya masih ada disisinya atau sudah meninggal. Jika anak tersebut ditinggal oleh orang tuanya ketika ia masih kecil, maka kehidupan anak tersebut dapat hancur dari sisi mental, ataupun ekonomi jika orang tuanya tidak dari keluarga yang mampu.

Jika sebuah pasangan takut akan resiko bayi yang dilahirkan akan terkena HIV, ada beberapa jalan keluar yang dapat diambil, yaitu:

  1. Pada salah satu pasangan yang tidak terkena HIV harus meminum obat pre-exposure prophylaxis (PrEP) terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan seksual.
  2. Assisted Reproduction, yaitu menggunakan teknologi sehingga dapat memiliki anak tanpa berhubungan seksual. Contohnya yaitu seperti Oligospermia cup insemination (OGI) dan In utero fertilization (IUF)
  3. Mengadopsi anak

Kemudian bagaimana cara kami, orang-orang sekitarnya, memperlakukan pasangan atau orang-orang dengan HIV? Jangan kucilkan mereka, jangan jauhi mereka. Jauhi penyakit HIV, bukan orangnya. Mereka sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya agar tetap memiliki semangat hidup. Jadi panjangnya umur seseorang yang terkena HIV bukan hanya dari obat yang ia konsumsi saja, namun juga dari perlakuan orang-orang sekitarnya. Seperti yang sudah ditulis diatas, bahwa HIV menular lewat beberapa cairan yang berada dalam tubuh orang tersebut. Namun berpelukan, bergaul dengan mereka, makan bersama mereka tidak akan menularkan HIV pada diri kita. Kita juga masih dapat berpasangan dengan seseorang yang memiliki HIV karena melakukan kegiatan seksual dengan pengaman seperti kondom tidak akan menularkan HIV.

Orang-orang dengan HIV jugalah seorang manusia yang memiliki cinta, gairah, dan berkeinginan untuk memiliki seorang anak dan membangun keluarga layaknya orang-orang sehat yang tidak memiliki HIV. Mereka juga memiliki perasaan yang sama dengan kita. Mereka dapat tersinggung dan merasa sedih. Dukung mereka untuk melakukan perbuatan baik, dan jangan lupa untuk memberitahu mereka mengenai peluang dan resiko yang mereka miliki jika ingin membangun sebuah keluarga. Sekecil apapun perlaukan kita terhadap seseorang, dapat mempengaruhi hidupnya.

Penulis: Alicia Azzahra

SCORA

Standing Comittee on Sexual and Reproductive Health Inc. HIV/AIDS

CIMSA

Empowering Medical Students Improving Nation’s Health


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST