Berjalan ke Zona Bencana

Written by on October 6, 2018

Kami, Tim Heartline Peduli dan First Response Indonesia, di hari kedua berada di Kota Palu, mulai mengunjungi beberapa lokasi bencana yang menyebabkan jatuhnya ratusan bahkan ribuan korban meninggal dan hilang. Tujuan pertama adalah Perumnas Balaroa. Sesampai kaki melangkah mendekati kawasan ini, hati kami terasa sesak, karena di depan kami menjulang begitu anggunnya perbukitan yang elok, tetapi di kiri dan kanan sepanjang jalan itu nampak rumah-rumah penduduk yang terserak, luluh-lantah digoyang gempa: sebuah pemandangan yang kontras, antara keindahan dan kengerian. Antara keinginan untuk mengagumi alam Palu yang berparas cantik, atau merasa gentar dengan bencana yang baru saja memporak-porandakan kota ini; inilah dilema ketika berjalan semakin mendalam ke Zona Bencana. Wajah Tuhan seperti direfleksikan oleh Rudolf Otto, dalam bukunya “The Idea of the Holly”, yang menggambarkan Tuhan yang berwajah mengagumkan (Fascinosum) dan juga berwajah menggetarkan (tremendum), seperti kami temukan bayangannya di zona ini.

Alam Palu yang eksotik, seperti Teluk Palu, dengan deretan Mall, Ruko, Pusat Bisnis, Hotel, Kafe, dan taman-taman yang mempercantik bibir pantai, dengan cengkerama keluarga-keluarga, pasangan muda-mudi, anak-anak yang bermain, sembari mendengarkan benturan ombak di tembok pembatas laut, tentu bagi siapapun akan terpesona dengan keelokan Palu. Namun, di balik wajahnya yang cantik ini, alam ternyata menyimpan kekuatan yang menggetarkan. Setidaknya itulah yang kulihat di Perumnas Balaroa. Di sana ada ribuan Kepala Keluarga, rumahnya rata dengan tanah. Kengerian yang membuat kita bertanya, apa yang sesungguhnya terjadi? Para warga yang selamat bercerita bahwa saat gempa menggoyang Palu dan sekitarnya, hanya dalam hitungan detik tiba-tiba tanah terbelah dan seluruh perumahan di kawasan itu seperti di telan bumi hingga kedalaman 8 meter. Tak cukup di situ, karena waktu itu senja, dimana para keluarga sedang menyalakan kompor untuk memasak atau sekedar menghangatkan sisa makanan, maka kompor-kompor itu secara serentak meledak dan membakar apa saja yang ada di sana. Itulah keadaan yang diceritakan para warga; setelah digoyang gempa dasyat, mereka ditelan bumi dan dibakar api. Kini masih ada ribuan mayat yang terpendam di bawah perut bumi di Perumnas Balaroa. Bau anyir mayat yang membusuk di beberapa tempat masih tercium tajam. Siang hari matahari begitu terik menyengat tulang, sehingga membuat upaya evakuasi terasa begitu berat. Seorang ayah terlihat menangis di pinggiran rumahnya sembari mencoba mengais-ngais puing-puing rumahnya. Istri dan ketika anaknya terkubur hidup-hidup di bawah sana.

Semakin berjalan ke zona bencana, kami juga semakin berjalan ke refleksi kehidupan yang semakin dalam. Dalam segala hal kita tidak bisa memahami apa rencana Tuhan. Namun dalam banyak hal kita bisa melihat jejak-jejak Tuhan meskipun dalam masa-masa penuh kesulitan. Dalam semua hal kita juga bisa menemukan Tuhan hadir, dalam bentuk kebahagiaan dan juga penderitaan. Semakin masuk ke zona bahaya, akhirnya kita menyadari manusia itu rapuh dan rentan. Alam bukanlah musuh kita. Kekuatannya tak sepadan dengan kekuatan kita. Gedung-gedung tinggi dengan kawat baja dan jalan-jalan beton yang kita bangun ternyata tak mampu menahan keinginan alam yang sedang bergerak. Semua rubuh dan terkoyak-koyak menjadi debu. Meski manusia itu rentan, tetapi manusia tak pernah sendiri. Tuhan pencipta kita tetap hadir, menemani dan memercikkan nyala harapan. Ia menyelipkan nada-nada penghiburan di setiap nyanyian-nyanyian pilu karena derita yang kita alami. (Jose)


Current track

Title

Artist