Blame Trap

Written by on August 23, 2017

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”. 

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. Dunia menyadari hal ini sebagai ancaman yang mudah menjangkiti manusia. Beberapa pengamat dengan sedikit berlebihan menambahkan kata-kata, “lebih-lebih manusia Indonesia”. Pernyataan itu saya tambahkan  berdasarkan  pengalaman pribadi, baik dengan orang lain, maupun diri sendiri.  Tentunya tanpa membandingkan dengan perilaku bangsa-bangsa lain.

Contoh paling anyar datang dari seorang teman  yang terlambat datang memenuhi suatu janji pertemuan.  Dari jauh dia berteriak, dirinya telat karena terjebak macet. Seorang teman lain yang ikut dalam pertemuan dan datang tepat waktu menukas sinis, “Bukankah Jakarta sudah macet sejak tahun 1970?”.

Menyalahkan  pihak lain membuat perasaan seolah-olah lega dan terbebas dari tanggung jawab yang harus dipikul. Padahal sekali lagi, rasa lega itu semu dan sementara. Kesalahan dan masalah, sejatinya masih di sana. Konsekuensi dan resiko yang harus dipikul tak akan berpindah ke jalanan macet, bila jadwal pertemuan molor karena keterlambatan kedatangannya.  Hiruk-pikuk jalan raya tetap bergeming meski ribuan pertemuan terlambat dimulai.

Blame trap semakin menjadi-jadi dan sering berseliweran di media informasi saat situasi politik memanas seperti hari-hari ini. Insan politik seolah menyimpan “kesalahan” pihak / orang lain di ujung lidah untuk segera dilontarkan atau di ujung jari untuk segera digoreskan, setiap kali muncul kesempatan.

Blame trap dalam bentuk lain adalah selalu menyalahkan apa saja yang diperbuat orang lain. Di matanya, kebenaran hanya milikinya, sementara kesalahan milik orang lain. Fairness terbang tinggi, obyektivitas hilang entah kemana,  imparsial dikubur dalam-dalam. Apa saja yang dilakukan orang lain identik dengan  keliru.  Korupsi diberantas, salah; maling ikan dibasmi, tidak benar; gembong narkoba dihukum mati, melawan HAM; membangun infrastruktur, dicap pencitraan; hutang untuk membangun, dibilang gali lubang; mafia dibubarkan, disebut iri; menegakkan dasar negara, dituduh diktator.  Itu contoh-contoh perilaku yang terperangkap  blame trap, yang  sedang menjamur di negara kita. Pelakunya  seakan berpikir: “If other people are responsible for the bad things that happen in life then the individual can avoid feelings of culpability” (alcoholrehab.com).

Mengapa perilaku menyalahkan pihak lain bisa muncul? Pertama, karena kurang atau hilangnya rasa percaya diri (PD). Melempar kesalahan dianggap dapat mempertebal rasa PD, meski secara  faktual,  blame tidak menambah apa pun dalam dirinya.

Kedua, meski palsu,  blame  merupakan mekanisme pertahanan diri yang mudah keluar. Dengan melempar kesalahan kepada pihak lain, seseorang seolah-olah merasa dirinya (paling) benar dan aman,  serta seolah tak (pernah) berbuat kesalahan serupa.

Ketiga, biasanya  blame terjadi karena rasa benci kepada pihak lain,  padahal kebencian mudah (sekali) melahirkan ketidak-adilan. “(Kalau bisa) Janganlah membenci orang. Kalau pun terpaksa membenci, jangan biarkan kebencian membuatmu berlaku tidak adil” – (KH. H. Mustofa Bisri).

Keempat, bagi orang perfeksionis,  blame biasanya melekat kepadanya. Pribadi seperti ini ingin segalanya sempurna, hingga menganggap ketidak-sempurnaan adalah milik orang lain.

Kelima, kepentingan diri yang menggumpal sedang melekat di hatinya. Kadang kepentingan itu bersifat obyektif, namun tak jarang mengandung subyektifitas yang kental dan irasional.

Melihat ke dalam,  atau  insight, banyak mempermudah orang untuk memperbaiki kesalahan, sementara  blame justru membuat sebaliknya. Para ahli psikologi menganggap bahwa  blame trap  mengancam hampir semua manusia dengan kadar dan skala yang berbeda-beda. Menyalahkan pihak lain menjadi ciri menonjol dari makhluk hidup yang bernama manusia.

Disadari, sifat manusia sangat rumit.  Tak pernah puas dengan apa yang dipunyainya. Diberi sedikit, minta banyak.  Mempunyai banyak, timbul rasa iri karena menganggap yang lain mendapat  lebih banyak.  Saat melakukan kesalahan, cenderung menunjuk orang lain sebagai penyebabnya.

“Human nature is so complicated. Those who have little, want a lot. Those who have a lot, think others have more. Those who lose, blame others for the loss”. – (Profesor Eraldo Banovac,  Guru Besar Energi dari Universitas Kroasia).

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST