BPK Penabur Sukses Ciptakan Jurus Jitu Daya Tangkal Pelajar Akan Narkoba

Written by on March 23, 2018

Penelitian membuktikan bahwa hampir 5 juta masyarakat Indonesia kecanduan Narkoba. Mirisnya, 30 persen diantaranya merupakan usia sekolah hingga pelajar dari perguruan tinggi. Keprihatinan ini menggebrak kepedulian Radio Heartline Tangerang untuk membahas topik “Remaja di Pusaran Narkoba” pada program siaran Parents’ Story edisi 16 Maret 2018 lalu.

Maraknya remaja di Indonesia yang menggunakan Narkoba, boleh jadi bukanlah hal asing di telinga kita. Kondisi ini semakin diperparah ketika positioning Indonesia telah bergeser dari negara transit menjadi negara pengedar Narkoba. Yang mengkhawatirkan, hal tersebut mengakibatkan remaja Indonesia kini tidak hanya sekedar menggunakan namun juga mengedarkan Narkoba.

Ditemui saat bincang dalam program Parents’ Story yang disiarkan oleh Radio Heartline Tangerang, Emmy Septinesia selaku Kasi. Kesehatan Sekolah BPK Penabur Jakarta, menyatakan keprihatinannya akan hal ini, “Ini menjadi keprihatinan bersama bahwa Indonesia saat ini tidak lagi menjadi negara transit narkoba, tapi negara pengguna & produsen. Narkoba telah dikemas sesuai trend  anak muda kekinian”.

Emmy juga menegaskan bahwa untuk menekan peredaran Narkoba di Indonesia tentunya tidak lepas dari faktor supply dan demand. Menurutnya, penting bagi pemerintah untuk dapat menahan supply Narkoba yang masuk. Sementara itu, untuk menekan demand akan Narkoba perlu diupayakan daya tangkal pada remaja oleh berbagai pihak.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan terpercaya, BPK Penabur senantiasa memperlengkapi siswa dengan nilai kebenaran dan kharakter untuk dapat menolak segala bentuk tawaran Narkoba. Sylviana Chrisya yang berprofesi sebagai Kepsek SMAK 6 BPK Penabur Jakarta ini,  juga menjelaskan bahwa pola mendidik anak untuk generasi Z (kelahiran diatas tahun 2000) dan generasi α (kelahiran diatas tahun 2011) berbeda dengan pola mendidik generasi sebelumnya, pasalnya generasi ini dinilai memiliki kemampuan tinggi untuk mengakses informasi sebanyak-banyaknya melalui gawai.

Sylviana menilai bahwa untuk itulah pola asuh terhadap generasi Z dan α haruslah berubah, guna menciptakan kesadaran akan daya tangkal Narkoba pada remaja. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa di lembaga pendidikan BPK Penabur sendiri, telah memiliki metode pengajaran khusus untuk menciptakan daya tangkal Narkoba pada siswanya, yaitu penggabungan unsur creative thinking, critical thinking, serta collaboration learning. Menurutnya, siswa BPK Penabur selalu diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk menggali suatu fenomena yang sedang terjadi, kemudian siswa diminta untuk mengkaji perihal tersebut dan mendiskusikan dengan teman-temannya. Pada akhirnya, siswa akan memaparkan hasil diskusi sebagai buah pemikiran kritis yang telah mereka lakukan. Sehingga, hal tersebut nantinya akan terus tertanam di benak para siswa untuk memiliki daya tangkal alami terhadap Narkoba. Dalam hal ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator siswa.

Silviana juga menyayangkan bahwa sistem pendidikan Indonesia saat ini dinilai terlalu menjejalkan berbagai macam teori. Sehingga menurutnya, siswa tidak punya waktu lagi untuk memecahkan masalah kehidupan, seperti: narkotika, pengangguran, dll.

Di lain sisi, emosi anak juga harus menjadi perhatian orang tua. Emmy menyerukan agar para orang tua senantiasa memberi pengertian pada anak, agar menghargai tubuh yang diberikan Tuhan.  Ia menghimbau agar orang tua seyogyanya menanamkan pada anak, bahwa prestasi dan kesuksesan yang diraih akan menjadi sia-sia bila anak tidak memiliki tubuh yang sehat.

Sementara itu, untuk menekan demand Narkoba di kalangan remaja, lembaga pendidikan BPK Penabur sejauh ini telah menerapkan tiga pendekatan, diantaranya: pendekatan  pear educator, life skill education dan penyuluhan. Langkah diatas, dinilai efektif untuk diaplikasikan pada lingkungan lembaga pendidikan.

Emmy menilai bahwa pendekatan yang dilakukan antar teman sebaya (pear educator) dinilai sangat baik, pasalnya kelompok pertemanan dapat menularkan informasi yang baik kepada sesamanya agar tidak pernah kompromi dengan produk-produk rokok, alkohol, dan Narkotika. Untuk itu, siswa perlu diberi informasi yang cukup akan bahaya narkoba dan pentingnya kesehatan tubuh untuk tumbuh kembang yang sempurna.

Selanjutnya, BPK Penabur juga telah berkomitmen untuk rutin menjadwalkan life skill education dan penyuluhan melalui proses bermain maupun games, seperti bahaya rokok untuk siswa kelas 4, bahaya alkohol untuk siswa kelas 5, dan bahaya NAPZA untuk kelas 6. Penyuluhan ini memberi dampak baik untuk para siswa, bahkan setelah mendapatkan penyuluhan, para siswa mampu mengingatkan orang-orang terdekatnya bahkan keluarga untuk tidak merokok. Ini semua alami mereka lakukan karena mereka telah paham akan bahaya produk-produk tersebut, ungkap Emmy.

Pada akhirnya, masa depan anak bangsa ada di tangan kita bersama. Silviana mengibaratkan bahwa peran orang tua dan guru adalah bagaikan roda kiri dan kanan dari masa depan anak. Untuk mencapai tempat tujuan yang baik, Silviana mengatakan bahwa kedua roda harus berfungsi dengan baik bersama-sama.

Hal senada juga diutarakan oleh Emmy. Beliau mengatakan bahwa orang tua wajib menjalin komunikasi yang terbuka dengan anak, dan menggunakan pola asuh yang sesuai. Disamping itu, Emmy menyerukan agar para orang tua juga selayaknya menjadi role model bagi anak, untuk itu apa yang orang tua sampaikan dan apa yang orang tua contohkan harus sinkron. Dengan demikian anak akan cukup merasakan perhatian dari keluarganya, dan tidak akan mencari perhatian dari pergaulan buruk di luar.

Editor: Irene Leonardi / Radio Heartline Tangerang

 

 

 

 

 


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST