Cinta si Black

Written by on March 29, 2018

Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang bernama Bobi. Ia mempunyai seekor anjing yang lucu. Anjing tersebut berbulu panjang dan setiap minggu harus dibawa ke salon hewan untuk perawatan bulunya. Anjing yang sangat dicintai Bobi diberi nama si Black. Saking cintanya Bobi kepada peliharaannya ini, si Black selalu digendong kemana-mana dalam setiap aktivitas Bobi. Jika ada orang yang menanyakan alasan mengapa Bobi selalu menggendong si Black setiap saat, maka Bobi akan menjawab, karena ia begitu mencintainya.

Setelah sekian lama, akhirnya si Black menjadi kurus dan mati. Hal itu terjadi karena Bobi lupa memberi makan si Black, lupa membiarkannya bermain, berlari di halaman, dan lupa membiarkannya bermain dengan anjing-anjing lain. Namun demikian, Bobi pun masih yakin bahwa ia mencintai si Black.

Pertanyaan sebenarnya, apakah benar bahwa Bobi mencintai anjingnya? Kalau iya, seharusnya cinta itu menghidupkan, membebaskan, dan bukan memiliki. Kalau iya, semestinya Bobi membuat anjingnya hidup, gemuk, dan membiarkannya bermain. Ketika ia membiarkan anjingnya mati, sebenarnya siapa yang ia cintai?

Cinta memang sering terkamuflase dalam citra diri karena kecerdasan ego manusia. Sebenarnya di dunia ini banyak orang yang mencintai diri sendiri, namun dengan orang lain yang hanya sebagai obyek cinta. Intinya adalah kepuasan ego, dan kelekatan diri orang lain yang merasa dicintai. Itu sebenarnya bukan subjek, melainkan obyek cinta.

Si Black pada cerita ini adalah contoh objek cinta untuk memuaskan perasaan cinta Bobi. Cinta seperti ini berciri posesif, mengikat, menguasai, mudah tersinggung, cemburu, mudah marah, dan takut kehilangan. Namun orang yang dicintainya bukan lagi subyek, melainkan obyek. Sebenarnya kalau Bobi mencintai si Black, ia tidak akan mati, tetapi sehat. Cinta sejati membebaskan, menghidupkan, dan berusaha membahagiakan. Meskipun, konsekuensinya seringkali pengorbanan tidak selalu mendapat balasan.

Begitulah refleksi kamuflase percintaan manusia. Sesungguhnya ia tidak mencintai orang yang dicintainya, melainkan dirinya sendiri. Mirisnya, ini berarti ketika seseorang mengatakan bahwa ia mencintai orang lain, arti sebenarnya adalah saya ingin mengatur kamu, ingin kamu harus mengikuti saya, saya maunya kamu hanya milik saya, dll. Dan apabila hal ini tidak dipenuhi, maka orang yang mencintai tersebut akan marah dan merasa tidak dihargai.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Itulah sebabnya orang perlu siap untuk mencintai terlebih dahulu, selanjutnya harus memiliki gambar diri secara benar. Untuk meningkatkan quality of life, jangan sampai justru terkamuflase dengan menciptakan kelekatan memakai bahasa cinta. Siap untuk mencintai adalah kesiapan untuk tidak menerima apa-apa dari orang yang kita cintai, kecuali orang yang kita cintai hidup, tumbuh, berkembang, dan mandiri. Kita harus mengerti bahwa orang yang kita cintai, juga memiliki kehidupannya sendiri.

Anda juga dapat menganalogikan perihal ini saat membesarkan anak, berhubungan dengan istri, suami, maupun keluarga kita. Saat mereka tidak mengikuti anjuran dan mau kita, dan kita bersedih. Inti pusatnya adalah keinginan diri sendiri dan kelekatan tidak sehat yang diciptakan pribadi manusia.

Editor: Irene Leonardi / Radio Heartline Tangerang

Diintisarikan dari program Inner Journey with Ruy Pamadiken

Disiarkan setiap hari Rabu, pukul 10.00-10.30 WIB di Radio Heartline Tangerang 100,6 FM

 


Current track
Title
Artist