Dampak Ketidakharmonisan Keluarga Pada Anak

Written by on September 10, 2018

Banyak hal pada saat ini yang menyebabkan dampak buruk terhadap anak-anak. Baik orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, orang tua yang jarang memperhatikan anaknya dan menitipkannya kepada orang lain. Bahkan untuk orang tua yang sering bertengkar di depan anaknya, kalau tidak puas dengan pengtengkaran itu, mereka akan pergi ke anaknya untuk melampiaskan kekesalan mereka, padahal si anak itu tidak salah.

Program Parenting with Heart tanggal 18 Agustus 2018 dengan judul “Apa Dampak Ketidakharmonisan Keluarga pada Anak”, dengan narasumber Parenting Counseling Yayasan Busur Emas, yaitu Eniwati Willyarto, MA. Memberikan informasi dampak mengenai ketidakharmonisan keluarga kepada anak mereka. Padahal keluarga merupakan wadah seseorang untuk tumbuh dan berkembang pertama kalinya dan memiliki pengaruh yang besar bagi kesehatan fisik dan mental.

Ketika keluarga mengalami konflik yang berkepanjangan dan tidak menyelesaikannya secara cepat, akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Tanpa ada hal tersebut membuat anak itu bisa beradaptasi dengan lingkungan luar atau tidak. Dengan berada di sekitar keluarga yang selalu sibuk dan bertengkar membuat pertumbuhan anak menjadi sulit. Menjaga keutuhan rumah tangga bukan hal yang mudah, karena dari pernikahan itu sendiri menyatukan kedua sifat, hati dan karakter yang berbeda menjadi satu. Terlebih lagi kalau keduanya berkarir dan bekerja, maka waktu untuk berduaan menjadi susah dan terbatas.

Eniwati menekankan, walaupun zaman sudah berkembang, dengan adanya teknologi bisa membantu yang jauh menjadi dekat. Bahkan untuk orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, mereka bisa mengawasi atau melihat anak dengan gadget dari tempat yang jauh. Tapi tetap saja tidak bisa membantu untuk mempererat hubungan keluarga, karena hanya mengandalkan percakapan jarak jauh dan tidak menjadikan rumah sebagai tempat untuk tinggal dan berkumpul bersama anggota keluarga. Dengan adanya hal tersebut, pola asuh keluarga yang bermasalah cenderung menimbulkan aura negatif. Masalah yang ada di luar akan dibawa ke dalam rumah, bahkan menimbulkan pertengkaran, tanpa melihat situasi bahkan memperhatikan kesehatan dan mental anak mereka yang selalu menyaksikan orang tuanya yang bertengkar, bukan saling menyatakan rasa rindu.

Eniwati memberikan sebuah contoh hal sepele yang kalau dibiarkan menjadi menumpuk. Suami yang sibuk, istri pun sibuk. Suami menginginkan istrinya untuk menemaninya makan, tapi istrinya tidak bisa menemani karena sibuk, begitu pula sebaliknya. Karena istri hanya mempersiapkan urusannya sendiri, dia tidak bisa mengurus suami dan anaknya, lalu meminta pembantu untuk mengurus hal tersebut yang seharusnya menjadi kewajiban. Dengan hal tersebut suami menjadi kesal dan lalu memberitahu istrinya pada waktu yang tidak tepat dan menjelaskan kalau itu adalah kewajiban seorang istri. Istripun tidak mau kalah dan membalasnya, dan akhirnya timbullah pertengkaran dan dilihat oleh anak.

“Anaknya kasihan kalau melihat orang tuanya bertengkar setiap hari. Bisa-bisa anaknya menjadi tertutup bahkan menyalahkan dirinya sendiri,” sambungnya.

Bahkan ada tahapan dari ketidakharmonisan dalam keluarga. Pertama, masalah yang menumpuk dan dibiarkan begitu saja, karena menganggap itu hal yang sepele dan akan cepat selesai. Tapi hal lain pun terjadi, hal itu menjadi masalah dan menjadi bahan pertengkaran, dari yang kecil sampai besar, dan itu akan menjadi rutinitas sehari-hari. Jadi jika dibicarakan dengan hati yang dingin dan hati yang tenang, jadi tidak ada yang merasa tersakiti dan saling menghakimi. Kedua, waktu menyampaikan kritik harus waktu yang pas juga. Jika anak melihat hal ini, maka kondisi psikologi anak itu menjadi terganggu karena orang tua selalu bertengkar, terlebih lagi untuk hal yang sepele.

Beberapa tanda bahaya yang bisa merusak hubungan rumah tangga.

  • Saling menghina satu sama lain.

Contoh, suami adalah lulusan teknik, tapi setiap TV atau barang elektronik di rumah rusak akan memanggil tukang service, dan istri menyinggung suaminya yang tidak bisa melakukan apa-apa dan akhirnya timbul pertengkaran.

Begitu pula terhadap anak. Tetangga menceritakan tentang anaknya, orang tua yang tidak merasa kalau anaknya seperti itu lalu membanding-bandingkan kemampuan anaknya. Hal ini membuat si anak menjadi tersinggung dan sakit hati karena dibandingkan dengan orang lain.

  • Tidak ada yang mau mengalah.

Saling menyalahkan satu sama lain karena satu kesalahan. Tidak ada yang mau mengalah juga karena menganggap dirinya itu benar. Saling memaafkan kalau sama-sama suasana sedang tidak enak, dan kembali anak yang disalahkan.

“Semuanya berawal dari hal kecil, lalu bertahap dan menjadi besar. Itu menyebabkan ketidakharmonisan,” lanjutnya.

Saat orang tua sedang bertengkar, anak yang melihat kadang menyalahkan diri mereka sendiri. Mereka menganggap kalau orang tuanya bertengkar karena mereka. Dengan hal itu terjadi, membuat anak menjadi anti sosial dan pendiam. Dia juga tidak mau mendengarkan orang lain dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Dengan sifat anak yang berubah, karena pengaruh dari orang tuanya, anak akan mencari tempat untuk berbicara dan mengutarakan pendapatnya. Tanpa adanya bimbingan, anak juga akan salah mendapatkan teman untuk bercerita, bergaul, dan itu akan menjadi masalah lagi. Bisa jadi orang tersebut akan menyesatkan dan melakukan hal-hal yang buruk, sehingga anak menjadi terjerumus ke pergaulan yang tidak benar dan salah pergaulan.

Selain itu pengaruh ketidakhamonisan keluarga dari prestasi anak. Adansaat awal masuk memiliki peringkat yang baik. Beberapa lama kemudian, karena hubungan yang kurang baik di rumah maupun di sekitarnya, peringkat dan prestasinya menjadi menurun. Tidak hanya itu saja nilai mereka juga menurun, dan dia tidak mau berbicara dengan orang lain karena rasa takut.

Kurangnya figur contoh karena orang tuanya sering bertengkar. Tanpa adanya figur yang baik itu memberikan anaknya contoh yang dia lihat sendiri dari orang tuanya. Ayahnya sering memukul ibunya, dan ibunya sering memukul anaknya. Melihat dan mengalami hal itu, kadang kala anak ada yang memukul pembantu bahkan teman sekolahnya karena melihat orang tuanya melalukan hal tersebut. Begitu pula untuk anak yang broken home, mereka kehilangan salah satu figur orang tuanya, antara ayah atau ibu.

Kesimpulannya adalah orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk anak mereka. Jika sedang ada masalah jangan dibicarakan di depan anak dan bicarakan dengan baik tanpa berkelahi. Begitu pula jangan menjadikan anak sebagai tempat emosi. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan mengucapkan syukur. Dengan berdoa membantu untuk meredakan emosi dalam diri dan menjadi kepala dingin dan tidak jauh dari Tuhan.

 

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi


Current track
Title
Artist