Didiklah Anak Sesuai Zamannya

Written by on January 23, 2018

Seorang ibu nampak frustasi karena merasa memiliki anak yang tidak mau mendengarkan nasihatnya, dan cenderung membuat keonaran. Nampaknya, kejadian ini sudah umum terjadi sepanjang waktu. Kejadian ini mungkin pernah dialami orang tua Anda. Mungkin juga pernah dialami nenek Anda.

Yah, polemik seperti ini selalu ada di setiap generasi, bahwa orang tua merasa sang anak memberontak, dan tidak patuh. Tapi, mungkin sedikit yang menyadari bahwa metode mendidik anak tidak dapat diterapkan sama antar generasi. Lalu, bagaimana mendidik anak sesuai zamannya?

Menilik fenomena tersebut, Radio Heartline FM Tangerang dalam kesempatan program siaran “Heartline Coffee Morning” kembali menberikan sajian informasi santai dengan tajuk “Didiklah Anak Sesuai Zamannya”. Dalam rangkaian program talkshow terbaik (versi KPID – Desember 2017) tersebut, Radio Heartline FM Tangerang menghadirkan berbagai narasumber yang kompeten dibidangnya, diantaranya: Dra. Evi Ratnawati (Direktur Bina Keluarga Balita & Anak BKKBN), Aria Ahmad Mangun Wibawa (Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemdikbud R.I.), Sumarti M. Thahrir, M.Pd. (Praktisi Neuroliterasi Neurosains Terapan), Dr. Sudibyo Alimoeso, M.A. (Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Parenting Indonesia), dan Nyi Mas Diane W., S.Psi (Parenting Motivational & Penulis Buku Didiklah Anak Sesuai Zamannya).

Dikatakan bahwa masalah utama perselisihan yang terjadi antara orang tua dan anak sepanjang masa adalah kurangnya waktu berkomunikasi, dan buruknya kualitas komunikasi. Pada kesempatan pagi itu, Nyi Mas Diane menekankan bahwa komunikasi sangatlah memiliki peranan penting di dalam keluarga, dalam hal ini adalah komunikasi antara orang tua dan anak. Nyi Mas menyampaikan keprihatinannya, bahwa saat ini masing-masing anggota keluarga justru lebih asik dengan gawai yang dimilikinya. Untuk menyiasati jurang permasalahan yang terjadi di dalam keluarga ini, setiap anggota keluarga haruslah berkomitmen untuk memiliki waktu tanpa gawai, yang harus disepakati dan dijalankan bersama. Nyi mas beranggapan bahwa orang tua khususnya, bukan menyisahkan waktu hariannya untuk anak, melainkan harus menjadwalkan waktu hariannya untuk sang buah hati.

Hal senada juga diutarakan oleh Sumarti. Beliau mengatakan bahwa dari komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak dalam keluarga, orang tua wajib menyampaikan nilai apa saja yang ingin diusung keluarga. Sehingga antar anggota keluarga dapat saling menyamakan visi.

Seiring berjalannya visi tersebut, Sudibyo juga menambahkan bahwa peraturan dan nilai tersebut harus diaplikasikan bersama keluarga. Hal ini diutarakannya, karena fenomena yang acapkali terjadi justru orang tua lah yang melanggar, sehingga anak merasa tidak masalah bila melanggarnya juga.

Dijelaskan Sudibyo juga bahwa, seiring pergeseran nilai dan masuknya budaya asing tanpa batas penghalang, orang tua dituntut untuk berperan ganda. Diantaranya menjadi orang tua, mentor, dan sahabat anak. Dengan memperkaya peran tersebut, orang tua diharapkan dapat membangun ikatan relasi yang lebih baik dengan anak.

Pendapat tersebut juga diamini oleh Aria. Ia mengatakan bahwa keluarga sebagai yang pertama dan utama, harus dapat menimbulkan perilaku baik dan teladan. Ia juga menekankan bahwa orang tua juga amat perlu untuk selalu mengupdate pengetahuan, sehingga tetap dapat mengawasi perkembangan anak.

Pola mendidik anak dan remaja juga berbeda. Hal ini diungkapkan Sudibyo karena masa remaja merupakan masa yang krusial, masa dimana sang anak sedang berusaha mencari jati diri. Dimasa ini pula Marti mengumpamakan, “Jika diibaratkan, mereka memang sudah balig, namun belum berakal (akil).” Untuk itu, perlu pendampingan ekstra dari orang tua.

Apa yang perlu ditanamkan orang tua kepada anak? Salah satunya adalah nilai kejujuran. Nyi Mas mengungkapkan bahwa anak akan melihat dan mengikuti tingkah laku orang tuanya. Hal mudahnya adalah saat orang tua menggunakan barang palsu. Maka di kesempatan mendatang, anak akan terbiasa membeli barang palsu.

“Orang tua harus membangun komunikasi dengan anak, bukan sekedar memberikan informasi,” ungkap Sumarti. Hal ini disetujui juga oleh Evi yang beranggapan bahwa hal tersebut hanya dapat terlaksana dengan komunikasi disertai bahasa tubuh dan ekspresi yang tepat dari orang tua kepada anak.

Di zaman yang serba digital ini, manusia selayaknya yang mengendalikan digitalisasi. Namun sebaliknya, yang memprihatinkan justru manusialah yang dikendalikan oleh digitalisasi. Jika anak dan remaja yang menjadi gandrung dengan screen time mereka, mungkin tidak mengherankan, karena untuk itulah mereka membutuhkan arahan orang tua. Tetapi ironisnya saat ini, justru orang tua yang notabene-nya dinilai sudah dewasa, yang tidak dapat membatasi kecanduan mereka terhadap aktivitas digital.

Dari diskusi ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa, mendidik anak pada zaman ini tidak hanya cukup memberikan kasih. Namun, orang tua harus selalu belajar memperbaharui informasi seputar pola asuh. Diantaranya: menjadwalkan waktu komunikasi dengan keluarga, membangun komunikasi yang berkualitas dengan anak, memberi teladan yang baik, dan mampu untuk berperan ganda.

 

Ikuti perbincangan parenting lainnya,

Hanya di Radio Heartline 100,6 FM!

Live streaming: www.heartline.co.id

Apps: heartline-karawaci


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Continue reading

Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST