Dimanakah Engkau?

Written by on January 4, 2019

Beberapa waktu lalu, Heartline Radio memutarkan drama radio berjudul “Dimanakah Engkau”, besutan Pdt. Jusak Widjaya yang dimainkan oleh Christian Drama Society. Drama radio ini menuai respon yang positif dari pendengar. Seorang pendengar menulis pesan komentarnya begini, “Drama yang mudah dimengerti tapi bermakna.” Ada juga yang menulis, “Betul-betul sangat memberkati. Setelah mendengarkan jadi kilas balik perbuatan selama ini yang pernah dilakukan, drama tersebut seperti menampar muka sendiri. Untungnya kita masih ada kesempatan untuk bisa memperbaiki diri sebelum Tuhan memanggil diri kita ke ruang tunggu persimpangan seperti di dalam drama tersebut. Terima kasih untuk drama pengingatnya.”

Drama radio “Dimanakah Engkau” yang disiarkan di radio dalam rangka Natal 2018 dan menyambut tahun baru 2019, terasa menjadi pesan yang tepat di waktu yang tepat. Pesan dari Drama ini sendiri adalah bahwa masuk surga dan neraka itu bukan seperti logika sederhana dan cara pikir manusia pada umumnya. Cara hidup beragama yang hanya puas pada kulit luarnya saja, tidak akan menjamin seseorang masuk surga. Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah gambaran orang-orang yang secara ritual menjalankan ibadah keagamaan; Ada seorang pengusaha yang menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk membangun rumah ibadah, Ada seorang aktivis gereja yang selalu berkecimpung dengan kesibukan semua kegiatan di sekitar altar, Ada seorang pendeta dengan kekayaan intelektual teologisnya. Ternyata tokoh-tokoh itu justru digambarkan tidak masuk surga!

Tentu, pesan drama radio “Dimanakah Engkau” ini menjadi penting kalau kita baca dalam konteks hiruk-pikuk cara beragama di masyarakat kita saat ini. Masih segar di ingatan kita, bagaimana kapling surga diperjual-belikan untuk mencari dukungan elektoral politik meraih kekuasaan. Jargon-jargon dan simbol-simbol agama menyesaki ruang publik kita untuk mengagitasi massa dan mengeksploitasi sentimen religius yang diarahkan untuk tujuan merebut kekuasaan. Kita menyaksikan bagaimana nilai keimanan yang begitu mendalam, tergerus dan menjadi dangkal karena religiusitas seseorang saat ini cukup dinilai dari baju gamis (fashion) yang ia pakai, penampilan luar dan gelar kepangkatan sebagai pemuka agama. Erosi pendangkalan ini lalu menyisakan kecongkakan rohani, perasaan paling unggul dalam level kerohanian, dan semangat permusuhan serta kebencian kepada yang berbeda.

Dimanakah Engkau” memang sebuah pertanyaan teologis, yang disampaikan Allah kepada Adam, saat manusia pertama ini jatuh dari dosa, dan setelahnya ia bersembunyi dari pencarian Allah. “Dimanakah Engkau” juga masih relevan sebagai sebuah pertanyaan yang menutup tahun lama 2018 dan membuka tahun baru 2019; sebagai sebuah gugatan pada kesadaran religius kita; apakah kita masih berada dalam radar pandangan kedalaman Allah yang penuh kasih, atau justru sedang bersembunyi dalam kedangkalan kehidupan keagamaan kita.

Dimanakah Engkau” adalah sebuah pertanyaan yang mengajak kita untuk menyelam ke palung kerohanian yang lebih dalam, seperti perintah Yesus kepada Petrus dan Para Murid-Nya, “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam.” (Duc in Altum). Supaya kehidupan religi kita tidak hanya berhenti pada simbol-simbol keagamaan, pada kulit luar praktek keagamaan, pada kesalehan yang nampak oleh orang lain, pada kegiatan rohani yang fenomenal, pada aksesori dari ritual iman.

Drama ini mau mengajak kita berpaling ke inti yang paling dalam (numena) dari sebuah praksis keagamaan, yakni bukan soal surga dan neraka. Iman itu bukan soal surga dan neraka! Iman itu soal hubungan, relasi (enggagement) Allah dan diriku. Inilah pesan kuat drama ini. Seberapa dekat aku berada dalam dekapan Allah; seberapa dekat hatiku bersentuhan dengan hati-Nya, dan seberapa dekat perilakuku menyerupai (imitatio) perilaku-Nya.

Jika demikian, untuk kondisi dan posisi saat ini, Heartliner……Dimanakah Engkau? (JM)


Current track

Title

Artist