GADGET MEMPERSATUKAN ORANG TUA DAN ANAK

Written by on August 20, 2018

Gadget dapat mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak. Baik dalam komunikasi atau melakukan hal-hal yang positif dan menghibur. (source pic: smartparenting.com.ph)

Untuk kesempatan kali ini, Jose Marwan, penyiar Heartline Radio melakukan perbincangan bersama salah satu pakar dalam dunia parenting di Indonesia, yaitu Claudia Inkiriwang. Pada tema kali ini lebih membicarakan tentang isu apa yang paling penting dan harus diperhatikan sebagai orang tua dalam proses parenting untuk mendampingi atau mendidik anak-anak selain itu membahas mengenai penggunaan gadget atau handphone untuk sebuah alat dalam berkomunikasi atau berinteraksi dan bagaimana dengan pembelajarannya.

Dilihat dari isu yang sekarang sedang hangat diperbincankan adalah mengenai kebiasaan atau perilaku anak-anak yang mulai berubah, begitu juga dengan pola parenting yang ikut beradaptasi atau berubah. Dengan mengikuti zaman, orang tua dan anak harus bisa beradaptasi dengan cepat supaya tidak terkejut dengan perkembangan zaman tersebut. Kadang dengan adanya perubahan itu, cara pandang orang lain memandang kita berubah, begitu pula sebaliknya, dan juga cara pandang terhadap diri kitu juga ikut berubah.

Dengan adanya perubahan zaman tersebut, seharusnya konsep parenting ikut berubah. Walaupun konsep berubah, prinsip dasarnya akan tetap sama tapi bagaimana cara orang tua tersebut menyesuaikannya dengan mengikuti zaman. Zaman sekarang sudah banyak anak menggukan gadget tapi orang tua kadang kala melarang anak itu untuk menggunakannya. Tetapi ada beberapa sumber yang mengatakan kalau anak yang tidak pernah menggunakan bahkan menyentuh gadget maka akan ada yang aneh untuk kedepannya, dan sulit untuk bersikap.

Claudia menyampaikan kalau gadget dalam bentuk apapun (seperti smartphone atau gadget atau berbagai bentuk yang lain, seperti jam tangan) juga mengikuti perkembangan zaman. Dengan menggunakan gadget juga sudah penuh dengan entertaiment atau hiburan. Gadget itu membuat orang menjadi kecanduan bahkan bisa disebut sebagai personalized entertainment yang berupa bermain games, memonton film, bahkan untuk berinteraksi juga sudah di dominasi oleh entertaiment, seperti menggunakan aplikasi obrolan. Tidak hanya itu juga, kadang kala orang yang menyebarkan hoax juga jadi senang karena dianggap tahu berita itu terlebih dahulu dan dianggap penting. Dengan adanya hal ini, dibalikan kembali ke bagaimana orang tua menyikapinya, apakah dilarang atau dibiarkan atau ada batasan waktu untuk menggunakannya.

Dikatakan bahwa untuk anak berusia  sekitar 0-6 tahun adalah usia di mana sang anak mulai belajar bagaimana cara menggunakan dan menyentuh barang yang ada disekitarnya, seperti menggunakan sendok atau garpu. Memegang gadget tidak dipermasalahkan, tapi dianjurkan kepada bagaimana anak-anak itu menggunakan barang-barang yang akan digunakannya untuk kehidupan sehari-hari dan untuk melatih atau mengasah sistem motoriknya dan kemampuan otaknya untuk bekerja. Karena ada beberapa anak yang otaknya belum berkembang dengan cepat.

Dalam kasus parenting itu sendiri bisa ditanyakan bagaimana kemampuan orang tua dalam mendalami atau memahami konsep parenting tersebut. Ada beberapa orang tua yang belum siap atau tidak mengerti bagaimana menjadi orang tua yang baik. Kadang kala ada orang tua yang suka menyalahkan, memarahi atau menyalurkan kekecewaan mengenai kehidupan atau apa yang sedang ditimpanya pada saat itu terhadap anaknya. Ada juga yang menghina atau mengkritik anaknya dengan tidak baik sehingga anak itu tidak memiliki komunikasi yang baik dengan orang di sekitarnya.

Dengan adanya kejadian itu, membuat anak-anak kadang lari dari masalah tersebut dan untuk menyelesaikannya. Dengan lari atau kabur suka membuat anak menjadi lebih tenang, tapi hal itu salah juga. Zaman sekarang hal itu sudah jarang ditemui, seperti anak lari dari rumah, tapi lebih kepada lari ke gadget mereka untuk menghibur diri mereka, seperti bermain game atau menonton film bahkan membuat video atau vlog, dan sebagainya.

parenting tidak hanya diajari di sekolah, tapi, bisa dicari atau dibaca-baca dalam buku atau internet. Orang tua suka malas untuk mencarinya dan hanya mengandalkan pelajaran yang ada di sekolah,” tegas Claudia.

Dengan perkembangan zaman, anak dan orang tua dapat melakukan kolaborasi dan mempersatukannya. Dengan ini orang tua juga bisa mengetahui apa yang disukai oleh anaknya dan apa yang mau dilakukan oleh anaknya itu. Seperti melakukan duet nyanyi atau membuat video, bahkan bermain game bersama, asalkan bisa mempererat ikatan.

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi


Current track
Title
Artist