Huru Hara Politik Identitas

Written by on November 6, 2018

Melihat Foto dari Kiri ke Kanan: Presenter Riama Silitonga (kiri), Tokoh Muda sekaligus Caleg Kabupaten Serang: Rendi Muhamad Yani, Musisi Adrian W.S, Ketua perkumpulan gerakan kebangsaan provinsi Banten: Muhamad Syamsul Hidayat, Demisioner Forum legislative mahasiswa sebanten: Hery Mufti, dan Presenter Dina Virgy (kanan), di Heartline Studio, Selasa (6/11).

Tepat seminggu yang lalu sejak calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melakukan pidato pada acara peresmian Kantor Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi di Boyolali yang akhirnya berbuntut panjang hingga kini.

“Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel (mewah) tersebut, kalau kalian masuk kalian pasti akan diusir karena bukan tampang orang kaya. Tampang kalian ya tampang-tampang Boyolali,” Kata Prabowo yang menimbulkan kekecewaan masyarakat Boyolali.

Meskipun Prabowo telah membuat klarifikasi dengan menyatakan bahwa itu hanyalah sebatas candaan. Namun, menurut Rendi pernyataan Prabowo menyinggung identitas masyarakat.

“Itu menunjukkan bahwa ada identitas yang disenggol, masyarakat Boyolali merasa identitasnya diusik. Sama halnya dengan kita bertemu dengan orang lain, kita menunjukkan identitas kita, asal kita. Misalnya orang sunda, batak, dan lainnya, dan semuanya itu punya karateristik yang berbeda. Orang sunda dengan batak berbeda, dan lainnya. Kan ada 1300 lebih suku di Indonesia, nah itulah identitas masyarakat Indonesia,” Kata Tokoh Muda sekaligus Caleg Kabupaten Serang, Rendi Muhamad Yani.

Pernyataan tersebut diungkapkan Rendi dalam program Coffee Morning dengan tema “Huru Hara Politik Identitas” bersama dengan Ketua Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Provinsi Banten: Muhamad Syamsul Hidayat dan Demisioner Forum Legislatif Mahasiswa Banten: Hery Mufti di Heartline Studio, Selasa (6/11).

Kondisi di masyarakat saat ini menjadi lebih rentan akan konflik SARA menjelang pemilihan tahun 2019. Rendi menganggap bahwa candaan yang dilakukan Prabowo sama dengan yang lainnya, namun dikarenakan sedang situasi menjelang tahun politik membuatnya menjadi huru hara.

“Ini sekedar candaan saat sedang melakukan pidato, cuma karena sekarang lagi kondisi yang dimana segala dikaitkan-kaitkan, dibuat gaduh dan ribut. Namun, lagi-lagi yang namanya telah mengusik identitas dan dikarenakan momentum menuju 2019. Indonesia sangat rentan konflik antar suku agama karena Indonesia ini sangat banyak suku dan budaya. Kalau kita lihat, pidato di Boyolali itu sebenarnya sama dengan lelucon yang ada, cuma sekarang lagi posisi pidato politik dan di dunia maya di besar-besarkan. Makanya jadi huru hara,” Lanjut Rendi.

Sependapat dengan penuturan Rendi, Menurut Syamsul, pasangan nomor urut 02 ini tidak bermaksud untuk mengecilkan masyarakat Boyolali. Namun, menurutnya dengan adanya peristiwa ini dapat menunjukkan adanya kemiskinan dan ketimpangan sosial di Boyolali.

“Saya menilai peristiwa Boyolali kemarin itu, saya percaya bahwa pasangan nomor urut dua ini tidak ada maksud sedikitpun untuk mengecilkan orang Boyolali apalagi sampai menunjukkan adanya penghinaan ataupun sebagainya. Tapi kalau kita tinjau lebih lanjut, peristiwa ini menunjukkan bahwa adanya masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial di Boyolali,” Tutur Syamsul.

Lain halnya dengan Syamsul, menurut Hery, seharusnya dapat lebih membahas mengenai masalah substansial seperti ekonomi, politik, dan lainnya dibandingkan membahas mengenai “muka”.

“Kalau padangan saya pribadi, itu tergantung kita melihat dari perspektif yang mana. Tapi paling tidak, melihat kasus Boyolali kemarin bahwa itu jelas politik identitasnya terasa, seharusnya kita berbicara mengenai ekonomi, politik, dan lainnya,” Ujar Hery.

Lebih lanjut, menurutnya dengan adanya peristiwa ini memberikan dampak yang bukan hanya pada kalangan politik saja, namun juga generasi milenial.

Statement Prabowo kan menyatakan bahwa ia cuma guyon, Cuma ini karena tahun-tahun politik, maka pihak A, pihak B memanfaatkan momen ini. Sebenarnya yang menjadi rugi bukan hanya kalangan politik saja, tapi generasi milenial seperti kita hari ini yang memandang itu adalah benar. Ini yang mengkhawatirkan bagi kaum milenial menjadi terpecah belah. Karena yang seharusnya bagian substansial dibicarakan, tapi malah membahas mengenai muka, tampang. Kita sebagai kaum milenial harus pintar mencerna informasi yang ada di media,” Tutup Hery.

Acara yang berlangsung selama satu jam dan dibawakan oleh Riama Silitonga dan Dina Virgy ini, juga menampilkan musisi Adrian W.S dengan membawakan 3 buah lagu yaitu Kontaminasi Maya, Inilah Aku, dan menyanyikan lagu milik Ismail Marzuki yang berjudul Payung Fantasi.

 

Penulis: Verren Wijaya

full


Current track
Title
Artist