Imlek dalam Kebhinekaan

Written by on January 29, 2019

Tahun baru China 2570 sudah tinggal menghitung hari. Aroma Imlek sudah terasa di beberapa tempat, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan. Semarak menyambuk Tahun Babi Tanah begitu terasa, tidak hanya di komunitas Tionghoa, namun juga di komunitas lainnya.

Bisa merayakan Imlek dengan perasaan merdeka, tentu tidak pernah terbayangkan 20-an tahun yang lalu, saat Rezim Orde Baru masih berkuasa. Saat itu Warga Keturunan Tionghoa sangat direpresi dengan berbagai peraturan yang mengekang ekspresi budaya dan ekspresi politik mereka. Misalnya aturan bahwa Warga Tionghoa tidak boleh menggunakan nama Thionghoa-nya. Mereka juga harus menanggalkan agama, kepercayaan dan adat-istiadat Tionghoa, termasuk bahasa dan kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari dan larangan merayakan tahun baru Imlek.

Adalah jasa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967 yang diskriminatif tersebut dan meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif pada tahun 2000. Baru pada tahun 2002, Imlek, oleh Presiden Megawati, diresmikan sebagai hari libur nasional dan mulai berlaku 2003.

Akar Kebencian Terhadap Orang Tionghoa

Warga Tionghoa di Indonesia, sepertinya tidak pernah terlepas dari turbulensi kehidupan sosial dan politik di negeri ini. Mereka sering terseret dalam konflik rasial yang membawa korban dan luka yang mendalam. Sebuah penelitian berjudul “Political Institutions and Ethic Chinese Identity in Indonesia” yang dilakukan oleh Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa kebencian kepada warga Tionghoa di Indonesia sebagai dampak dari politik pecah-belah Soeharto, dimana Presiden terlama di Indonesia ini memaksa warga Tionghoa untuk berasimilasi sekaligus mengidentifikasikan mereka sebagai pribumi, dan menghapus jejak kultural mereka.

Namun, studi yang lebih jauh dilakukan oleh Susan Blackburn dalam bukunya “Jakarta: Sejarah 400 Tahun”, dimana disimpulkan bahwa relasi warga Tionghoa memburuk dengan kelompok penduduk setempat setelah kedatangan VOC yang memanfaatkan warga Tionghoa untuk kepentingan bisnis kolonial. Relasi yang memburuk ini memuncak pada peristiwa “Geger Pecinan”, dimana terjadi penjarahan, pembakaran ribuan rumah dan pembunuhan terhadap warga Tionghoa.

Mengakhiri Politik Identitas

Masih maraknya intoleransi, diskriminasi SARA dan politik identitas di negeri ini, membuat kita semua prihatin. Heartline Coffee Morning edisi hari ini (29/1) mengangkat topik “Imlek dalam Kebhinekaan”, yang menghadirkan narasumber Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka (Mantan Jurnalis TV), Ir. Azmi Abubakar (Pemilik & Pengelola Museum Pustaka Peranakan Tionghoa), serta Jimmy Tunggadjaja (Pengusaha).

Menurut Isyana,  tantangan bangsa kita saat ini semakin besar karena makin maraknya gerakan intoleransi. Padahal, menurut perempuan yang lahir di tahun 1980 ini, Para pendiri bangsa ini sepakat, Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, tetapi dibangun di atas keberagaman. “Ini Given. Inilah Indonesia. Saya berasal dari keluarga yang sangat majemuk. Dari situlah saya tidak ingin melihat anak-anak saya, dan generasi muda nantinya hidup di Indonesia yang tidak lagi majemuk dan harus merahasiakan identitasnya. Saya bermimpi agar mereka saat menduduki sebuah jabatan tidak ditanya apa sukumu, apa agamamu dan apa rasmu, tapi saya bermimpi mereka menduduki jabatan karena memang mereka punya kemampuan, punya kapasitas dan punya karakter.

Sementara itu, menurut Azmi Abubakar yang mengoleksi lebih dari 35.000 sumber dokumentasi dan pustaka seputar sejarah warga Tionghoa mengatakan, “Selama ini banyak kontribusi warga Tionghoa untuk bangsa Indonesia yang disembunyikan, bahkan cenderung dilenyapkan. Padahal kontribusi warga Tionghoa sangatlah besar mulai dari Pendidikan, Kebudayaan, Perjuangan Kemerdekaan, sampai kehidupan ekonomi.

Kegembiraan merayakan Imlek, sangat disyukuri oleh Jimmy Tunggadjaja, sebagai warga Keturunan Tionghoa yang merasakan bagaimana dulu penuh pengekangan dari Rezim Penguasa, dibandingkan sekarang, ada kemerdekaan mengekspresikan kebudayaannya. Identitas tidak lagi dipolitisasi, tetapi dijadikan aset, sumber daya, energi bagi kekuatan bangsa yang beragam ini.

Bukankah ini yang harus kita rawat? (JM)

 


Continue reading

Current track

Title

Artist