Ini Cerita Tim Heartline Peduli di Kota Palu!

Written by on October 5, 2018

Ini adalah catatan perjalanan Tim Heartline Peduli dan First Response Indonesia membantu korban bencana Palu – Donggala, Sulawesi Tengah.

Tim Heartline Peduli dan First Response Indonesia (FRI), akhirnya pada Jumat (5/10) bisa masuk ke zona bencana Kota Palu, setelah melalui berbagai rintangan. Akses masuk ke Kota Palu memang belum pulih.

Perjalanan kami tempuh dari Jakarta menuju Kota Makasar pada Kamis (4/10). Ternyata penerbangan Makasar ke Palu cukup padat, sehingga kami memutuskan untuk mencari jalur penerbangan dari Makasar – Balikpapan – Palu. Kami akhirnya mendapatkan tiket Sriwijaya Air ke Kota Balikpapan dan dari sana kami naik pesawat Nam Air yang menerbangkan tim menuju Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Kota Palu. Tim Heartline Peduli dan FRI menginjakkan kaki di Kota Palu sekitar pukul 19.30 WITA. Kota Palu saat dilihat dari atas pesawat, sebagian besar sudah mulai terang, meskipun di beberapa area masih terlihat gelap, belum ada penerangan listrik. Tentara terlihat berjaga-jaga di Bandar Udara dan terlihat tumpukan bantuan di area kargo. Kondisi Bandar Udara sendiri masih terlihat rusak parah. Plafon-plafon dan beberapa konstruksi bangunan rusak, demikian juga air toilet yang belum berfungsi. Semua aktivitas dilakukan di luar gedung. Terlihat beberapa pekerja melakukan pembenahan di dalam.

Ketika kami mendarat, ternyata barang-barang bagasi kami tidak turut serta mendarat. Padahal barang-barang tersebut adalah seperangkat stasiun radio darurat yang akan kami dirikan untuk membantu mendistribusikan informasi ke para pengungsi. Termasuk di dalamnya juga tas crew Heartline dan First Response Indonesia, dimana di dalamnya ada segala keperluan pribadi. Selidik punya selidik, ternyata ada begitu banyak barang yang menumpuk di Balikpapan sehingga tidak mampu diangkut sepenuhnya hanya dengan menggunakan pesawat kecil. Barang-barang tersebut akan sampai besok harinya. Memang Bandara Mutiara Sis Al Jufri sendiri, landasannya masih rusak dan informasi yang kami terima, membutuhkan sekitar 6 bulan untuk perbaikan.

Kami sempat bertemu dengan seorang kawan jurnalis Jakarta Post di Bandara, yang memberikan kami saran untuk meminta makanan kepada bapak-bapak tentara yang ada di lokasi, karena di luar sulit untuk mendapatkan makanan. Kamipun meminta makanan ke Bapak-Bapak tentara dan diberikan nasi kotak yang berisi nasi, ayam dan telur serta sambal. Kami merasa bersyukur bisa mendapatkan makanan sehingga bisa sedikit mengganjal perut kami yang sedikit kelaparan.  

Kami dijemput oleh seorang kawan dari Tagana Rajawali yang sudah berada di lokasi bencana sejak minggu kemarin. Kami dijemput menggunakan mobil BNPB dan didrop di Markas mereka yang sekaligus juga menjadi dapur umum, di halaman Kantor Dinas Kesehatan, Provinsi Sulawesi Tengah. Di sepanjang perjalanan dari Bandara ke markas Tagana, kami melihat kota Palu yang masih mencekam. Jalanan terlihat sepi meskipun penerangan listrik sudah ada secukupnya. Beberapa rumah terlihat tak berpenghuni. Tidak ada toko yang buka. Kami mendengar cerita sepanjang perjalanan tentang aksi penjarahan yang pernah terjadi dan ketegasan aparat untuk membuat efek jera.

Selanjutnya kami berkoordinasi dengan teman-teman radio lokal dari Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Kami dibawa ke studio Radio Nebula 101.0 FM Palu dan berdiskusi dengan salah satu crew. Kami melihat situasi radio yang belum mengudara karena ada kerusakan teknis akibat goyangan gempa yang begitu besar. Informasi yang kami dapatkan, ada sekitar 20-an radio swasta di Palu yang hingga sekarang masih dalam kondisi mati. Ada berbagai faktor, karena tidak ada aliran listrik, gedung dan peralatan teknis yang rusak, crew yang menjadi korban dan lain sebagainya.

Selain dengan Radio Nebula, kami juga berkoordinasi dengan teman-teman dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) yang markas mereka juga bersebelahan dengan Radio Nebula FM.  

Tim Heartline Peduli dan First Response Indonesia, akhirnya memutuskan untuk beristirahat malam bersama dengan teman-teman wartawan dalam negeri dan luar negeri, di halaman Radio Nebula. Ini malam pertama tidur di Kota Palu yang sedang berduka, dengan melihat langit di atas sana. Langit sedikit terlihat terang, meski masih ada mendung. Semoga ini pertanda baik, meskipun ada mendung duka cita di Kota ini, tetapi tetap ada cahaya harapan untuk bangkit lagi. Kami berdoa semoga kondisi ini segera berlalu dan kehidupan masyarakat bisa berjalan normal kembali. (Jose)


Current track
Title
Artist