Heartline Network

Kehati-hatian di Jalanan

Kita yang hidup di kota-kota besar, mungkin akan menghabiskan sepertiga waktu kita berada di atas kendaraan karena belitan kemacetan yang semakin mengerikan. Laju penambahan jumlah kendaraan tak sebanding dengan laju pembangunan jumlah jalan. Kota seperti Jakarta, menurut laporan dari pabrikan GPS TomTom, menempati urutan ke-4 sebagai kota dengan tingkat kemacetan terburuk di dunia. Ketika pagi, kemacetan di Jakarta bisa mencapai 63%, sementara kalau menjelang malam mencapai 95%. Menurut pakar lalu lintas, Nick Cohn, Jakarta telah menjadi korban atas kesuksesannya sendiri. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan melonjaknya populasi penduduk, menyebabkan lebih besar arus lalu lintas dan tingginya perpindahan dan pergerakan orang di dalam kota.

Hidup kita semakin hari semakin banyak di jalanan. Jalanan membesarkan setiap warga kotanya. Namun, semakin lama kita menghabiskan waktu di jalan, sesungguhnya resiko kematian juga semakin membesar.

Catatan dari seluruh penjuru negeri ini, pembunuh nomor satu warga negeri ini bukanlah serangan penyakit, tetapi kecelakaan tragis di jalanan. Silahkan cari berita, setiap hari senantiasa ada berita orang celaka di jalan. Berdasarkan data Polri, jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia beberapa waktu lalu sebanyak 99 ribuan kejadian dengan korban meninggal dunia sebanyak 27 ribuan jiwa. Dari rincian tersebut berarti setiap hari terdapat rata-rata 72 korban tewas karena kecelakaan lalu lintas.

Data ini cukup besar, apalagi kebanyakan yang meninggal dalam kecelakaan ternyata didominasi oleh kelompok produktif, dengan rentang usia antara 16 sampai 30 tahun.  Akibat masifnya kecelakaan lalu lintas ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam rilisnya The Global Report on Road Safety, menempatkan Indonesia di urutan pertama dengan angka kematian kecelakaan tertinggi di dunia, yakni dari 180 negara yang disurvei.

Memang, sebagai masyarakat religius, kematian adalah rahasia Tuhan, kita manusia tak pernah tahu, kapan, dimana dan dengan cara apa hidup kita akan berakhir. Karena itulah, banyak orang menyebut hidup ini adalah sebuah ironi. Achmad Charris Zubair, dalam bukunya berjudul “Refleksi tentang Kematian” mengatakan bahwa manusia sebenarnya tidak pernah meminta agar dia dilahirkan. Tetapi begitu dia lahir dan mencintai hidup dan kehidupannya, dia dihadapkan pada realitas yang sangat menyakitkan hatinya. Manusia dihadapkan pada kematiannya, dihadapkan pada batas akhir hidupnya, yang senang atau tidak senang harus dijalaninya, sebagaimana kelahirannya sendiri.

Bila ditelusuri lebih jauh sesungguhnya kematian merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami dan merasakan kematian, karena mati telah menjadi pasangan bagi hidup; setiap orang yang lahir, ia sudah lahir bersama kematiannya juga. Tetapi kita memang tidak pernah bisa menentukan sebuah kepastian, kapan kematian itu akan datang. Kematian datang menghampiri kita bagaikan seorang pencuri, menyelinap masuk lalu membawa roh kehidupan kita dengan meninggalkan jasad tak berdaya.

Hari ini kita tidak fokus berbicara tentang kematian, kita akan berbicara tentang safety riding, bagaimana kita sebaiknya mempersiapkan diri sebelum mengendarai kendaraan bermotor, agar selamat di perjalanan. Nah, dengan menyinggung fakta bahwa kematian terbesar di Indonesia ini disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, maka mau tidak mau kita akan menyinggung tentang resiko kematian itu sendiri.

Tapi tak apa juga membicarakan kematian, meski beberapa adat melarangnya. Dalam bukunya “On Death and Dying”, Elisabeth Kubler-Ross menyatakan bahwa, berpikir tentang kematian dan mendiskusikannya secara serius justru akan memunculkan kebijaksanaan kita bersama, baik dari segi psikologis maupun spiritual. Senada dengan hal itu, filsuf Miguel de Unamuno mengatakan bahwa, kesadaran akan kematian membawa manusia dan individu-individu menjadi matang secara kerohanian.

Harapan kita seperti itu, dengan melihat resiko kematian dalam berkendara, kiranya kita menjadi semakin bijak pada saat memegang kemudi kendaraan. Lakukan persiapan yang terbaik untuk kondisi fisik dan mental serta kelayakan kendaraan. Bangun kesabaran di jalanan dan kembangkan sifat kehati-hatian. Dan tentu saja, berdoa sebelum dan sesudah berkendara; menyertakan Tuhan dalam setiap perjalanan.

 

Penulis: Jose-Yusuf Marwoto

 


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...