Heartline Network

Jangan Pernah Terulang Lagi

Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari Rabu malam, tanggal 24 Mei 2017 kemarin, teror bom kembali mengoyak kita. Kali ini terjadi di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur yang berakibat tiga orang anggota Polri gugur dan dua orang yang diduga pelaku tewas, 10 orang lainnya luka-luka.

Teror bagaimanapun musuh semua orang. Vladimir Putin menulis, “Terorisme tidak memiliki kebangsaan dan agama.” Jadi kami menguatkan pesan kembali, sebuah kesalahan jika kita mengaitkan tindakan-tindakan teror seperti ini dengan suatu agama atau golongan. Teror musuh kita bersama!

Teror bom yang ke sekian kalinya mendera Indonesia ini adalah bentuk dari kebiadaban dan menistakan nilai-nilai kemanusiaan. Bom yang mengguncang Kampung Melayu, hanya berselang dua hari pasca bom yang meledak di Manchester Inggris yang menewaskan 22 orang, juga bom di Bangkok yang melukai 24 orang, dan serangan ISIS di Marawi Philipina bagian selatan. Apakah semuanya ada kaitannya, itu urusan polisi untuk mendedah lebih dalam.

Urusan kita hari ini adalah; bagaimana kita semestinya merespon kekerasan radikal di depan mata kita ini. Respon kita akan memberi dampak pada peristiwa teror itu sendiri. Kita senang, beberapa saat setelah bom meledak, para warga netizen segera membuat pesan berantai agar tidak memposting gambar-gambar korban yang terlihat vulgar. Gerakan sadar kolektif ini menjadi kekuatan yang membendung aksi teror tidak meneror.

Salman Rushdie dalam tulisannya berkata, “Bagaimana Anda merespon terorisme? Respon yang paling tepat adalah jangan terteror.” Ada banyak eflyer yang beredar di sosial media, tentang bagaimana mengajak anak-anak kita menyikapi aksi teror sehingga mereka tidak merasa terteror. Jika kita semua merasa tidak terteror, maka teror itu sendiri kehilangan daya magisnya.

Selanjutnya, pertanyaan yang lebih dalam harus kita ajukan agar bisa mengenyahkan teror dari bumi Nusantara yang cinta damai ini. Pertanyaannya adalah, “Apa sih yang menjadi akar dari teror itu?” Menurut George Simmel, fenomena kekerasan massa dan teror adalah wujud dari heterofobia (takut kepada ‘yang lain’). Orang atau kelompok yang sedang merancang atau melakukan aksi bom bunuh diri, justru kelompok atau orang yang batinnya dilanda ketakutan. Ketakutan terhadap apa? Ketakutan terhadap orang lain yang berbeda, dalam diskursus biasanya dipakai istilah “yang lain”, terjemahan dari kata “The Others” - Inggris, “Das Andere” – Jerman, dan “l’ autri” – Perancis. Para peneror adalah orang-orang yang takut untuk berhubungan dan berkomunitas secara wajar dengan orang lain yang memiliki perbedaan yang ekstrem, sehingga mau memusnahkan mereka dengan menghalalkan segala cara. Yang lain ini dianggap berbahaya dan harus diberangus.

Anak haram demokrasi adalah teror. Demokrasi mengajarkan kepada kita untuk memberi ruang kepada perbedaan, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai meski tak sama. Tetapi teror, lahir dari ketakutan akan demokrasi; sebuah gerakan untuk membinasakan yang berbeda.  

Kita harus percaya dengan kekuatan solidaritas lintas suku, agama, ras, bisa mengenyahkan teror dari muka bumi pertiwi. Pada monumen utama yang didirikan setelah Perang Dunia II di bekas kamp konsentrasi pertama Hitler tertulis “Nie Wieder”, yang artinya “jangan pernah terulang lagi”. Itulah sebabnya, teror harus kita lawan bersama-sama; agar tidak terulang kembali.

 Penulis: Jose – Yusuf Marwoto


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...