Heartline Network

Pengendalian Diri

“Apa sih yang paling susah dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan hidupnya,” tanya seorang murid kepada gurunya.

“Pengendalian diri,” jawab sang guru.

Murid itu bertanya lagi, “Lantas apa jalan terbaik untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup.”

“Pengendalian diri,” kata sang guru.

Dari semua keutamaan agung, pengendalian diri adalah keutamaan pertama dan utama. Mengendalikan diri berarti diri kita yang mengendalikan, bukan orang lain atau sesuatu di luar diri kita yang mengendalikan. Mengendalikan apa? Mengendalikan hidup kita: Keputusan yang akan kita buat, perasaan yang ada di hati kita, pemikiran yang di kepala kita. Apa jadinya kalau hidup kita banyak dikendalikan oleh orang lain atau sesuatu di luar diri kita, kita akan kehilangan kendali. Hidup kita akan seperti daun yang lepas dari ranting, dan melayang-layang tak tentu arah, hingga jatuh terjerembab di antah berantah.

Namun berita buruknya, hidup kita ini sebagian besar dikendalikan oleh pihak lain. Kita dengan suka rela menyerahkan stir, kendali hidup kita, kepada orang lain. Membiarkan mereka memutuskan apa yang terbaik untuk kita. Kita menikmati terpenjara dan terbelenggu.

Seorang penulis menggambarkan kehidupan manusia itu seperti topeng monyet. Layaknya topeng monyet, lehernya diikat dengan sebuah tali yang ujungnya dipegang oleh sang pawang. Saat sang pawang menarik tali ke kanan, monyet itu bergerak ke kanan. Saat tali ditarik ke kiri, monyet itu bergerak ke kiri. Demikian seterusnya, kemana tali ditarik, kesitulah monyet bergerak. Penulis ini lantas bertanya, “Bukankah demikian juga kehidupan kita. Saat ada orang yang menarik kita ke belantara amarah, kita dengan ikhlas menjadi marah. Saat ada orang yang menarik kita ke lubang cemburu, kita dengan sukarela menjadi cemburu. Saat ada orang menarik kita ke jurang benci, kita dengan mudah terbakar kebencian. Jika level kita masih seperti ini, kata penulis itu, kita masih seperti topeng monyet, bukan seperti manusia.

Ciri manusia unggul adalah yang mempunyai keutamaan pengendalian diri, otonom. Diri kitalah sang pengendali. Meski orang memprovokasi kita, kita tersenyum. Orang lain menginjak-injak harga diri kita, kita tertawa. Orang lain mencoreng nama baik kita, kita bisa mengatakan, oh baiklah, baiklah. Orang lain berbuat jahat dengan kita, kita sudah mengampuni tanpa menunggu orangnya merunduk-runduk minta ampun. Bukankah ini wujud pengendalian diri yang menghasilkan tunas-tunas cinta, yang memekarkan aroma kasih yang harum mewangi.

Ada seorang bertanya, apakah kasih itu? Kasih itu seperti matahari, yang memberi cahaya bagi orang yang rajin berdoa dan yang malas berdoa. Kasih itu seperti hujan yang menjatuhkan dirinya di pekarangan orang baik dan orang jahat. Masih kurang? Kasih itu seperti pohon harum yang merelakan dirinya ditebang oleh sebuah kapak yang tajam untuk kebutuhan orang lain, bahkan bau harum pohon itu masih melekat dengan wangi di bagian-bagian paling tajam dari kapak yang menebangnya.

Bulan puasa, selalu menjadi momen terindah dan terbaik untuk melatih pengendalian diri. Yang berpuasa mengendalikan dirinya atas nafsu yang bergelora atas kenikmatan. Begitu juga yang tidak berpuasa, juga mengendalikan diri untuk menghormati saudara-saudaranya sebangsa yang berpuasa. Kita pasang kendali dan kekang atas diri kita sendiri. Hanya dengan demikian, kita bisa hidup unggul. Siapapun yang bisa mengendalikan diri, dia bisa menguasai dirinya. Dan siapapun yang bisa menguasai dirinya, dia bisa dengan mudah menguasai dunia sekitarnya.

Penulis: Jose – Yusuf Marwoto

 


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...