Heartline Network

Permainan Bumerang

Setiap tanggal 30 Mei, yang jatuh tepat pada hari ini, Bangsa kita selalu memperingati Hari Memberi Nasional. Sungguh menarik, bahwa memberi mendapat sebuah tempat khusus dalam penanggalan nasional kita dan dijadikan tonggak untnuk diperingati. Kiranya hari memberi ini semakin relevan saat ini, karena selain berbarengan dengan bulan Suci Ramadhan, juga karena kecenderungan kita untuk semakin egois dan individualis.

 Coba kita renungkan, bukankah kita ini lebih banyak diajari tentang bagaimana caranya mencari, tetapi sangat sedikit belajar tentang bagaimana caranya memberi. Kita lebih banyak belajar bagaimana caranya mengumpulkan dan menumpuk, daripada melepaskan dan membagikan. Kekayaan lalu kita maknai dari seberapa banyak yang kita miliki, bukan dari seberapa banyak yang kita bagi.

Memberi tak hanya bernilai pada orang yang kita beri, tetapi juga bernilai bagi si pemberi. Dengan memberi, seseorang belajar banyak makna dalam kehidupannya, mulai dari kesempatan untuk mengamalkan ajaran agama sampai pada tataran yang lebih dalam, kesempatan untuk membangun keiklasan dan kemurnian hati.

 Seperti kita sadari, semua ajaran agama mengajak pengikutnya untuk memberikan apa yang kita miliki kepada mereka yang tidak memiliki. Dalam tradisi Yahudi ada istilah “tzedakah” yang sebenarnya agak mirip dengan istilah dalam ajaran Islam “sadaqah”. Keduanya mengandung makna yang hampir mirip, yakni bantuan kepada orang yang membutuhkan. Dalam Islam ada “zakat”, dimana orang yang memiliki kewajiban suci untuk menolong orang miskin, cacat, dan siapapun yang butuh pertolongan. Sementara itu orang-orang kristen didorong memberikan sepersepuluh dari penghasilannya untuk disumbangkan kepada sesama. Di ajaran Budha ada “Dana Paramita” dimana berderma tanpa pamrih akan membantu kita memiliki jiwa yang bebas dari iri dan dengki untuk mencapai pencerahan yang sempurna.

Memberi adalah esensi dari kehidupan yang agung ini. Alam bisa berjalan dengan sempurna karena segala unsurnya bergerak dengan saling memberi. Keharmonisan hidup yang kita sebut keseimbangan, hanya bisa kita singkap jika kita tak hanya memiliki kecakapan untuk mengumpulkan tetapi juga kemampuan untuk berbagi sebab dengan demikian kita selaras bergerak bersama alam dalam perayaan hidup untuk saling memberi.

Namun sesungguhnya, di level yang lebih dalam, bagi mereka-mereka yang sudah tercerahkan, mereka tidak mengenal istilah memberi. Mereka hanya menyalurkan apa yang mereka terima, sebab apa yang melekat pada diri mereka adalah semata-mata hadiah. Mereka mengatakan, “Jika hidup ini adalah pemberian Tuhan dimana segala sesuatu yang ada pada kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya, lalu apakah kita benar-benar memiliki sesuatu?”

Keiklasan dalam memberi, dimana ketika tangan kanan memberi tangan kiri jangan sampai tahu, adalah sebuah pengolahan diri untuk memurnikan hati. Ada seorang sahabat ketika melewati gerbang pintu tol, membayari mobil di belakangnya, meskipun ia tidak mengenal siapa pengemudinya. Atau seseorang seperti dikisahkan dalam novel “Robohnya Surau Kami”, mengapungkan kayu melalui sungai di malam hari supaya tidak ada orang yang tahu, karena ia ingin membantu menyumbangkan kayu miliknya untuk sebuah surau yang rusak parah, yang berdiri tepat di pinggir aliran sungai itu.

 Rahasia untuk bahagia dalam hidup bukan pada apa yang Anda cari, tapi pada apa yang Anda beri. Tetapi memberilah dengan penuh keikhlasan, bukan memberi dengan menanti balasan. Ada tertulis, jika kita melakukan segala yang baik dihadapan manusia dan Tuhan, tetapi dalam hati kecil kita sudah menanti sebuah balasan, maka pemberian itu sudah mendapat ganjarannya. Makna hidup yang terdalam, bukan pada apa yang kita beri kepada orang tetapi pada kemampuan kita untuk melupakan apa yang sudah kita beri kepada orang lain. Inilah yang disebut sebuah kesalehan yang tanpa nama. Apakah orang perlu tahu kebaikan yang kita lakukan? Seorang guru mengatakan, jika tangan kananmu berbuat baik, jangan sampai hal itu diketahui tangan kirimu. Jika kamu berdoa, masuk ke dalam kamar, kunci rapat-rapat, supaya tak ada yang mendengar. Jika kamu berpuasa, buat air mukamu cerah, sehingga tak ada yang tahu kalau kamu sedang melakukan sebuah kesalehan.

Ada begitu banyak kebaikan-kebaikan tak bernama, kesalehan-kesalehan yang anonim, yang terjadi sepanjang waktu dalam hidup kita kalau kita hadir dalam kehidupan sebagaimana kehidupan hadir dalam diri kita. Mereka-mereka ini seperti elang yang terbang di atas sebuah danau, yang tak peduli bagaimana rupa bayangannya dalam danau itu. Sama seperti halnya si danau, yang tak berhasrat memiliki bayangan si elang yang melintas di atasnya. Segala sesuatunya lewat, tak bernama. Seperti cahaya dalam kilat, sebentar dan abadi.

Hidup ini adalah permainan bumerang, Apa yang kita lepas, itulah yang akan kembali kepada kita. Lepaslah sebanyak-banyaknya, maka kita akan mendapatkan sebanyak-banyaknya.

Penulis: Jose – Yusuf Marwoto

 


Artikel Terkait

Permainan Bumerang

Setiap tanggal 30 Mei, yang jatuh tepat pada hari ini, Bangsa kita selalu memperingati Hari Memberi Nasional. Sungguh menarik, bahwa memberi mendapat sebuah tempat khusus dalam penanggalan nasional kita dan dijadikan tonggak untnuk diperingati. Kiranya hari memberi ini semakin relevan saat ini, k...

Pengendalian Diri

“Apa sih yang paling susah dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan hidupnya,” tanya seorang murid kepada gurunya.

“Pengendalian diri,” jawab sang guru.

Murid itu bertanya lagi, “Lantas apa jalan terbaik untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup.&rdquo...

No More Hiroshimas

Apa kesan anda bila mendengar kata “Hiroshima”? Orang akan segera menjawab, “Bom atom dahsyat dengan banyak sekali korban orang tak berdosa”.

Lebih dari itu, bagi yang tertarik lebih dalam, kota Hiroshima sering dikaitkan dengan kedahsyatan senjat...

Jangan Pernah Terulang Lagi

Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari Rabu malam, tanggal 24 Mei 2017 kemarin, teror bom kembali mengoyak kita. Kali ini terjadi di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur yang berakibat tiga orang anggota Polri gugur dan dua orang yang diduga pelaku tewas, 10 orang lainnya luka-luka.

Ter...

Kehati-hatian di Jalanan

Kita yang hidup di kota-kota besar, mungkin akan menghabiskan sepertiga waktu kita berada di atas kendaraan karena belitan kemacetan yang semakin mengerikan. Laju penambahan jumlah kendaraan tak sebanding dengan laju pembangunan jumlah jalan. Kota seperti Jakarta, menurut laporan dari pabrikan GP...