Heartline Network

Paksus Ndeso

Bagi yang belum tahu, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya PM Susbandono, dipanggil “Sus”.   Mereka yang lebih tua, memanggil Nak Sus atau Dik Sus. Yang sebaya memanggil Mas Sus.  Yang lebih muda, memanggil Om Sus. Teman yang akrab memanggil nama saja. Tidak ada yang istimewa dengan kenyataan ini.

Menjadi lain ketika terjadi pemelintiran nama.  Tentu dengan konteks bercanda dan guyonan yang paling pas adalah bila ia lucu, aneh, dan relevan dengan situasi yang terjadi di masyarakat.

Sekian puluh tahun lalu di Bandung, Toko Roti Merdeka sedang happening. Produk terkenal mereka adalah kue sus Merdeka (Berasal dari Bahasa Belanda, Soes). Yang ini tidak ada hubungan kekerabatan, meski saya “kena getahnya”.

Jadilah saya dipanggil “Kue Sus”. Tak masalah, malahan menambah ketenaran saya kala itu.  Dan bukankah kue sus Merdeka sangat  yummy dan meresap di lidah penyantapnya?

Begitulah panggilan saya berubah-ubah, seiring situasi yang sedang laris. Tahun 2005 an, beberapa teman memanggil saya Den Sus (atau Densus).  Ini gara-gara baru dibentuk pasukan khusus di lingkungan POLRI, yang berfungsi sebagai penanggulangan terorisme.

Pasukan itu diberi nama Detasemen Khusus 88, atau Densus 88. Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti-Terrorism Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi  Ei Ti Ekt.  Pelafalan ini kedengaran seperti  Eighty Eight  (88). Jadi, bukan representasi dari gambar borgol.

Ada 2 keuntungan yang saya petik ketika saya dijuluki “Den Sus”.  Pertama, dalam tradisi Jawa, panggilan “den” (berasal dari kata “raden”) adalah suatu kehormatan. “Den Sus” menempatkan saya seperti ningrat yang layak dihormati.

Kedua, prestasi Densus 88 yang  moncer dan pantas diacungi jempol, membuat saya ikut terkatrol.  Bila dianggap pencapaian saya sama dengan Densus 88, tentu layak mendapat promosi khusus.  Julukan itu pudar, berbarengan dengan redupnya berita tentang terorisme, kala itu.

Yang paling celaka ketika “sus” dikonotasikan oleh teman-teman sebagai penggalan kata yang berasal dari Bahasa Inggris, “suspect”.  Konon, kata ini merupakan sifat tercela.  “The word sus is meant to suggest that someone is believed to be shady or false”.

Untung, tidak banyak teman yang  paham arti  “sus” dalam Bahasa Inggris.  Julukan itu hilang tergerus waktu.  Meski guyon, tidak ada orang yang nyaman mendapat alias “tercela” atau “curang” atau “tidak jujur” bukan?

Kue, Den atau  Sus(pect) tidak mengganggu.  Tapi, julukan (yang sedang “in” ) ini membuat saya benar-benar galau. Tak nyaman, karena orang menghubungkannya dengan hal yang negatif dan kontra produktif. Kalau sedang dianggap mempunyai sifat tercela seperti oportunis, ngeles, defensif (karena ketahuan belangnya), atau ngelaba, beberapa teman memanggil saya “Pan Sus”.

Entah dari mana mereka mengambil istilah itu, tetapi saya sulit menolaknya. Yang saya baca di media sosial, Pan Sus (atau pansus) adalah kumpulan mereka yang sedang membela dirinya dan atau teman-temannya yang nasibnya di ujung tanduk karena diincar hamba wet.  Gawat bukan? 

Belum selesai.  Di beberapa kesempatan, kata "Pan Sus" mendapat tambahan “ndeso”.  Jadi, lengkapnya menjadi  “Pan Sus  ndeso”. Meski sebagian (besar atau kecil)  julukan itu  benar adanya, tapi saya bersikukuh menampiknya.

Seorang kawan yang cukup paham budaya dan bahasa Jawa memberi nasehat sekenanya.  Mungkin sekedar menghibur hati ini yang semakin dalam terjerembab dalam kegalauan.

Ucapan   ndeso (seperti juga “diancuk” di Jawa Timur) bukanlah ungkapan permusuhan.  Ia justru simbol persahabatan dan keakraban.  Seseorang tak mungkin menyebut temannya  ndeso  bila mereka bukan sahabat dan tidak akrab.  

Itulah, sering terdengar kalimat :  “Diancuk, kon saiki wis sugih ya” (Sekarang kamu sudah kaya ya) atau  “Lha montore anyar meneh, dasar ndeso” (Mobilnya baru lagi).  Biasanya diucapkan dengan nada tinggi tapi penuh canda.

Spirit dari nasehat itu adalah: "Bumi sudah semakin lelah, dengan banyak (sekali) masalah. Jangan malah menambah susah, tetapi buatlah menjadi lebih indah, maka  ndeso (dan juga diancuk) terdengar menjadi semakin ramah”

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono 

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...