Heartline Network

Rise of The Warrior Apes

Itu film yang saya tonton di Animal Planet, minggu lalu. Berkisah tentang segerombolan simpanse.  Kali ini Animal Planet menyajikan film panjang, berdurasi lebih dari 2 jam.

Panjang, karena film dibuat sejak 1993, selama 23 tahun oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin Profesor John Mitani,  behavioral ecologist, dari University of Michigan. Film true story yang menjadikan ratusan binatang liar sebagai aktor, dalam kurun waktu yang panjang, di lokasi asli mereka, di tengah hutan belantara Afrika yang perawan.

Profesor Mitani membuat  penelitian terhadap sekelompok simpanse, di Ngogo, Kibale National Park, Uganda. Kelompok yang terdiri dari  142 ekor simpanse (biasanya hanya berkelompok 40 – 50 ekor), kemudian melonjak drastis mencapai 200 ekor saat film ditayangkan (2017). Mereka hidup di area seluas 30 kilometer persegi dan meluas nyaris 2 kali lipat akibat perilaku invasif yang mereka tunjukkan.

Apa yang istimewa dengan simpanse? (Professor Mitani juga melakukan research  terhadap gibons, orang utan, gorila dan bonobo). Jawabannya menjadi diskusi yang menarik.

Penelitian lain (1970-an) lebih mengagetkan. DNA simpanse 98.8% identik dengan manusia. Simpanse adalah binatang yang paling “mirip” dengan manusia. Lantas, apa implikasinya?

Film itu menjadi hidup, seakan melihat kita sendiri, atau paling tidak saya.  Sering tercuri tayang, sorot mata dan mimik simpanse yang sulit dibedakan dengan manusia. Tatapannya bukan “binatang”, tapi lebih manusia. Itu yang kemudian melahirkan 4 ciri, yang disorot Profesor Mitani, menambah valid kemiripan simpanse dengan manusia. 

Pertama adalah  moral ambiguity.  Ambiguitas (keragu-raguan) moral simpanse sering membuat penonton seakan berdiri di depan cermin. 

Keputusan Hare sebagai pemimpin kelompok, (Dijabat oleh simpanse jantan yang secara fisik kuat.  Biasa disebut sebagai  “alpha male”) kerap didasarkan pada sesuatu yang ambigu, bila dilihat dari perspektif moral.  Values ditekuk-tekuk dan diplintir,  saat sedang dalam posisi kritis dalam membuat keputusan. Hare layaknya seorang manusia yang sedang menerapkan aspek moral  dalam kepemimpinannya. "Anak buah (baca : rakyat)  jangan melakukannya, asal bukan saya". 

Kedua,  questionable politics.  Faktor yang membuat film ini menjadi sangat relevan dengan kondisi masyarakat kini.  Politik menghalalkan cara  dilakukan tidak hanya oleh Hare, tetapi juga oleh para “pejabat” lainnya dan  successors-nya.  Pergantian kepemimpinan ditandai penuh intrik, politicking dan acap diwarnai kekerasan, yang membuat penonton menyimpan tanda tanya besar.  Bagaimana mungkin simpanse mampu berperilaku meniru manusia?

Ketiga, strategic alliances.  Simpanse mampu menjalin aliansi “strategis” untuk mencapai tujuan yang lebih besar di masa mendatang.  Bartrok, simpanse jantan lainnya, begitu  bokis menggalang koalisi dengan grupnya,  yang kemudian diketahui untuk merebut posisi yang dipegang Hare. 

Moral,  values dan norma menjadi nomor sekian, ditinggalkan oleh Bartrok ketika kekuasaan menjadi iming-iming untuk diraih. Akhirnya, Hare harus bertekuk lutut karena kalah bertanding fisik. Bartrok menjadi simpanse nomor 1. Ajaib, sama seperti perilaku politik manusia, pengikut Hare yang semula loyal dalam sekejab berbalik arah melawannya, saat bos mereka berada di ambang kekalahan.

Dari perspektif lain, aliansi digalang oleh sang pemimpin ketika berniat melawan serbuan musuh dari luar atau berburu mangsa untuk bahan makanan.  Bujuk rayu menjadi senjata untuk menggalang simpati yang pada akhirnya menjadi kekuatan politis yang berorientasi pada kekuasaan.

Keempat,  destroyed trust.  Ini membuat saya tersenyum kecut saat menyaksikan bagaimana simpanse saling merusak kepercayaan yang dibangun dengan susah payah.  Persis seperti yang sering terlihat di layar TV hari-hari ini, persahabatan antar simpanse berantakan karena kepentingan sesaat.  “Kebenaran” menjadi nisbi, tergantung kepentingan, yang juga bisa berubah-ubah seketika.

Meski DNA manusia mirip simpanse, bukan berarti sama persis.  Ada celah  (meski sangat kecil) yang membedakan kita dengan mereka.

Apakah kita mau menyerah “kalah” dan bermain aman di ranah 98.8%, atau memilih menggunakan peluang yang  1.2%. 

Pasti, kita bukan simpanse.  Kita manusia, diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna dibanding simpanse sekali pun. 

Pilihan itu ada di tangan kita.  

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono 

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...