Heartline Network

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling benci harga properti di Indonesia karena tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan.  Rumah di Kemang bisa lebih mahal daripada rumah di Beverly Hills. Nggak  masuk akal, menurut saya," dikutip dari laman  Tribunnews.com (13/07/ 2017).

Sophie menganggap harga properti di Indonesia sangat mahal, sampai level yang tidak masuk akal.  Terjadi penggelembungan yang dilakukan oleh  developer   dan jaringan penjual properti, hingga harganya (sangat) tinggi tak terkirakan. 

Sophie tidak sedang meracau. Penggelembungan harga properti terjadi dimana-mana, tidak hanya di Jakarta saja, atau di Kemang saja. Di suatu   real estate  jauh dari pusat kota,  terletak di sebelah Barat - Selatan Jakarta, melakukannya juga.  Tidak itu saja, mereka menerapkan teknik marketing yang piawai, hingga  pelanggan rela antre untuk membeli rumah.

Itu cara untuk membuat produknya menjadi  bubble housing.  Ironisnya, usaha (para) pengembang berbuah sukses besar.  Harga rumah naik melambung setinggi langit.  Hampir 3-4 kali harga wajar, dengan pembeli yang berebut.  Tentu bukan keadaan bisnis yang normal dan sesuai kondisi fundamental serta hukum  demand-supply  yang wajar.

Sesuatu yang dibuat-buat   tak akan bertahan lama.  Saat ini, mulai banyak rumah yang ditempeli label “dijual” atau “disewakan”.  Harga jualnya menurun tajam, dengan pasar yang tak bersahabat.   “Real estate bubbles” muncul di banyak tempat dan negara di dunia ini.  Gejala seperti ini disebut sebagai  Irrational Exuberance (IE).  Terjemahan bebasnya kira-kira antusiasme yang tak masuk akal.

IE dipopulerkan oleh Board Chairman Federal Reserve (Gubernur Bank Sentral Amerika), Alan Greespan, pada pidatonya  di tahun 1996, saat terjadi  dot-com bubble  (penggelembungan bisnis internet hingga menaikkan harga saham dengan tak sewajarnya).  Greenspan juga mengingatkan masyarakat Amerika agar hati-hati dengan  housing bubble yang sempat memporak-porandakan ekonomi Amerika.  “Irrational exuberance is unsustainable investor enthusiasm that drives asset prices up to levels that aren't supported by fundamentals". 

Ternyata IE tidak hanya berkenaaan dengan masalah properti atau  stock exchange saja, namun juga menjamah ranah kehidupan manusia lainnya.  Transfer pemain sepakbola tenar dunia, mengandung IE dengan gejala uang pindah yang gila-gilaan, di luar hitungan untung-rugi bisnis yang proporsional.

Kejadian paling anyar menimpa Kylian Mbappe, pemain kulit hitam, 18 tahun (ya, baru berusia 18 tahun, jadi baru saja lepas dari akil balik) berwarga-negara Perancis,  tercatat sebagai pemain andalan kesebelasan AS Monaco.  Mbappe laku dibajak Real Madrid dengan ganti rugi setara dengan 2.8 triliun rupiah. Entah kehebatan apa yang mendongkrak nilai anak muda ingusan itu hingga   terjadi “penggelembungan”, plus gaji bulanan setara dengan 21 milyar rupiah.

Kisah yang mirip dialami bintang ganteng yang “hanya” mampu menjadi presenter di acara TV pagi dan siang hari, Raffi Ahmad. Konon sang bintang mengantongi honor 50 juta rupiah sekali tampil.  Tak heran kalau petugas pajak kemecer dengan belasan mobil mewah yang dikoleksinya.   Pertanyaannya adalah, apakah nilai keartisan Raffi Ahmad, secara fundamental, layak dihargai sebesar itu?   Atau efek IE kah yang sedang bekerja?

Di layar kaca lainnya, “penggelembungan” dalam bentuk “sulap-sihir” seperti kasus investasi bodong “Pandawa” dan “First Travel” sedang marak ditonton orang.   Mereka kemudian runtuh bak istana pasir yang dihempas ombak, dengan korban puluhan ribu orang, melibatkan dana ratusan milyar rupiah atau malah trilyunan.  Ini bermula dari IE yang tak segera disadari yang akhirnya menjadi bumerang menusuk jantung-hati masyarakat korban yang semula memujanya.   Agak janggal, karena sebagian korban berasal dari kaum cerdik cendekia.

Gelembung  mudah disukai dunia.  Manusia (atau sesuatu) tidak dilihat dan diletakkan secara layak sesuai dengan karya nyata sejatinya, melainkan segera direspons hasil pencitraan palsu dan sesaat.   Keindahan kasat mata menina-bobokan mereka yang dengan mudah berubah menjadi penggemar  setia yang akhirnya dikecewakan.

“Bubbles are not soap. It's just air wrapped in a thin layer of soap that breaks easily and instantly turns into a hollow". 

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono 

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.

 


Artikel Terkait

Nilai yang Benar, Tentukan Bisnis yang Sukses

Akhir-akhir ini, banyak orang yang gemar menggunakan batik pada aktivitas sehari-hari. Batik pun menjadi semakin identik dengan rasa nasionalisme sejak ditetapkannya “Hari Batik Nasional”. Namun, tidak sedikit juga yang masih merasa bahwa batik merupakan sesuatu yang “jadul<...

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...