Heartline Network

Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja makan.

Selepas SMP, saya tak tahu beritanya. Samar-samar saya masih mengingat nama itu, sampai kemudian kami berjumpa 3 tahun lampau di sebuah perhelatan di Tomohon, Sulawesi Utara. 

Saya duduk bersebelahan dengan pria paruh baya yang terlihat  nyentrik. Setelah saling sapa, ingatan tersambung kembali. Ternyata dia tokoh yang pernah lewat dalam ingatan saya sekian puluh tahun lampau. Saat ini, publik mengenalnya sebagai Teguh (Respati) Ostenrik. Teguh telah menjadi seniman besar, bertaraf internasional.  Karya seninya bertebaran di seantero dunia, sebut saja Amerika, Eropa, Australia dan tentu saja Asia. 

Sejak itu, kami sering bertegur sapa melalui media sosial. Dan topik paling hangat, bila sampai ke cerita tentang kedua gurunya di SMP. Ya, mereka orang tua saya.

Ini salah satu dialog yang saya ingat, "Kalau panjenengan nyekar bapak ibu, kirim sembah sungkem saya nggih”. 

“Njih mas. Mereka pasti bahagia dan bangga punya (mantan) murid sehebat anda. Berkah Dalem Gusti”.

Meski banyak kisah yang kami himpun, tapi berita dari salah satu media online internasional  sungguh mengagetkan saya, judulnya “What are Pieces of the Berlin Wall Doing in a Jakarta Skatepark?”.  Tapi, apa hubungan antara Tembok Berlin dengan Teguh Ostenrik?

Teguh melanjutkan studinya sampai  S2 di Jerman, mengambil jurusan seni rupa. Tak heran kalau kombinasi ini mewarnai dirinya.  Jawa, Indonesia, perupa, seniman dan Jerman. 

Tanggal 9 November 1989, Teguh mendengar Tembok Berlin (Berliner Mauer) diruntuhkan.  Tembok Berlin, yang dibangun 13 Agustus 1961, adalah tembok pembatas terbuat dari beton yang dibangun oleh Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur hingga membuat Berlin Barat menjadi sebuah  enclave

Bagian jiwanya yang berbau Jerman terusik.  Tak mau membuang waktu, Teguh terbang ke Jerman untuk ikut menyaksikan peristiwa sejarah yang sangat monumental itu. 

Dasar seniman, Teguh malah berburu pecahan tembok yang dia pastikan akan bernilai sejarah tinggi. Singkat cerita, 4 segmen tembok berhasil dimiliknya. Rata-rata berukuran 3.6 x 1.2 meter, dengan harga, kala itu, “hanya”  18.000 DM.

Sampai di Indonesia, usahanya kesana-kemari untuk membuat potongan-potongan tembok itu hingga membentuk karya seni,  ternyata tak mudah.  Teguh harus menahan kesabarannya sampai 28 tahun.  Hingga awal tahun ini,  mimpinya mendapat dukungan nyata dari Gubernur DKI, kala itu. 

Teguh dipersilakan mewujudkan kreasinya dengan mengolah 4 segmen Tembok Berlin menjadi suatu karya seni yang mengandung sejuta pesan perdamaian.

Hampir 1 jam, Teguh bercerita tentang makna karyanya, yang akan diresmikan awal Okober ini. 

“Tembok Berlin secara fisik sudah runtuh. Tapi rohnya masih gentayangan di dunia bahkan di Indonesia.  Roh perpecahan, roh kebencian, roh permusuhan, dan roh perseteruan. Di Indonesia, roh Tembok Berlin masih kokoh berdiri dan muncul di mana-mana. Di Ambon, Sampit, peristiwa 1998, dan baru saja Jakarta,” tuturnya.

Mengapa demikian? “Karena persatuan dan kesatuan di Indonesia di galang tidak dengan pendekatan cultural,” saya mengangguk-angguk mencoba mencerna pesannya, meski tak mudah memahaminya.

“Patung Menembus Batas”, dibuat dan disumbangkan Teguh untuk Bangsa Indonesia dan akan ditempatkan di Kalijodo.  Lokasi Kalijodo, yang semula kontoversial, berhasil diubah dan dipersembahkan kepada masyarakat menjadi Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.  Suatu simbol persatuan dan kesatuan, tempat berkumpulnya siapa saja, tanpa membedakan pagar-pagar primordial.

Sebagai epilog, saya ingin mengirim pesan untuk sang seniman, “Mas Teguh,  ‘Patung Menembus Batas’, yang mengandung 4 segmen Tembok Berlin, mengirim pesan   bahwa sekat-sekat, bahkan tembok-tembok yang memisahkan Bangsa Indonesia harus ditembus oleh roh  persatuan, kesatuan dan perdamaian.  Saya  tidak sendirian merasa senang dan bangga menyaksikan karya besar ini, tapi juga bersama seluruh bangsa Indonesia dan terutama kedua guru SMP anda, bapak dan ibu saya, yang kini telah damai di sana”.

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono 

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.

 


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...