Heartline Network

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

Seorang teman lain yang menjabat Manager SDM di suatu perusahaan besar, membuat eksperimen guna menyusun tugas akhir studi S2-nya.  Dia merancang suatu  role play, untuk  membuktikan suatu teori bahwa perilaku seseorang lahir dari suatu proses yang  rumit,  tidak linier dan tidak selalu runtut.

All things are created first by imagination,  which leads to thought, then to words (verbal or non verbal) and actions.

Maka lahirlah sandiwara itu.  Peran utama ditunjuk salah satu anggota timnya, namanya, sebut saja Bimo.  Peran pembantu dimainkan oleh 10 teman kerja Bimo.  Satu  di antaranya adalah dokter perusahaan.  Yang unik, Bimo tidak diberitahu “sandiwara” ini.

Skenario diatur.  Sepuluh pemeran pembantu diminta menyapa Bimo, di suatu pagi.  Kemudian, menanyakan kabar dan kesehatannya, disertai komentar yang kira-kira berbunyi, “Apakah kamu sedang tidak enak badan? Kok terlihat agak pucat?”.

Sinetron” mulai pukul 07.30,  pemeran pembantu pertama bertemu Bimo di depan  lift.  Sudah diduga “korban” menjawab: “Saya baik-baik saja”.

Sapaan senada dimainkan pemeran pembantu kedua,  dan seterusnya.  Jawabannya, mula-mula juga sama, “Saya baik-baik saja, sehat. Terima kasih”.

Pukul 09.45, tiba sapaan keenam, jawaban Bimo mulai goyah.  Nada dan intonasi suaranya melemah.  Nampak mulai ragu-ragu, “Apakah benar saya pucat dan lemas?”.  Itu pertanyaan yang muncul di dalam hati Bimo.  Harap-harap cemas,  Bimo lantas berpikir jangan-jangan dirinya sedang sakit.

Sapaan ketujuh, bahkan sudah tidak dijawab. Orang kedelapan sampai kesepuluh batal berperan.  Bimo  menghilang dan lari ke klinik kantor menemui sang dokter.

Keluhannya tak enak badan, sakit kepala dan lemas.  Pemeriksaan klinis menunjukkan tensinya sedikit tinggi, selebihnya pasien sehat walafiat.  Semuanya oke, meski  demikian izin istirahat setengah hari diberikan juga.  Film pendek berakhir, dengan  ending sesuai yang diharapkan.

Sang manager mengantongi bukti dari hipotesanya.Thought creates words, words lead action”.  Sang “korban”, yang semula sehat dan tak kurang apa pun, berubah menjadi (merasa) sakit karena pikirannya terpengaruh oleh intervensi eksternal yang diterima berkali-kali dengan nada serupa dan konsisten. 

Pikiran Bimo terpengaruh dan  dia merasa khawatir, seperti benar-benar sakit.  Ini yang kemudian mewujud.

Dalam ilmu jiwa, fenomena seperti ini, dinamakan  “A Self Fulfilling Prophecy”, is a prediction that directly orindirectly causes itself to become true, by the very terms prophecy itself, due to positive feedback between belief and behavior.  Keyakinan melahirkan perilaku, ada kaitan positif di antara keduanya.

Gejala seperti ini disampaikan pertama kali oleh  Robert K. Merton pada tahun 1948.   Teori yang sudah banyak dikupas para ahli dan  membandingkannya dengan efek-efek lain yang mendukungnya, seperti : Hawthorne, Placebo, Pygmalion dan Law of attraction.

Merton melanjutkan, bahwa  yang mendorong harapan itu mewujud, bukan mukjizat atau sesuatu  yang ajaib yang berasal dari luar, tetapi perubahan perilaku yang didorong oleh pikiran yang lahir dari harapan atau ramalan itu sendiri. 

Harap dicatat bahwa ramalan seperti  ini, harus sesuatu yang sebabnya dapat dikontrol oleh pelakunya.  Meramal suatu gunung akan meletus, jelas tak dapat menghasilkan perilaku yang mendorong gunung itu benar-benar meletus.

Celaka bagi mereka yang bertipe pesimistis atau fatalis,  yang cenderung bersikap negatif, karena  perilaku yang muncul juga mengarah ke hasil yang negatif pula.  Merton mengatakan bahwa satu-satu jalan untuk mengatasinya adalah (dengan sadar) menghentikan harapan jenis itu dan menggantikannya dengan sesuatu yang optimis dan positif.   

Saya mencoba memahami teori Merton dan menggabungkannya dengan ajaran lain yang lebih  “soft”.  Ternyata tidak hanya perlu menata hati, tapi juga  mengatur pikiran.  Keduanya menyatu,  mengolah hidup, mewujudkan harapan menjadi kenyataan yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia. 

Sorting out the live to bring hope into a fruitful reality for as many people as possible”.  (Brian Tracy – penulis lebih dari 70 buku motivasi yang sudah diterjemahkan ke banyak bahasa)

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono 

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.

 

 


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...