Heartline Network

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Itu rumah milik kongregasi Biarawati Karya Kesehatan  yang sedang merayakan kebahagiaannya.  Bahagia bersama Tuhan dan sesamanya, karena 3 peristiwa penting yang sangat pantas disyukurinya.

Pertama, memperingati 92 tahun berdirinya kongregasi BKK pada tanggal 30 September 1925.  Lahir dengan nama "Society of Catholic Medical Missionaris", kemudian berganti nama menjadi "Medical Mission Sister", kongregasi religius itu  dikenal di Indonesia dengan nama Biarawati Karya Kesehatan (BKK).

Menyebut nama BKK, tak bisa tidak, orang akan ingat kepada pendirinya Dr (med) Maria Anna Dengel, perempuan suci yang lahir di Austria, 16 Maret 1892.  Pengalaman kehilangan ibunda  yang meninggal saat Maria Anna masih sangat muda, ditambah banyak kisah sedih yang didengarnya tentang para ibu dan bayi yang meninggal pada saat persalinan karena aturan adat dan agama yang melarang kaum pria menolong proses persalinan, membuat tekad bunda Maria Anna untuk menjadi suster yang berkarya di  ranah kesehatan tak bisa dipadamkan. 

Bila sekarang anda bertemu suster-suster BKK dengan karya kesehatannya, maka semangat Maria Anna Dengel itulah yang terlihat membara di dalam dada mereka.

Kedua, mereka memperingati peristiwa 70 tahun yang lalu,  saat kelima suster BKK dari Belanda,  yang pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, pada tanggal 10 Maret 1947.

Dari situlah kemudian karya kemanusiaan suci yang mereka emban menyebar ke banyak kota di Indonesia, seperti Makasar, Parepare, Solo, Semarang,  dan Purwokerto.

Ketiga, dan ini yang paling istimewa bagi kami, adalah peristiwa memperingati dua tokoh yang telah mengabdi menjadi suster BKK selama 60 tahun.  Mereka adalah Sr. Aloysia BKK dan Sr. Xaveria BKK.

Salah satu dari mereka, yaitu Sr. Aloysia BKK adalah  bulik  kami, adik dari almarhum bapak kami.

Usianya menjelang 90 tahun.  Perempuan sepuh dengan raga yang ringkih namun memiliki kekuatan dan daya yang luar biasa bagi kami, seluruh keluarga besar.

Saat menyampaikan sambutan mewakili keluarga, dengan airmata haru yang sulit ditahan untuk menetes di pipi, saya mengucap beberapa kesan yang keluar begitu saja.

Saya tidak tahu persis, peran apa yang disandang oleh suster Aloysia di dalam keluarga besar kami.    Dilahirkan dari sebuah keluarga harmonis yang berlatar belakang agama bukan Katolik yang sangat kental, Suster Aloysia selalu menjadi tumpuan kami untuk menampung segala keluh kesah dan masalah yang sedang membayangi kami.  Tak selalu keluar dengan jawaban yang menyelesaikan, tetapi kata-katanya senantiasa membuat kami tenang untuk kembali ke dunia nyata yang  penuh hiruk-pikuk persoalan yang tak ada habis-habisnya.

Perempuan sepuh itu selalu menampakkan wajah damai dan jiwa yang kokoh dan kuat, meski tubuhnya semakin kecil dan menua.  Kadang-kadang penyakit mendera dirinya. Tetapi ketika Jakarta, Semarang dan Solo sudah geger karena bulik suster sedang sakit, dan ketika saya sempat bertemu beliau, justru saya yang ditenangkan dengan senyum kecilnya sambil berujar, “Aku rapopo”.   Maka selesailah semua kegaduhan yang mendera keluarga kami.

Itulah bulik Suster Aloysia, seperti manusia tanpa persoalan tapi penuh dengan amunisi untuk menyelesaikan masalah.  Bagi  keluarganya, kerabatnya, sahabatnya, kenalannya, dan orang lain, siapa saja.

Terima kasih bulik suster untuk kemaren yang tiada lagi, dan esok yang masih banyak lagi.

Misa perayaan di wisma BKK usai sudah.  Kami bercengkerama dengan para suster, para romo, para sahabat BKK, keluarga besar, dan seluruh handai taulan.

Saat ini, suster BKK di Indonesia “hanya” 17 orang, kebanyakan sudah sepuh, beberapa diantaranya tak bisa keluar dari kamarnya, karena sakit.   Suster muda tak kelihatan juga.  Namun saya percaya,  junjungan mereka, Yesus Kristus Sang Raja Kesehatan selalu menaungi dan memberkati mereka dalam perjuangan yang tak kenal lelah, menyerah dan putus asa.

Selamat untuk suster-suster BKK, jasamu tiada tara.

 

PM Susbandono

Twitter: @pmsusbandono 

Penulis merupakan pengamat masalah-masalah manajemen SDM.

 

 


Artikel Terkait

Pesta di Rumah BKK yang Bersahaja

Minggu siang, 1 Oktober 2017, di daerah Manahan, kota Solo.  Di sebuah rumah tua yang rapi dan bersih, sedang ada “pesta” sederhana.  Tamu tak banyak, namun  mereka datang dengan senyum mengembang tipis, dan berwajah ceria.  Saya berada di antara mereka.

Belief and Behavior

“Mengapa lama tak mengangkat masalah SDM?  Bukankah  sangat luas dan complicated, sekaligus menarik?,” seorang teman lama mengingatkan saya melalui Whatsapp.

Untuk memenuhi usul  sang teman,  ini ada kisah nyata meski terjadi sudah agak lama.

...
Teguh Ostenrik Menembus Batas

Ingatan kembali ke sekitar 50 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Sebuah nama melekat di kepala. Maklum, dia  murid menonjol dari bapak dan ibu saya di sebuah SMP Negeri di kota Semarang.  Namanya, Respati Ostenrik, kerap menjadi bahan cerita kala mereka sedang berbincang di meja ...

Irrational Exuberance

Sophia Latjuba, artis film dan tarik suara yang cantik, sensual dan menyimpan sejuta cerita menarik, tiba-tiba bicara soal properti.  Apakah Sophie, begitu biasa dia dipanggil,  sudah alih profesi menjadi agen  real estate? Ternyata tidak. 

“Saya paling ...

Blame Trap

Ini kisah tentang suatu jenis jebakan  yang mudah menggelincirkan manusia. Namanya  blame trap, atau “jebakan untuk menyalahkan pihak / orang lain”.  

Belum ada jawaban ilmiah, mengapa orang (sangat) mudah terkena jenis jebakan ini. D...