Jejak Etnis Tionghoa dalam Membantu Kemerdekaan Indonesia

Written by on August 31, 2018

Kemerdekaan Indonesia yang diperoleh tanggal 18 Agustus 1945 lalu tidak terlepas dari perjuangan Etnis Tionghoa, begitulah penuturan salah satu narasumber yang diundang dalam Heartline Coffee Morning dengan tema “Indonesia Dalam Kebhinnekaan” di Heartline Studio. Selasa lalu, (28/8).

Acara yang dihadiri oleh Pemilik dan Pengelola Museum Pustaka Peranakan Tionghoa: Azmi Abubakar dan Aktivis Muda Banten dan Anggota FIBER (Federasi Indonesia Bersatu): Teresia Megawati Wijaya membahas mengenai toleransi serta keberagaman dalam Indonesia.

Saling bertoleransi dan merangkul keberagaman dapat dilihat dari Museum Pustaka Peranakan Tionghoa milik Azmi Abubakar. Pasalnya, ia sendiri merupakan seorang yang Beragama Islam namun memiliki museum yang diisi informasi mengenai Etnis Tionghoa. Asal mula dibangun Museum yang telah diisi oleh 35.000 literatur dokumen, majalah, koran, dan barang tercetak lainnya ini ialah pemikirannya yang menganggap bahwa ketika seseorang menyatakan bahwa dirinya ialah bangsa Indonesia secara otomatis bahwa seseorang bisa menjadi siapapun dalam kalangan apapun sebagai anggota bangsa Indonesia.

“Memang ini ceritanya agak panjang sedikit. Tetapi, ketika ada seseorang bertanya ke saya kenapa orang Aceh mendirikan museum Peranakan tionghoa. Saya kira begini kita adalah bangsa Indonesia, ketika kita menyatakan diri kita sebagai bangsa Indonesia kita otomatis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa ini. Saya boleh mengatakan saya orang Sunda, Bali, Papua, Bugis, atau Tionghoa. Jadi itu adalah sebuah keniscayaan. Kalau kita mengaku bangsa Indonesia, kita bisa jadi siapapun sebagai anggota bangsa ini,” Kata Azmi Abubakar, Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Menurutnya, saat ini tali persaudaraan antar bangsa Indonesia sudah seperti tidak ada, Orang – orang menganggap seseorang secara berbeda. Maka dari itu, itulah penyebab dibangunnya museum tersebut.

“Memang berangkat dari kegelisahan mengapa Indonesia seperti ini. Saya melihat ada ikatan persaudaraan. Negara ini didirikan atas semangat persaudaraan. Semangat persatuan tapi kemana persaudaraan itu? Kita jadi melihat bahwa etnis itu berbeda, agama itu berbeda, budaya itu berbeda, berangkat dari hal itu sebenarnya. Dan terutama Etnis Tionghoa menjadi suatu etnis yang terasa asing seolah bukan bagian dari Indonesia. dan itu termanisfestasikan dalam kehidupan sehari – hari. Menurut saya ini harus ada solusinya soal itu, berhenti pada pertanyaan why tapi pada how,” Lanjut Azmi.

Tidak mudah untuk mengumpulkan informasi serta pernak – pernik untuk mengisi museum yang telah berdiri selama delapan tahun tersebut. Dikarenakan informasi mengenai Ethnis Tionghoa dilarang pada zaman dulu. Namun, jerih payah selama 20 tahun mengumpulkan informasi tidak terbuang sia – sia, ia jadi mengetahui pahlawan – pahlawan yang berjuang sebelum kemerdekaan Indonesia.

“Ternyata peranakan Tionghoa memiliki peran dan jasa yang luar biasa yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan kita tidak pernah mendengar nama Kwee Kek Beng atau Lie Kung Hian, Khu Cai Sing, Cho Bo Sang. Itu nama – nama bagi saya menggetarkan dan menakjubkan. Saya ingin menyebarkan ketakjuban saya. Mereka Ikut mendirikan NKRI mereka berdarah – darah, berkeringat, berair mata mendirikan negara Indonesia dalam memperjuangkan dan setelahnya mengisi kemerdekaan sangat luar biasa. Mereka adalah kumpulan orang – orang hebat yang tidak terkabarkan,” Ujar Azmi.

Ia memberikan salah satu contoh kapiten yang membantu Indonesia pada masa perang melawan Belanda tahun 1740.

“Contoh Kapiten Sepanjang itu Panglima Tionghoa, panglima yang sangat luar biasa yang hidup pada tahun 1740an. Jarang sekali orang mengetahui bahwa hampir 100 tahun perang Jawa ternyata tahun 1740 ada sebuah perperangan yang paling besar di tanah Jawa. Perperangan yang dimulai dari Betawi Jatinegara sampai ke Banyuwangi. Bayangkan sepanjang pesisir Utara pulau Jawa perang koalisi antara tentara Tionghoa dengan Jawa melawan Belanda. Itu memiliki jejak hampir di segenap pulau Jawa. Bayangkan itu cerita besar, etos bangsa dan VOC hampir di kalahkan koalisi antara tentara Tionghoa dan Jawa waktu itu, bisa direbut itu keraton dan hampir jatuh Belanda, seandainya tidak ada penghianatan. Namun bukan Etnis Tionghoa yang berkhianat,” Tutur Azmi.

Selain Kapiten Sepanjang, Jejak Etnis Tionghoa juga dapat dilihat Wali Songo, yang dikatakan bahwa sebagian besar anggotanya diisi oleh Etnis Tionghoa.

“Buku itu tahun 1967 langsung dilarang yang menyatakan bahwa sebagian besar anggota dalam wali songo ialah Etnis Tionghoa. Oleh Orde Baru tidak boleh keluar itu buku. Ada ketakutan peran dan jasa Etnis Tionghoa itu tersampaikan. Ada sesuatu yang disumbat. Maka dari itu, saat ini harus kita bukakan, namun sulit mencari literatur peranakaan Tionghoa karena ini seperti dilarang seperti narkoba, yang menyimpannya pasti akan bermasalah, itu pernyataan yang memang terkonfirmasi barang ini tidak boleh di pegang oleh orang Tiongha ataupun lainnya,” Tutup Azmi.

Acara yang dibawakan oleh Riama Silitonga dan Dina Virgi dengan durasi satu jam 30 menit ini juga mengundang band dari V’Band dengan membawakan tiga buah lagu yang berjudul Maafkan, Cinta Menyulam Surga, dan Buaya Darat.

 

Penulis: Verren Wijaya

 


Current track

Title

Artist