Kakak Cemburu Kepada Adik, Kok Bisa?

Written by on October 30, 2018

Kadang kala menggoda anak kecil itu lucu dan menggemaskan, apalagi menggodanya ketika dia akan menjadi seorang kakak. “Kamu mau punya adik tidak?”, “mau adik perempuan atau laki-laki?”, pertanyaan tersebut yang sering didengarkan. Tapi apakah pernah dipikirkan bagaimana perasaan anak tersebut? Bagaimana kalau dia menjadi cemburu karena kasih sayang dari orang tuanya menjadi terbagi? Ataupun yang umurnya berbeda jauh?

Pada episode Parenting With Heart tanggal 20 Oktober 2018, membahas mengenai “Mengapa Anak Saya Cemburu Memiliki Adik?”. Bersama dengan narasumber dari Yayasan Busur Emas, Krishervina Rani Lidiawati. Dari tema ini menjelaskan dari beberapa kasus seperti si kakak yang cemburu kepada adiknya. Sesi di mulai dengan menjelaskan mengapa terjadi kecemburuan, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi hal tersebut dan apa yang menyebabkan kakak cemburu kepada adiknya.

Kris mengatakan kalau anak sulung cemburu kepada adiknya karena perhatian orang tuanya direbut. Bukan hanya saat masih kecil saja, tapi saat beranjak dewasa pun rasa cemburu tersebut tetap ada. Si kakak akan merasa kalau semua yang dilakukannya itu tidak membuat orang tuanya menjadi perhatian kepadanya dan lebih mementingkan adiknya yang masih bayi. Selain itu, tanpa disadari orang tua akan sering menyebutkan nama anak dan menjadikannya anak emas. Kenapa? Hal tersebut tanpa disadar sering disebut saat sedang berbicara dengan kerabat atau orang teman, dan membuat salah satu anak menjadi sakit hati.

Persaingan antar saudara atau disebut sebagai sibling rivalry terjadi akibat suatu pengaruh contohnya adalah perbedaan umur dan jenis kelamin. Perbedaan umur yang sangat dekat maupun jauh. Umur yang dekat seperti hanya berbeda satu tahun, itu akan membuat si kakak yang masih tahap menyusui menjadi cemburu karena haknya harus dibagi dua dengan orang asing dan perhatiannya pun jadi berbalik. Kalau umur yang jauh, anak itu akan merasa kalau dia merupakan anak tunggal karena merasa sendiri dan selalu sendiri di rumah, dan dia akan terkejut kalau mendapatkan adik baru. Kalau perilaku yang menyakiti baru sudah tidak masuk kewajar karena kasar ke adiknya, atau terlalu sayang dengan adiknya seperti memeluk adiknya terlalu kencang. Kecemburuan ini terjadi karena orang tua yang terlalu protektif saat kakak masih kecil. Saat dia memiliki adik, dia akan merasa kehilangan belaian atau kasih sayang.

Jenis kelamin, tingkat kecemburuan lebih banyak ketika memiliki jenis kelamin yang sama. Contohnya seperti laki-laki dengan laki-laki, perempuan dan perempuan, ataupun kembar identik. Sementara untuk jenis kelamin yang sama itu berbeda kemungkinan tingkat kecemburannya lebih kecil, seperti kakak atau adik yang laki-laki, kakak atau adik yang perempuan atau kembar fraternal (kembar non-identik). Untuk yang sama jenis kelamin tingkat kecemburuan lebih besar, karena bisa saja menginginkan barang, mainan, atau apapun yang sama dikarenakan mereka sejenis. Sementara yang berbeda itu tidak mungkin kalau laki-laki akan meminta rok yang sama seperti saudara perempuannya.

Untuk masalah cemburu bagi anak kembar, mereka biasanya terlihat kalau mereka kompak. Padahal ada persaingan di sekitar mereka, karena perbedaan baik kelebihan maupun kekurangan yang mereka milik. Bahkan rivalitas ini terjadi karena orang tua yang secara tidak sadar membandingkan anaknya, karena anak pasti merasa dibandingkan.

Sibling Rivalry gak hanya memiliki dampak negatif saja tapi ada positifnya,” tekan Kris. “Dampak positif yang dimaksud adalah salah satu anak akan berjuang dan berusaha untuk mendapat prestasi yang lebih tinggi lagi dan mengalahkan saudaranya. Dia merasa kalau saudaranya lebih baik, itu sebabnya dia berusaha. Tapi kalau dia dipaksa untuk melakukan hal yang tidak sukai, atau tidak sesuai bakatnya, maka anak tersebut akan menjadi gangguan dan tambah setres.” Yang dimaksud dari perbedaan itu seperti yang satu berbakat dalam bidang seni sementara yang satunya lagi itu lebih menyukai komputer, itu tidak bisa dipaksakan, karena setiap anak itu berbeda.

Bagaimana orang tua tahu anaknya cemburu?

  • Ketika mau tidur, mau menempel ke ibunya padahal lagi nyusui adiknya. Saat beraktivitas sehari-hari mau menempel ke ayahnya kalau adiknya sedang diurus ayahnya,
  • Dulu tidak rewel sekarang jadi rewel,
  • Manjanya terlalu berlebihan,
  • Cari perhatian yang aneh-aneh.

Hal ini karena kakak yang cemas dan takut kehilangan rasa perhatian ortu ditinggalkan dan merasa tidak di sayang dan ini merupakan persepsi si anak. Karena si anak tidak bisa mengungkapkan kalau dia tidak suka. Kadang orang tua mengatakan “kamu kan sudah besar” tapi padahal si anak masih kecil juga (sekitar umur 3-12 tahun), kecuali kalau sudah remaja. Saat mau pergi ke luar sendiri dengan teman-temannya, akan dibilang “kamu masih kecil” si anak jadi bingung. Keinginan orang tua dan persepsi anak itu berbeda.

Sementara untuk faktor eksternal itu kadang datang dari orang sekitar, sebagai contohnya ada di bawah ini:

  • Ada yang bertanya, “kamu mau punya adik, nanti kamu nggak disayang loh?” padahal itu hanya bercanda dan anak jadi berpikir dan merenungkan dan membuat perilaku yang menunjukan kalau dia cemburu itu muncul, karena kata-kata itu dapat memicu anak-anak yang kemungkinan tidak mereka mengerti,
  • Ketika sudah lahir, orang berkomentar mengenai adiknya, jangan pernah menggunakan “LEBIH” dan si ortu mengiyakan dan membandingkan dengan kakaknya,
  • Ini membuat anak berpikir dan belum mengerti juga “kamu mau adik perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan kenapa kalau laki-laki kenapa?” Sebagai contoh si kakak laki-laki, dia berpikir “kalau adik ku laki-laki nanti aku punya saingan, ya udah aku maunya perempuan” tapi setelah lahiran tidak sesuai dengan yang dia inginkan, dan itu sudah di luar kendali orang tua.

Semakin menimbun rasa kecemburuan, dan orang tua membiarkan dan berpikir “masih kecil, belum mengerti”, “nanti udah besar mengerti sendiri”, tapi kalau semakin besar dan tetap ada pembandingan atau menganak emaskan maka kecemburuan yang dipendamnya akan kembali muncul. Tingkah lakunya pun menjadi berubah atau kebiasaan buruk yang pernah dilakukan jadi terulang bahkan semakin parah (seperti gigit kuku, narik rambut). Hal ini bukan hanya karena rasa cemburu saja tapi ada rasa cemas takut ditinggalkan. Anak juga hyper suka rusak barang, tambah egois. Bisa juga sebaliknya kalau kakak jadi berubah dan nurut. Kelihatannya patuh, tapi kenyataannya karena dia mau lebih diperhatikan, dan pada akhirnya yang jadi korbannya adalah adiknya (karena biasanya dibandingin) kok kakaknya lebih patuh daripada adiknya. Kalau dua-duanya patuh jadi tidak kreatif, karena ngikut terus jadinya tidak mandiri. Rasa cemburu ke saudaranya kemungkinan berefek kepada teman-temannya, misalnya tingkah lakunya jadi sombong, arogan, mudah dendam. Tidak masalah jikalau cemburunya masih normal jadi tidak masalah. Anak tetap anak, jadi tatep perlu perhatian.

Apa tips ketika anak jadi cemburu ke adiknya?

  • Yang perlu dikatahui, ketika kakak tahu kalau dia akan punya adik, dia akan memiliki mixed emotion (semua emosi muncul tapi bingung mau apa), senang punya teman di rumah dan ada perasaan yang khawatir. Perlu adanya waktu untuk beradaptasi dan perlu dimengerti oleh orang tua, karena anak kecil susah untuk menunjukkan kalau dia iri hati. Tetap ortu tahu kalau anak perlu orang tua. Kasih tau ke anak itu perlu untuk mengunggapkan. Kalau perlu mama bilang aja “mama i need you”, karena anak bingung mengatakannya bagaimana dan akhirnya mengikuti cara adiknya yaitu nangis atau rewel, sebenarnya itu adalah ungkapannya, hanya saja tidak di ungkapkan dengan perkataan yang lebih baik, atau kasih simulasi dan membuat dia tertawa, karena itu bisa meningkatkan hormonnya,
  • Tetap ada waktu tersendiri untuk si kakak, tetep di perhatikan oleh kedua orang tua,
  • Memberikan pujian kepada si kakak, ucapkan terima kasih juga. Misalnya, dia bisa makan sendiri atau menggunakan baju sendiri, karena sama saja dia meringankan pekerjaan mamanya yang sibuk menjaga bayi, dan
  • Jangan terlalu sering membanding-bandingkan antara anak satu dengan yang lainnya atau dengan teman-temannya.

Sebelum mengakhiri program, Kris memberikan kesimpulan, bingung mengatasin cemburu. Setiap fenomena dan penyelesaiannya berbeda-beda dan di butuhkan kedekatan antara orang tua dan anak. Orang tua butuh usaha untuk mengatur anak dan butuh proses dan waktu, dan belajar bagaimana memberikan perhatian yang adil karena anak memiliki kelebihan dan kekurangan. Memiliki rasa peka untuk tahu kebutuhan anak masing-masing dan memenuhinya tepat waktu jangan sampai terlambat dan dilupakan kerena ada anak yg lain.

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi

full


Current track
Title
Artist