Kecanduan Bermain Game Termasuk Gangguan Mental? Apakah Benar?

Written by on October 22, 2018

Pada saat ini hiburan sudah bisa didapatkan di mana saja. Hiburan didapatkan dari berbagai macam bentuk dan cara. Hiburan juga bisa didapatkan kapan saja, bahkan bisa membuat orang menjadi kecanduan. Hiburan bukan hanya keluar jalan-jalan atau pergi ke tempat jauh bersama teman-teman, tapi hiburan bisa didapat hanya di rumah dan mengurung diri di kamar. Hiburan seperti menonton, mendengar lagu, dan melakukan aktivitas yang lain, bahkan bermain game yang bisa membuat orang kecanduan, lupa waktu, bahkan lupa diri.

Pada episode Parenting With Heart tanggal 13 Oktober 2018 membahas mengenai, “Bagaimana Menyikapi Anak yang Kecanduan Bermain Game?”. Bersama dengan narasumber dari Yayasan Busur Emas, Franky Yusman, MA (Counseling), M,Th. Dengan tema ini mengungkap mengenai apa yang dimaksud dengan kecanduan game, bagaimana cara menyikapinya, dan apa dampak positif maupun negatif.

Franky mengatakan bahwa bermain game seperti koin. “Bermain game dapat diistilahkan menjadi koin. Maksudnya adalah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda. Bermain game pun sama, ada positif dan ada negatif, bisa dibilang kawan dan lawan.”

Ada yang mengatakan kecanduan game sama aja dengan gangguan mental? Apakah benar?

Sekitar bulan Juni atau Juli tahun ini, organisasi kesehatan dunia, WHO telah menetapkan kalau kecanduan bermain game sebagai salah satu penyakit gangguan mental (penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan). Penyakit ini sudah menjadi trend dunia dan menjadi hal yang penting.

Kenapa dapat ditetapkan seperti itu? Gangguan mental atau penyakit kejiwaan adalah satu pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stress atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia.

Gangguan bisa didefinisikan sebagai kombinasi dari afektif, kognitif, perilaku atau persepsi yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem saraf yg menjalankan fungsi sosial manusia. Gamers fungsi sosial di dalam kehidupan sosail sehari-hari sangat kurang, otomatis waktu kehidupan hanya digunakan untuk games.

Di bawah ini merupakan kecanduan game dikategorikan sebagai gangguan mental (Gaming Disorder) seperti apa gejalanya dari WHO:
1. Tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game dan bermain game secara berlebihan, baik dari sisi frekuensi, durasi, maupun intensitas dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari,
2. Lebih memprioritaskan bermain game di atas kegiatan lainnya, misalnya: ada tugas seharusnya di selesaikan terlebih dahulu, tapi lebih memilih main game, pekerjaan yang dapat di selesaikan dalam satu jam, tapi selesai dua atau tiga jam lebih, dan
3. Tetap melanjutkan permainan meskipun pengidap sadar jika gejala atau dampak negatif muncul dalam tubuhnya. Misalnya: ada orang yang tidak pulang dua hari karena main game atau sudah merasa lapar, tapi berpikir ‘tanggung’ atau ‘sebentar lagi selesai’ akhirnya jadi melewatkan jam makan.

Ketiga gejala ini yang terjadi baru bisa di tetapkan bahwa kecanduan game termasuk gangguan mental atau jiwa. WHO mengatakan bahwa ketiga hal tersebut harus terjadi, harus terlihat selama setahun sebelum diagnosis dibuat, berdasarkan arahan WHO penyembuhan gangguan gaming disorder harus dilakukan kurang lebih 12 bulan dengan arahan psikiater, jadi berlangsung minimal satu tahun.

Dengan adanya hal ini, Franky menekankan kepada orang tua untuk belajar lebih memberikan perhatian kepada anak.

Bagaimana sikap orang tua menyikapi anak yang sudah kecanduan atau sebagai seorang gamers

Gamers 3T:
• Tahu diri = harus menjaga kesadaran bagaimana menempatkan diri sesuai dengan fungsi dan tujuan. Dari awal bermain game harus ada disiplinnya, menempatkan posisi game di tempat yg tepat. Saatnya belajar jangan main game, ada tugas dikerjakan,
• Tahu batas = bisa mengendalikan diri dalam bermain game. Semakin menyenangkan, tapi kalau harus berhenti ya berhenti. Apakah game itu berguna, atau membangun, itu yang menjadi suatu mengingat,
• Tahu waktu = misalnya batasin main game satu jam, ya harus selesai satu jam. Jadi yang kita mengendalikan kita bukan game mengendalikan kita, semakin lama bermain game, maka semakin tidak bisa lepas.

Orang tua 7M:
• Mencari tahu dan mengerti game itu seperti apa = supaya pas anak itu ngajak bicara jadi mengerti tapi tidak perlu menguasai,
• Menjadi teman atau sahabat = lebih baik anak bermain sama orang tua daripada teman-teman. Ketika sama-sama terlibat dalam permainan, maka akan ada interaksi,
• Membatasi waktu = harus ada komitmen antara orang tua dan anak. Pilih rating yang sesuai dengan anak. Karena dari umur bisa dibedakan permainan yang sesuai dengan anak,
• Mendampingi = harus menyisihkan kegiatan untuk bermain bersama-sama dengan anak,
• Mengawasi = apakah bermain game mengganggu kegiatan belajar, atau prestasi di sekolah jadi turun, atau tidak ditempat berbahaya, karena ada beberapa kasus meninggal dunia karena bermain game. Bisa juga melihat anak itu bermain apa,
• Memonitor perkembangan dan perilaku anak = harus lihat apakah prestasi di sekolah naik atau turun. Jangan sampai pertama main game udah muncul adiksi. Arahkan juga ke giatan yang positif untun mengalihkan
• Memberi contoh atau teladan = jangan sampai orang tua yang kecanduan bermain game.
Sisi positif bermain game:

1. Sarana hiburan atau rekreasi: refresing, menghilangkan stress, kalau main game konsentrasinya penuh sama game tersebut, sesuatu yang menyenangkan dan kita sukai akan menjadi tenang dan membuat hati kita gembira dan senang
2. Ikutin trend, setiap manusia gak mau dibilang ketinggalan jaman. Main game juga ada trendnya, mis: ada PS1 lalu PS2 dan terus berlanjut, kalau jaman sekarang Mobile Legend
3. Meningkatkan kreativitas, karena bermain game melatih kita untuk berpikir, bagaimana membuat strategi untuk memainkan permainan tersebut. Merangsang kita untuk berpikir logis dan memenangkan suatu permainan. Melatih untuk berpikir, melatih bagaimana u/ mengatur strategi, kecepatan motorik, kecepatan berpikir, kecepatan mengambil keputusan
Ada yang bisa bermain game tapi di sekolah prestasinya juga bagus
4. Di dalam permainan bisa bertemu dengan teman, bermain game yang sama atau berkumpul dalam suatu komunitas di dalam game, ada game onlen yang dimainkan 2 orang atau lebih, jjadi dalam permainan terjadi interaksi bisa jadi partner atau saling adu
Sisi negatif:
1. Akan mengganggu konsentrasi, ketika sedang belajar atau melakukan kegiatan. Karena game merangsang atau menggoda orang untuk selalu ingin bermain atau terjun ke dalam permainan. Misalnya: orang yang sudah kecanduan begitu pulang sekolah, masuk kamar lalu main game, jadi kalau mau belajar malah kepikiran untuk bermain game,

2. Menghabiskan waktu yang produktif untuk bermain game. Jadi waktu yg seharusnya digunakan untuk belajar atau les atau kegiatan yang sudah terjadwal, jadi waktunya buat main game. Misalnya: di kantor bukannya kerja tapi main game,

3. Ada resiko atau bahaya dalam bermain game, banyak orang tua yang tidak sadar jenis permainan yang dimainkan oleh anak. Ada game tertentu yang mengandung kekerasan, secara tidak langsung apa yang ditonton anak jadi masuk ke otak bawah sadar. Ada anak yang tiba-tiba kasar, suka bully ‘bringas’, karena bermain game. Ada juga mengandung unsur pornografi,

4. Bisa menimbulkan adiksi, ketagihan, ketergantungan, kecanduan. Ketika seseorang sudah begitu intens dengan permainan tersebut. Ciri: setiap hari main dalam intens waktu yang lama. Step: mulai mencoba, menikmati, lalu menghayati permainan akan merangsang dopamin (hormon yg mengatur suasana hati yang terkait dengan perasaan gembira dan senang) daripada si gamers.

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi

Full audio


Current track
Title
Artist