Mari Mengenal Potensi Anak

Written by on September 19, 2018

Tidak hanya zaman sekarang, tetapi zaman dahulu banyak orang tua yang bertanya-tanya, “Apa potensi atau kemampuan dari anak saya?” atau, “Apa yang anak ini bisa lakukan?’ dan sebagainya. Saat anak masih kecil, orang tua tidak perlu khawatir apa yang anak mereka lakukan dan inginkan. Kadang kala saat ditanya apa cita-cita tersebut anak akan menjawabnya dengan polos mengatakan apa yang akan mereka mau, tapi saat mereka dewasa ada beberapa yang melupakannya, bahkan ada juga yang terwujud. Seering berjalanya waktu dan anak mulai dewasa, tapi mereka belum menemukan potensinya, orang tua menjadi cemas bahkan meminta anaknya untuk ke konseler atau cek kemampuan.

Program Parenting with Heart tanggal 25 Agustus 2018 dengan tema “Apa Potensi Anak Saya?”, dengan narasumber Parenting Counseling Yayasan Busur Emas, yaitu Krishervina Rani Lidiawati, M.Psi.

Kris mengatakan bahwa orang tua lebih melihat kepada prestasi anak mereka di sekolah. Jika nilai anak bagus atau mendapat peringkat di kelas, orang tua tahu kalau anak mereka pintar. Anak mendapatkan nilai yang jelek untuk satu mata kuliah, orang tua menyimpulkan bahwa anak tersebut tidak menyukai dan tidak baik dalam bidang tersebut. Untuk dari anaknya itu sendiri kebanyakan dari mereka hanya mengikuti teman. Misalkan saat temannya ikut les maka anak itu ikut, kalau temannya keluar maka anak juga keluar mungkin dengan alasan ‘tidak ada teman’ atau apapun.

Dengan melihat kelebihan atau kesukaan anak tersebut, seharusnya orang tua menjadi peka dan mendukung kesukaan anak tersebut. Mungkin untuk anak yang menyukai musik, orang tua bisa menyekolahkan di sekolah musik, atau les musik, agar kemampuannya bisa diasah dengan baik. Tidak hanya itu, supaya mental anak menjadi kuat lombakanlah anak itu, jangan hanya bisa ‘dikandang’ saja tapi bisa di luar.

Kris juga menjelaskann delapan kategori kecerdasan atau Multiple Intelegent yang memungkinkan kelebihan anak ada di dalamnya.

  1. Linguistik -> kemampuan menggunakan kata-kata dengan efektif, bukan hanya dalam berbahasa aja, pintar menulis, atau memuntahkan ide dalam kata-kata. Pandai berbicara dan cerewet. Misalnya dari kecil sudah banyak banyak. Atau dalam berbahasa lebih dari dua bahasa, misalnya anak bisa berbahasa Inggris dan bahasa daerah, asahlah kemampuan tersebut, kemungkinan si anak akan suka dan cepat mengerti. Jalau sudah menguasai bahasa tersebut, maka boleh ditambah dengan bahasa yang berbeda.
  2. Logikal matematika -> bukan angka saja, tapi logis ini masuk kebagian senang angka lalu mempelajari angkanya. Jadi gak hanya suka mempelajari angka-angka tersebut, tetapi dia juga membuat rumus sendiri dan merancanganya, bahkan ada yang suka membaca rumus fisika, dianya juga sering mengikuti olimpiade. Selain itu, ada faktor bawaan juga, dan ada yang mendukumg dan merangsang anak itu, seperti ayahnya lulusan tektik fisika, jadi anak melihat buku tersebut lalu membajanya, akhirnya anak jadi menyukainya. Ada rasa penasaran yang tinggi ( mencari tahu sebab dan akibat dari masalah tersebut) segala sesuatu diukur dan dicari, jika belum mendapatkan solusinya, dia tetap mencarinya.
  3. Kinestetik/gerak tubuh -> contoh ada anak tidak naik kelas, tapi nilai ORnya bagus, jadi anak itu bukan hanya memiliki hobi dalam OR tapi itu adalah kelebihannya. berkaitan dengan kenetik, keterambilan koordanisasi, keseimbangan, kelenturan, kefleksibalan, kecepatan dari anggota tubuh, termasuk ke dalam kecerdasan gerak tubuh. kadang kedua kecerdasan ini dikatakan sebagai hobi tapi ini adalah kecerdasannya, tapi perkenalan untuk potensi dari bidang yg lain.
  4. Kecerdasan musik -> mudah mengenali dan mengingat nada. Jadi baru dengar sekali dan langsung bisa, difasilitasi untuk mengasah kepribadiannya. Kecerdasan ini dapat berkaitan dengan kecerdasan nomor tiga. Ada anak yang bisa cepat hafal musik dan gerakan untuk menari, ada juga yang susah untuk mempelajarinya.
  5. Visual spasial -> kemapuan membayangkan bentuk geometri 3D, kerjanya di bidang tata ruang, iterior, animasi, arsitek. Bisa juga yang memiliki imajinasi yang tinggi (pilot, pelaut) hanya tau dari titik koordinat dan kompas, atau permainan yang memerlikan strategi (catur). Kecerdasan ini tidak muncul dari kecil, hanya dilihat dari perilakunya, apakah anak tersebut suka merias kamarnya, atau menggambar, dan sebagainya.
  6. Interpersonal -> mampu memahami dan komunikasi dan menjaga hubungan dengan orang lain (psikolog), mampun membantu menghadapi atau meringankan masalah.
  7. Intrapersonal -> sanggup memahami diri sendiri, tahu potensinya, apa yg harus dia lakukan, kecerdasan emosional.
  8. Naturalis -> ketertarikan terhadap lingkungan alam, tanaman, hewan. Sebagai contoh, ada anak yang melihat anjing yang mati karena tertabrak, anak tersebut memiliki empati yang tinggi dan pada akhirnya menangis.

Dilihat dari delapan kecerdasan tersebut, orang tua akan tahu apa yang anak mereka suka dan tidak bisa menahannya. Tidak hanya mendukung, tapi harus mengasah pula kemapuan anak tersebut, seperti kalau orang tua menyukai hal tersebut, ajarilah mereka, atau memasukan mereka ke dalam les privat. Setelah sudah baik, ikut sertakan ke lomba. Tidak apa-apa kalau kalah, yang penting adalah pengalaman dan pelatihan mental yang akan dilihat oleh banyak orang.

“Lupakan keinginan atau diri Anda, tapi FOKUS terhadap kemampuan dan potensi anak.” tutup Kris dipenghujung acara untuk mengingatkan supaya orang tua tidak egois dan memikirkan diri sendiri.

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi

Full audio


Current track
Title
Artist