Memahami Mioma Uteri

Written by on December 4, 2017

Kaum wanita pasti sering mendengar penyakit miom. Penyakit miom ini sering dikaitkan dengan kanker, tumor ganas, atau pun kista. Oleh karena itu, sering kali  para wanita khawatir mendengarnya. Namun, apakah miom itu berbahaya? Apakah miom sama dengan kista?

Untuk menjawab segenap pertanyaan di atas, Radio Heartline Tangerang dalam program Dokter Menjawab mengundang dr. Jacobus Jeno Wibisono, SpOG. yang merupakan merupakan dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Umum Siloam, untuk membahasnya.

Sebenarnya apa itu miom? Miom yang juga dikenal dengan istilah mioma uteri, fibroid, atau leiomioma, merupakan pertumbuhan sel tumor di dalam atau di sekitar uterus atau rahim yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom ini sebenarnya berbeda dengan kista. Miom merupakan tumor padat yang tumbuh dalam rahim. Sedangkan, kista merupakan tumor yang berbentuk cairan yang tumbuh dalam rahim.

Munculnya miom ini dipengaruhi dari hormon esterogen. Hormon estrogen yang berlebihan dapat memacu pertumbuhan miom. Selain faktor hormon, miom juga dapat muncul akibat faktor keturunan. Jika ibu atau saudara ada yang pernah memiliki miom, kemungkinan orang tersebut juga dapat memiliki miom. Miom sendiri tidaklah bersifat ganas, tetapi tetap harus diperhatikan.

Jika pertumbuhannya cepat, harus segera diperiksakan ke dokter. Karena bisa jadi itu merupakan tumor ganas yang dapat menyebar ke daerah tubuh lainnya. Namun, jika pertumbuhannya sangat lambat, itu merupakan tumor jinak yang tidak akan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Dokter Jacobus mengatakan bahwa terdapat beberapa jenis miom berdasarkan tempat munculnya. Pertama, fibroid intramural yang merupakan miom yang tumbuh di antara jaringan otot rahim. Kedua, fibroid submucous yang merupakan miom yang tumbuh di lapisan otot bagian dalam dari dinding rahim. Ketiga, fibroid subserous yang merupakan miom yang tumbuh di bagian luar dinding rahim.

Tumbuhnya miom di sekitar rahim memang tidak memiliki gejala apapun. Setelah adanya miom, biasanya barulah terdapat beberapa gejala yang muncul, seperti: pendarahan yang banyak saat menstruasi, nyeri pada perut, sering buang air kecil, masalah buang air besar, dan gejala lainnya.

Tumbuhnya miom juga dapat menghambat munculnya kehamilan. Miom yang tumbuh saat masa kehamilan juga akan berpengaruh. Posisi bayi dapat menjadi sulit karena adanya miom. Saat persalinan juga dapat terjadi pendarahan yang parah jika miom tersebut tidak segera ditangani dari awal.

Dokter Jacobus menyarankan agar melakukan pengecekan miom sesegera mungkin. Jika miom dianggap mengganggu, dokter akan menyarankan untuk mengangkat miom tersebut. Jika masih bisa diatasi dengan obat, dokter akan memberikan obat-obatan yang dapat mengurangi hormon estrogen sehingga miom dapat perlahan menghilang. Miom sebenarnya dapat muncul lagi meskipun sudah dilakukan pengangkatan.

Pada beberapa kasus tertentu, dokter akan menyarankan untuk mengangkat miom beserta rahim. Biasanya, dokter akan menyarankan tindakan ini pada ibu yang sudah memiliki anak yang cukup atau yang sudah berusia lanjut. Karena, kondisi tindakan tersebut menyebabkan wanita tidak dapat hamil lagi. Jika rahim sudah diangkat, otomatis miom tidak dapat tumbuh lagi.

Untuk mencegah pertumbuhan miom, Dokter Jacobus memberikan beberapa tips. Yang terpenting adalah melakukan diet dengan mengurangi makanan yang berkalori, manis, dan berlemak. Hormon estrogen banyak terdapat pada lemak sehingga sebaiknya mengurangi hal tersebut. Olahraga yang teratur juga dibutuhkan agar tubuh selalu bugar.

 

Ingin berkonsultasi seputar kesehatan?

 

Dengarkan program Dokter Menjawab.
Setiap Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 13.00 WIB.
Hanya di Radio Heartline Tangerang 100,6 FM
Live Streaming di www.heartline.co.id
Apps: Heartline – Karawaci

 


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST