Mendidik dan Menyikapi Anak Berkebutuhan Khusus

Written by on November 30, 2017

Manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain dan tidak ada manusia yang sempurna. Beberapa dari kita bahkan tidak sempurna dalam hal fisik atau pun mental. Terkadang kita menghindar untuk berkomunikasi dengan mereka yang berkebutuhan khusus. Kita sering menganggap bahwa mereka tidak dapat atau sulit diajak berkomunikasi. Padahal, mereka sama seperti kita, dapat mengerti dan melakukan sebuah percakapan. Namun, sebenarnya bagaimana cara untuk berkomunikasi dengan mereka?

Heartline Coffee Morning kali ini mengundang Dr. Imaculata Umiyati, S.Pd., M.si. untuk membahas penanganan dan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus, terutama anak autis. Doktor Ima, Pakar Pendidikan Anak Autis, membangun sebuah boarding school khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Ima mengatakan bahwa beliau sudah mendalami bidang ini sejak 30 tahun yang lalu. Namun, tidak ada alasan pasti mengapa beliau akhirnya bergerak untuk mendidik anak-anak autis. Ia memang tidak pernah memiliki pengalaman pribadi dengan anak autis, tetapi senang melakukannya dan merasa bahwa ini merupakan sebuah panggilan hidupnya.

Dalam berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, sebenarnya tidak ada cara tertentu. Menurut Ima, kitalah yang sering salah sangka dengan anak-anak kebutuhan khusus. Kita sering berpikir bahwa mereka tidak mengerti apapun yang kita bicarakan. Kita memposisikan perilaku, posisi, pikiran, kehendak, kemauan, otak, dan lain-lain sama seperti kemauan kita. Padahal mereka jauh berbeda.

Meskipun berbeda, cara menanggapi dan menyikapi mereka, sama dengan cara kita menyikapi anak-anak normal lainnya. Kita sering merendahkan kemampuan mereka. Padahal mereka sama saja dengan kita, namun perlu diakui membutuhkan beberapa hal tambahan agar mereka paham dengan apa yang kita maksudkan.

Murid di sekolah asrama yang didirikan Ima, diajarkan dengan penuh kasih dan kesabaran, seperti halnya pelajaran memasak dan potty training. Ima juga memasukan pelajaran bermusik kepada anak didiknya.

Pada bulan Desember mendatang, anak-anak tersebut akan menampilkan sebuah pentas seni. Pentas seni ini berisi tentang bagaimana cara mendidik anak-anak berkebutuhan khusus di rumah. Sebenarnya, alasan membuat pentas seni ini adalah animo keluarga yang ingin mendidik anaknya yang berkebutuhan khusus di sekolah asrama ini.

Karena jumlah murid yang semakin banyak dankedepannya pasti akan memiliki kendala untuk mendidik mereka secara maksimal, Ima memberi usul agar orang tua mengusung konsep asrama ini di rumah. Lewat seminar yang dikemas dengan pentas seni ini diharapkan orang tua dapat mendidik anak berkebutuhan khusus di rumah dengan baik dan benar.

Tujuan sekolah asrama yang dibangun ini sebenarnya sangat simel. Ima berharap bahwa anak-anak yang bersekolah ditempat yang diasuhnya, nanti dapat berperilaku baik dan mandiri. Dengan sikap tersebut, jika nantinya orang tua anak tersebut meninggal, anak tersebut dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak menyusahkan orang lain.

Alasan lainnya mengpa Ima akhirnya membangun sekolah asrama ini adalah terdapat beberapa hal yang harus dikerjakan oleh orang yang sangat mumpuni dalam bidang tersebut. Jika anak berkebutuhan khusus dididik di rumah, terkadang tidak selalu berhasil. Orang-orang di rumah pasti cenderung memanjakan atau menspesialkan mereka di rumah .

Orang tua terkadang merasa tidak tega, terlalu memanjakan, terlalu menuruti apa permintaan anak, dan bahkan memaklumi saat dia tantrum. Hal ini yang akhirnya malah membuat perilaku sang anak akan berkembang menjadi semakin buruk. Anak akan menjadi sangat agresif dengan setiap tindakan atau perilaku orang di sekelilingnya.

Saat mencoba mendidik atau berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus, Ima menceritakan bahwa diperlukan kesabaran. “Kita tidak boleh merasa takut, tidak enak, ataupun tidak sabar dalam menyikapi mereka. Kita juga tidak boleh ragu saat berinteraksi dengan mereka. Jika kita ragu, mereka akan merasakan keraguan tersebut dan akhirnya mungkin akan membuat mereka tertekan juga,” ucapnya. Intinya, Ima berpesan agar memiliki kesabaran ekstra dalam mendidik anak berkebutuhan khusus.

Mari bergabung bersama dengan Radio Heartline Tangerang dalam program talkshow “Live Coffee Morning” setiap Selasa, pukul 08.00-09.30 WIB. Anda juga bisa mendengarkannya melalui frekuensi Radio Heartline Tangerang 100.6 FM, live streaming di www.heartline.co.id, atau apps: Heartline-Karawaci.


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST