Mendisiplinkan Bukan Menghukum

Written by on November 14, 2018

Banyak orang yang sering salah mengartikan antara menghukum dengan memberikan disiplin kepada anaknya. Ada yang memarahi anaknya karena tidak menurut, ada juga yang tidak mengikuti aturan yang sudah diberikan. Mengenai hal tersebut, banyak anak yang akhirnya berbohong bahkan tidak menuruti perkataan orang tuanya.

Program Parenting With Heart yang bekerja sama dengan Yayasan Busur Emas, pada tanggal 3 November 2018 memiliki tema mengenai “Bagaimana Metode untuk Membangun Disiplin Anak?” bagian kedua. Bersama dengan narasumber dari Yayasan Busur Emas Gerna Situmeang. Topik ini menjadi kelanjutan dari topik pada tanggal 27 Oktober 2018 lalu dengan judul yang sama. Pada topik ini menjelaskan mengenai bagaimana metode atau strategi membangun disiplin pada anak sebelum kejadian. Maksud dari kejadian dalam hal ini adalah pelanggaran yang dilakukan oleh anak, karena melanggar larangan yang sudah diberikan orang tua.

“Disiplin kadang disamakan dengan hukuman hukuman”, ujar Gerna.

Kadang kala mendidik anak dilakukan untuk mencapai suatu pendidikan atau standar dimana anak tersebut akan taat karena terpaksa. Setiap kali mendidik anak dengan cara mengancam, dan menghukumnya karena emosi. Sehingga tidak mencapai suatu standar pendidikan karena penundukan dan bukan taat dari hati, tapi merasa takut.

Ada upaya supaya anak taat dari dalam dirinya, sebelum munculnya perasaan takut pada anak karena dihukum. Hal ini biasanya tergantung dari bagaimana kemantapan orang tua menerapkan kedisiplinan. Apakah orang tua konsisten atau tidak dalam menerapkan kedisiplinan. Jika tidak disiplin dalam mengajarkan, maka kemungkinan anak menjadi tidak taat.

Gerna menjelaskan bahwa kedisiplinan merupakan kebutuhan dasar anak, bukan kewajiban. Seperti layaknya anak mendapakan makanan, minuman, pakaian, dan pendidikan.

Untuk membentuk standar ketaatan yang sejati atau dari dalam hati anak ada syaratnya, yaitu

  • Memiliki relasi yang sehat antara orang tua dan anak. Anak akan menjadi disiplin karena orang tua yang sayang. Kedisiplinan yang sesungguhnya berasal dari perhatian dan kasih sayang, bukan karena emosi atau koreksi semata dikarenakan melakukan kesalahan atau pelanggaran lalu diberikan hukuman. Maka relasi sangat dibutuhkan supaya anak tetap merasa aman dan nyaman bersama oranng tua. Bukan menangkap bentuk kemarahan sehingga menimbulkan luka ketika dewasa.
  • Tergantung dengan kemantapan dari orang tua dalam menerapkan kedisiplinan. Memerlukan keterampilan untuk menggunakan metode, bukan hanya tujuan semata karena anak melakukan kesalahan. Harus berlandaskan dengan perhatian dan kasih sayang bukan disamakan dengan hukuman.
  • Disiplin dilakukan lewat tindakan verbal. Hal ini dilakukan sebelum melakukan kesalahan. Jika hal ini telat dilakukan, maka anak akan menjadi sering melakukan kesalahan yang sama.

Sebagai contoh, ketika dewasa anak menjadi trauma dengan lawan jenis. Selain ini, pemikiran dalam dirinya memiliki hal berupa kekerasan, karena saat kecil ingat kalau ayah atau ibunya sering menghukum. Karena hal tersebut, dalam pikirannya selalu memilikirkan kalau semua laki-laki atau perempuan itu jahat dan suka menghukum.

Selain itu ada tahap-tahapnya supaya anak disiplin:

  • Ajarkan dan tanamkan nilai-nilai dengan alasan moral. Alasan tersebut dijelaskan dengan keuntungan anak menjadi taat,
  • Memberikan peneguhan berupa pujian terkait dengan hal yang dilakukan. Pujilah prosesnya bukan nilainya. Jika yang dipuji nilainya, maka anak akan merasa gagal dan frustasi, atau terbentuk mentar yang tidak sehat karena merasa orang tuanya tidak akan memujinya lagi kalau mendapatkan nilai jelek. Pencapaian dan karir, lalu pekerjaan yang dilakukan secara berlebihan akan merugikan diri sendiri bahkan orang lain dan akan menjadi ketergantunga (seperti mendapat pujian karena hasil yang bagus bukan prosesnya).

Jika anak melakukan kesalahan, maka koreksinya sebagai berikut:

Lihatlah dahulu masalah apa yang dia lakukan. Seperti contoh anak mendapatkan nilai jelek karena kurangnya belajar. Hal tersebut memiliki banyak alasan, yang dipisahkan dari umur, frekuensi, motivasi, atau konsep kejadian. Dilihat dari frekuensi, semester lalu mendapatkan nilai bagus tapi semester ini mendapatkan nilai jelek. Lihatlah dahulu masalahnya kenapa anak mendapatkan nilai jelek, jangan langsung memarahinya. Kemungkinan waktu belajar yang kurang, atau gangguan kesehatan, atau terlalu sering memainkan gadget. Karena hal tersebut kurangilah waktu untuk bermain gadget (memegang gadget hanya dua jam setiap hari), tambah waktu belajar, atau waku untuk jalan-jalan bersama keluarga dikurangi.

Sementara lihatlah dahulu dari segi umur apakah dia masih kecil atau sudah dewasa. Sebagai contoh, orang tua sedang minum kopi, anak sedang lari-larian disekitar orang tua dan tidak sengaja menabrak gelas hingga jatuh ke lantai. Melihat kejadian ini jangan langsung memarahi anak jikalau dia baru pertama kali melakukan itu, nasihati atau memukulnya secara perlahan dan jangan sampai menyakitinya. Jadi hukuman memberikan suatu nilai terhadap suatu perilaku, apakah itu merugikan orang lain, jadi bukan hanya diri sendiri.

Pertama-tama tanamkanlah:

  • Sikap disiplin dengan sebuah dorongan,
  • Memberitahu secara verbal. Contohnya: kalau ada tamu berikanlah salam,
  • Kalau melanggar, kasih nasihat lagi, kalau mengulanginya lagi beritahu konsekuensinya. Contohnya: anak menaruh sepedah di depan gerbang karena terburu-buru masuk ke dalam rumah, ayah baru pulang kantor dan tidak melihat ada sepedah jadi tanpa sengaja melindas ban sepedah sampai bengkok. Seperti inilah konsekuensi karena ceroboh.

Konflik pun memiliki tahapan dalam masa perkembangan:

  • 12-40 bulan (sekital 3-4 tahun) balita

Berhubungan dengan motorik, anak sudah bisa berlari tapi belum tahu bahaya, karena nalarnya belum berkembang dari pada motorik. Melihat hal ini orang tua bisa langsung eksekusi, jadi jadi tidak perlu di nasihati dahulu, bahaya langsung datang. Jadi lebih efektif dengan sentuhan, jadi percuma jika hanya kasih nasihat sepanjang mungkin karena anak belum mengerti,

  • 10-12 tahun

Fase dimana anak beralih ke masa remaja, banyak perkembangan baik fisik mental dan pergaulan. Sebelum konflik terjadi, orang tua harus sudah menanamkan nilai-nilai. Konsekuensinya bisa alami (terkait, dikasih uang jajan 20rb hilang karena lalai, jadi konsekuensinya dia nggak jajan dan lapar. Contoh lain karena faktor tidak sengaja seperti saat pelajaran olahraga dan uangnya jatuh, jadi jangan dihukum. Berikan dompet kecil, lalu ajari menyimpannya di mana dan beritahu tempat yang aman menaruh dompet, dengan hal ini anak sudah diajarkan sejak dini untuk menyimpan uang di dompet. Jadi jangan asal menghukum). Konsekuensi logis (kalau sudah sering melakukan kesalahan atau tidak taat atau kecenderungan berbohong jadi langsung beri konsekuensi tanpa peringatan).

Gerna pun menjelaskan kalau anak suka berbohong, orang tua bisa mengecek ulang dan berpikir mengapa anak jadi perbohong. Awalnya sudah dijelaksan kalau disiplin dasarnya adalah relasi. Jika relasi yang baik, anak akan tahu kalau orang tuanya tidak akan marah, jadi kita harus mempunyai koneksi yg baik dengan anak.

Kesimpulannya adalah disiplin anak tergantung kemantapan ortu dalam menerapkan disiplin. Memerlukan keterampilan dalam menerapkan disiplin. Perlu menjadi teladan terhadap anak-anak. Memperhatikan prinsip-prinsip apakah pelanggaran disengaja atau tidak. Jenis hukuman yang diberikan harus sesuai, jadi sebelum terjadi sudah diberi nasihat dlu. Setelah melakukan hal yang baik, berikanlah pujian dan hadiah (memberi hadiah tergantung, apakah itu kewajiban atau keterampilan. Jika belajar itu tidak perlu, jadi motifasi anak untuk belajar karena hadiah, bukan niat pribadi. Bisa memberikan hadiah tanpa menjanjikan seperti memberikan kejutan. Jika keterampilan bisa memberikan hadiah).

Penulis: Sella Eliadita Wahyudi


Current track

Title

Artist