Merawat Kerukunan di Pesta Demokrasi

Written by on September 10, 2018

Melihat Foto dari Kiri ke Kanan: Presenter Jose Marwan, Presenter Dina Virgi, Johannes Nur Wahyudi, Bob Bartz, KH. Maski, Muhammad Ardani, Rudi Gunawijaya, H. Supriyadi, Yahya Santosa, Ufati Zaffry Zebua, Nyoman Soewandi, dan Presenter Riama Silitonga di Heartline studio, selasa lalu, (4/9)

Menjelang Pemilihan Presiden yang akan berlangsung pada tahun 2019 mendatang, banyak kekhawatiran yang muncul di masyarakat mengenai hal tersebut. Masyarakat dihimbau untuk tidak menyebutkan tahun tersebut sebagai tahun politik melainkan tahun Pesta Demokrasi masyarakat Indonesia.

Acara Coffee Morning yang mengusung tema “Merawat Kerukunan di Tahun Politik” ini dihadiri oleh delapan narasumber yaitu Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tangerang: Drs. KH. Maski, MM, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Falahiyah: Drs. KH, Muhammad Ardani, MA, Sekretaris FKUB Kabupaten Tangerang: Johannes Nur Wahyudi, Wakil Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Tangerang: H. Supriyadi, SE, MM, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI): Ir. Nyoman Soewandi, MM, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Banten: Rudi Gunawijaya, Ketua Forum Umat Buddha Banten: Drs. Yahya Santosa, dan Pengurus FKUB Perwakilan Kristen Protestan: Pendeta Ufati Jeffry Zebua dengan membahas mengenai merawat kerukunan menjelang Pemilihan Presiden 2019 mendatang, selasa lalu, (4/9).

Salah satu tantangan terbesar dalam Pesta Demokrasi pada tahun 2019 mendatang agar berjalan dengan sukses ialah adanya penggunaan unsur Agama dalam kampanye.

“Kalau menghadapi pemilu saya kira wajarlah, dan kita harus bangga ketika ada pemilu damai. Cuma yang menjadi persoalan adalah kadang teman – teman yang mengikuti pemilu itu selalu mengorbankan tentang kerukunan, menjual sesuatu yang tidak layak untuk masyarakat. menjual ayat–ayat Al-Quran,” Tutur Ardani.

Menurutnya para politisi yang sedang mengikuti pemilihan beserta pengikutnya melakukan hal tersebut dikarenakan unsur Agama dianggap layak untuk dijual untuk memecah belah bangsa dan memihak suatu pihak.

“Padahal kalau kita mengkaji secara keseluruhan, ayat–ayat perang itu dikit sekali dalam Al-Quran yang banyak itu tentang ayat tentang bagaimana kita bergaul dengan masyarakat, dan menjalankan sebuah pergaulan yang baik. Sebenarnya yang paling banyak demikian, tapi kenapa yang ditekankan yang Perang terus? Karena itu dianggap yang layak dijual, yang sangat sexy. Padahal ini adalah buat kita sebagai tokoh–tokoh masyarakat yang paham dengan isi–isi Al-Quran kita harus tekankan bahwa kita adalah negara yang damai, bukan negara yang perang, yang kacau balau, jualah ayat–ayat yang damai yang memberikan keteguhan untuk masyarakat,” Lanjut Ardani.

Selain unsur agama, etika dalam berpolitik juga penting dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang agar sukses dilaksanakan tanpa memecah belah bangsa.

“Kalau kita lihat sebetulnya tantangan kita itu etika. Bagaimana para politisi mempunyai etika berpolitik yang baik. Saya menyampaikan apa yang disampaikan oleh ketua KWI bahwa para politisi harus punya etika politik. Jangan disebut sebagai tahun politik, tapi tahun demokrasi atau tahun pemilihan. Dalam menyambut tahun demokrasi yang pertama, hendaklah para politisi tidak hanya memikirkan perebutan kekuasaan, kedua, memperjuangkan kebaikan bersama, dan ketiga harus mengedepankan prinsip solidaritas. Memang pilihan banyak dan berbeda – beda tapi perbedaan itu jangan menjadikan kita menjadi musuh. Tapi seharusnya bersuka cita karena kita di berikan banyak pilihan,” Ujar Johannes.

Tak jarang pula ditemukannya para politisi yang menggunakan tempat ibadah sebagai sarana untuk berkampanye. Padahal hal tersebut dilarang dan tertulis dalam undang–undang.

“Sebaiknya rumah–rumah ibadah itu tidak digunakan sebagai ajang untuk berkampanye. Justru rumah–rumah ibadah itu untuk mensuarakan perdamaian, saling menghargai umat beragama, itu lebih penting daripada untuk berkampanye. Masyarakat harus tahu bahwa tempat ibadah bukan tempat yang cocok untuk berkampanye, karena diatur juga dalam undang-undang. Serta kami menyarankan melakukan khotbah-khotbah yang damai, menkampanyekan kerukunan tidak masalah asal jangan menkampanyekan mengenai politik. Karena semua agama menyerukan perdamaian,” Kata Supriyadi.

Masyarakat dihimbau untuk tidak saling bermusuhan serta tidak menggunakan unsur agama menjelang Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

“Karena sebenarnya semua pasangan dalam pemilihan itu putra terbaik bangsa Indonesia yang pasti bertujuan untuk memajukan Indonesia. Maka seharusnya masyarakat kita tidak saling siku untuk mencapai kemenangan, tapi menunjukkan prestasi untuk mencapai kemenangan, kalau yang berprestasi silahkan dipilih tapi tanpa menjelekkan orang lain, jangan menggunakan unsur agama untuk menujukkan dirinya lebih hebat,” Lanjut Supriyadi.

Hidup rukun serta meningkatkan toleransi antar sesama ialah kunci untuk mensukseskan Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

“Saya melihat bahwa semua agama sebenarnya mengajarkan yang baik, harus rukun. Nah, kemudian kalau kita sudah kuatkan toleransi itu akan meningkatkan kualitas dalam kerukunan, kalau sudah rukun segala sesatu akan lancar. Pilpres juga suatu anugrah bagi kita, harus kita syukuri karena kalau membericarakan mengenai pesta demokrasi, ada pesta kesenangan tanpa ada kekhawatiran. Lalu bagaimana itu kita bisa miliki? Mari kita kuatkan toleransi dan tingkatkan kerukunan diantara kita semua,” Tutur Jeffry.

Diharapkan bahwa Menjelang Pemilihan Presiden 2019 mendatang, masyarakat dapat lebih cerdas dalam memilih serta menghindari menggunakan kata–kata yang merugikan suatu pihak.

“Didalam tahun pesta Demokrasi nanti kita memilih pemimpin saya harapkan ini mereka adu program, mana yang paling baik itu yang akan dipilih oleh warga. hindari kata-kata yang bermusuhan maupun menghujat. Mari Kerukunan itu yang kita utamakan apapun hasilnya nanti. Mari kita utamakan kerukunan serta Untuk kita semua harus cerdas,” Tutup Nyoman.

Selain itu, acara yang berlangsung selama satu jam 30 menit ini juga menghadirkan Komposer serta Musisi Bob Bartz dengan membawakan dua lagu yang berjudul You’ve Got a Friends dan Someday.

 

Penulis: Verren Wijaya


Current track
Title
Artist