Heartline Network

Perang Terhadap Provokasi Isu SARA

Saracen merupakan kelompok yang kerap menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) dengan topik  isu berbau suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Kelompok ini memiliki ribuan akun untuk menyebarkan isu SARA di berbagai media sosial.

Kelompok ini beraksi dengan motif ekonomi. Pasalnya, kelompok Saracen kerap mengirimkan proposal dengan nilai fantastis kepada banyak pihak, terkait penawaran jasa menyebarkan ujaran kebencian bernuansa isu SARA pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada).

Kepolisian telah menangkap tiga tersangka sindikat Saracen, diantaranya: Jasriadi (32) sebagai ketua, Sri Rahayu (32) selaku koordinator wilayah, dan Mohammad Faizal Tonong (42) sebagai bidang media informasi. Ketiganya ditangkap di lokasi yang berbeda-beda.

Diketahui bahwa sang ketua berperan untuk merekrut anggota dengan unggahan yang bersifat provokatif bermuatan isu SARA, berupa narasi dan meme, yang sifatnya menggiring opini masyarakat agar membenci kelompok lain. Sang ketua diketahui juga memiliki kemampuan me-recovery akun-akun yang diblokir.

Kelompok ini dijerat dengan pasal 45A ayat 2jo pasal 28 ayat 22 UU No. 19 Tahun 2016 tentang UU ITE, dengan ancaman 6 tahun. Serta pasal 45 ayat 3jo pasal 27 ayat 3 UU ITE, dengan ancaman 4 tahun.

Kabag Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengatakan, “Masih banyak seperti Saracen yang lainnya yang kita ungkap, otaknya (SARACEN) kita ambil sebagai pelajaran dari orang lain, kita monitor dan tangkap dan pantau”.

Awi juga menghimbau agar masyarakat tidak terprovokasi dengan postingan berbau SARA, karena bisa saja itu merupakan ulah kelompok serupa yang memanfaatkan situasi yang rentan gaduh akibat isu SARA.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Faril Imran menuturkan bahwa buzzer yang tegabung dalam kelompok Saracen, dibayar untuk menyebarkan ujaran kebencian bernuansa isu SARA hingga berita hoax.

Terkait penggunaan nama Saracen, Kepolisian mengaku belum mendalaminya. Namun, bila merujuk pada buku The History of Saracens yang ditulis oleh Simon Oackley dalam periode 1711-1718, Saracen dimaknai sebagai orang-orang Arab pengikut Nabi Muhammad, walau Oackley menuliskannya dengan nama Mahomet.

Pendapat lain berkata, Saracen berasal dari kata Yunani, yang memiliki pelafalan mirip dengan Bahasa Arab Syarqiyyin, yang berarti orang timur. Sementara itu pada abad pertengahan, istilah Saracen dipakai oleh orang Kristen di Eropa untuk menyebut pemeluk Islam.

Lebih lanjut, ketiga tersangka nampak kompak untuk tidak terbuka tentang siapa saja yang telah menggunakan jasa mereka. Sampai saat ini, diketahui bahwa mereka dibayar hingga puluhan juta rupiah untuk menebar isu kebencian.

 

Editor: Irene Leonardi / Heartline Tangerang


Artikel Terkait

Mendapatkan Peluang Bisnis dari Segala Situasi

Sekarang ini semakin banyak bisnis startup baru yang bermunculan. Dari e-commerce hingga bisnis makanan kecil sekalipun, seperti cemilan. Pada kesempatan kali ini, program St...

The Heart of Fashion with Handy Hartono

Indonesia memiliki banyak kebudayaan, salah satunya adalah kekayaan akan kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah Indonesia. Kain tradisional memiliki nilai seni yang tinggi. Saat ini kai...

Survei Pasar Sebagai Fondasi Berbisnis

Opini masyarakat merupakan suatu hal yang dapat membantu pebisnis dalam memasarkan produk dan jasa mereka. Oleh sebab itu, sebelum memulai sebuah bisnis, sangat perlu untuk melakukan survei pasar t...

Impactful Coaching

Apakah belakangan ini Anda sering mendengar kata coach, yang digunakan untuk menyebut seorang pelatih? Namun,  apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah coaching? Bagaimana...

Ide Bisnis Yang Melawan Mainstream

Menciptakan sebuah bisnis perlu adanya sebuah produk atau jasa yang menjual dan memiliki value. Bisnis yang dibentuk dengan value pasti akan mampu bertahan dalam jangka wangku yan...