Heartline Network

Hari Ini hingga Lusa, Produsen Tempe dan Tahu Mogok

JAKARTA — Produsen tempe dan tahu di seluruh Indonesia resmi mogok berproduksi selama tiga hari sejak Senin (9/9/2013) ini hingga Rabu (11/9/2013) mendatang. Pemogokan dilakukan sebagai bentuk protes atas meroketnya harga kedelai, bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu. ”Kalau di Jakarta, anggota kami semua sepakat mogok. Kami mohon maaf kepada seluruh masyarakat jika terganggu akibat sikap kami ini. Tujuan kami jelas, yaitu meminta pemerintah menstabilkan harga dan ketersediaan kedelai,” kata Suyanto, Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Minggu (8/9). Sebanyak 5.200 pembuat tempe tahu di Jakarta dipastikan mogok. Hasil pendataan Gakoptindo, di Jawa Barat dan Jawa Tengah, hingga kemarin tercatat 80 persen produsen tempe tahu juga ikut mogok. Di Jawa Timur dan Bali, baru sekitar 50 persen produsen yang menyatakan akan mogok. Meski aksi mogok ini resminya baru mulai Senin ini, para produsen sudah menghentikan produksi sejak beberapa hari terakhir. Sejak Jumat, 6 September, pengurus koperasi tempe dan tahu sudah meminta perajin berhenti produksi. Menurut Suyanto, penghentian produksi tempe sudah dilakukan Jumat-Minggu karena dibutuhkan waktu tiga hari untuk membuat tempe, mulai dari perebusan kedelai, pengolahan, hingga fermentasi. Dengan demikian, pada Senin hingga Rabu, dipastikan tak ada suplai tempe di pasaran. Adapun untuk produsen tahu diminta tak berproduksi sejak kemarin. Pasalnya, tahu hanya membutuhkan waktu satu hari produksi. Suyanto mengatakan, langkah ini diambil pengurus koperasi agar gerakan mogok produksi tempe dan tahu dapat berjalan lancar. Selain itu, menurut dia, langkah bersama ini juga untuk menghindari konflik di antara sesama pengusaha akibat gerakan yang tak serentak seperti yang terjadi pada 2012. Sudah kosong Berdasarkan pantauan di sejumlah sentra industri tempe dan tahu, kemarin, aktivitas produksi terlihat sudah berhenti. Di Kelurahan Kedaung, Pamulang, misalnya, rak-rak di teras rumah warga yang biasa dipakai untuk meletakkan tempe-tempe hasil produksi terlihat kosong. Beberapa pabrik tahu yang berada di tempat itu seperti dikutip dari Kompas.com, juga terlihat lengang dan tutup. Tak terlihat asap dari tungku pembakaran pabrik yang biasanya mengepul setiap hari. Sejumlah pengusaha mengatakan, sudah sekitar empat hari ini mereka tidak lagi berproduksi. Para pengusaha tempe dan tahu ini juga menyatakan siap menanggung rugi untuk menyelamatkan usaha mereka yang terhantam meroketnya harga kedelai. ”Biar saja rugi sebentar daripada nanti rugi terus-terusan karena harga kedelai tidak turun-turun,” kata Turah (50), seorang pembuat tempe. Turah yang biasanya sehari-hari sibuk membuat tempe, kemarin hanya duduk-duduk di emperan rumah bersama tetangganya yang juga pembuat tempe. ”Saya biasanya sehari habis 65 kilogram kedelai,” ujarnya. Menurut Rujito, perajin tempe, kerugian akibat aksi mogok ini di Tangerang Selatan saja mencapai miliaran rupiah. ”Ada sekitar 600 perajin tahu tempe yang akan mogok,” ujar Rujito. Konsumen kehilangan Sementara dari pantauan di sejumlah pasar, seperti Pasar Bukit, Pamulang, dan Pasar Lembang, Ciledug, tahu dan tempe kemarin masih terlihat dijual. Namun, sejumlah warung tegal sudah merasa kehilangan dua produk makanan favorit pelanggannya itu meski kemarin masih mendapat tempe tahu sesuai dengan kebutuhan. ”Tahu tempe itu, kan, tidak cuma digoreng, tapi juga disayur. Jadi lauk iya, camilan iya, semuanya. Tanpa tempe dan tahu pasti kurang rasanya di sini,” kata Sutarmi, pemilik warteg di Kebayoran Lama. Di etalase warteg, tempe tahu terlihat jelas menjadi bahan utama untuk ditumis bersama sayur. Sayur lodeh tambah sedap dengan irisan tempe. Sayur tahu, berisi potongan tahu dan sawi serta cabai merah yang berkuah, pun jadi menu wajib di warteg. Tahu goreng isi, tahu dan tempe goreng tepung, atau digoreng garing menjadi lauk wajib ataupun pendamping bermacam lauk lain, seperti ayam dan daging. ”Kalau tidak ada tempe tahu, bisa makan sama sayur saja saya. Mampunya cuma itu,” kata Rohmat, pedagang asongan. Suyanto menambahkan, mogok produksi ini harus dilakukan karena pemerintah tak juga melakukan tindakan apa pun untuk mengendalikan lonjakan harga kedelai yang saat ini mencapai Rp 9.300-Rp 9.400 per kilogram. Padahal, lonjakan harga kedelai ini sudah pernah terjadi sebelumnya pada 2008 dan 2012, tetapi pemerintah tak pernah mengantisipasinya. Senin, 9 September 2013 | 13:42 WIB


Artikel Terkait

Mengenal Sosok Presiden Wanita Pertama Singapura

Ada yang unik pada pemilihan presiden Singapura tahun ini. Pasalnya, Singapura tidak perlu repot-repot menggelar pemungutan suara tahun ini.

Halimah Yacob, sang mantan Ketua Parlemen Singap...

Menilik Konflik Kemanusiaan di Rakhine

Konflik kemanusiaan terhadap etnis Rohingnya di Rakhine, Myanmar, kembali terjadi dan menjadi sorotan dunia internasional. Berbagai lapisan masyarakat di berbagai negara turut prihatin akan kondisi...

Dunia Kecam Uji Coba Nuklir Korut

Korea Utara (Korut) yang terkenal sebagai negara komunis, telah mendapat banyak kecaman dari internasional. Pasalnya, Korut telah menggelar uji coba nuklir terbarunya pada Minggu (3/9) yang lalu. U...

Memperingati HUT RI Ke-72, Polda Banten Gelar Istighosah Kemerdekaan

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, Polda Banten menggelar acara Istighosah Kemerdekaan pada hari Sabtu (26/06/17) lalu. Acara dimulai sekitar pukul 20.30 dan ...

Perang Terhadap Provokasi Isu SARA

Saracen merupakan kelompok yang kerap menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) dengan topik  isu berbau suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Kelompok ini memiliki ribuan aku...