Heartline Network

Merkel Kembali Pimpin Jerman untuk Periode Ketiga

BERLIN — Partai Uni Demokratik Kristen (CDU) konservatif pimpinan Kanselir Jerman, Angela Merkel, memenangkan pemilihan parlemen pada Minggu (22/9/2013). Namun, berdasarkan hasil sementara yang dirilis Senin pagi, Merkel tampaknya tidak meraih suara mayoritas mutlak. Karena itu dia harus berkoalisi dengan partai lain utuk membentuk pemerintahan. Menurut hasil semi-resmi yang dirilis Kantor Pemilihan Federal, blok Merkel, yaitu CDU dan Uni Sosial Kristen (CSU), meraih 41,5 persen suara. Hasil itu tampaknya mengesahkan kebijakan Merkel dan gaya kepemimpinannya saat dia membimbing Jerman melalui krisis ekonomi zona euro di tengah kritik bahwa dia telah menahan dana talangan untuk membantu negara-negara Uni Eropa yang sedang berjuang menghadapi krisis. "Ini sebuah hasil yang fantastis," kata Merkel dalam sambutannya kepada para pendukungnya di markas CDU yang disiarkan televisi. Dengan kemenangan ini, ia akan memasuki jabatan ketiga sebagai Kanselir Jerman. "Masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana kita akan melanjutkan (pemerintahan)," katanya. "Namun hari ini kita harus merayakan (kemenangan ini)." Hasil pemilihan ini jauh lebih baik dari pemilu pertamanya tahun 2005. Dia meraih kursi kanselir setelah partainya dipaksa untuk membangun koalisi dengan partai lawannya, Partai Sosial Demokrat (SPD) yang berhaluan kiri-tengah. Merkel juga terpukul pada Pemilu 2009 di tengah ketidakpuasan warga Jerman atas peran negara itu di Afganistan. Jika kali ini Merkel gagal meraih mayoritas mutlak, dia akan dipaksa untuk membangun koalisi dengan sebuah partai oposisi. Terakhir kali partai politik di Jerman meraih mayoritas mutlak terjadi pada 1957 dengan Konrad Adenauer terpilih sebagai kanselir pertama di negara itu pasca-Perang Dunia II. Merkel merupakan kanselir ketiga pasca-perang yang memenangkan tiga pemilu berturut-turut. Senin, 23 September 2013 | 10.00 WIB Sumber: CNN, Kompas Editor: Agus Fachry


Artikel Terkait

Mengenal Sosok Presiden Wanita Pertama Singapura

Ada yang unik pada pemilihan presiden Singapura tahun ini. Pasalnya, Singapura tidak perlu repot-repot menggelar pemungutan suara tahun ini.

Halimah Yacob, sang mantan Ketua Parlemen Singap...

Menilik Konflik Kemanusiaan di Rakhine

Konflik kemanusiaan terhadap etnis Rohingnya di Rakhine, Myanmar, kembali terjadi dan menjadi sorotan dunia internasional. Berbagai lapisan masyarakat di berbagai negara turut prihatin akan kondisi...

Dunia Kecam Uji Coba Nuklir Korut

Korea Utara (Korut) yang terkenal sebagai negara komunis, telah mendapat banyak kecaman dari internasional. Pasalnya, Korut telah menggelar uji coba nuklir terbarunya pada Minggu (3/9) yang lalu. U...

Memperingati HUT RI Ke-72, Polda Banten Gelar Istighosah Kemerdekaan

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, Polda Banten menggelar acara Istighosah Kemerdekaan pada hari Sabtu (26/06/17) lalu. Acara dimulai sekitar pukul 20.30 dan ...

Perang Terhadap Provokasi Isu SARA

Saracen merupakan kelompok yang kerap menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) dengan topik  isu berbau suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Kelompok ini memiliki ribuan aku...