Heartline Network

Menaker Yakin Surat SBY ke Raja Saudi Bisa Tunda Hukuman Mati Satinah

Jakarta - Pemerintah sudah menyediakan duit Rp 12 miliar untuk membayar diat sebagai tebusan atas permintaan maaf TKI Satinah. Pemerintah saat ini masih berupaya melakukan upaya lainnya agar eksekusi ditunda. "Sudah ada Rp 12 miliar," kata Menakertrans Muhaimin Iskandar di Bandara Halim Perdanakusuma, Jaktim, Jumat (28/3/2014). Muhaimin mengatakan seperti dikutip dari detik.com, bahwa pemerintah belum memutuskan menggunakan uang yang dikumpulkan masyarakat secara swadaya. Sebab pemerintah berupaya melakukan lobi dengan pihak terkait di Arab Saudi. "Kalau pengalaman lalu setelah dibayar APBN. Uang kumpulan kembali ke masyarakat," sebutnya. "Percayakan pada mekanisme dengan surat presiden. Kita sudah berhasil tunda 5 kali eksekusi, mudah-mudahan bisa tunda lagi," harap Cak Imin, sapaannya. Tragedi Satinah dimulai pada tahun 2006 ketika dia mengadu nasib sebagai TKW di Arab Saudi. Dia berangkat melalui penyalur TKI PT Djasmin Harapan Abadi. Dia ditempatkan di Provinsi Al Qassim, bekerja di keluarga Nura Al Gharib. Namun malang bagi Satinah, dia mengaku sering disiksa majikannya. Tidak tahan dengan perlakuan kasar yang berkali-kali diterima, akhirnya pada 2007 Satinah melawan. Saat itu Satinah dan majikan perempuannya, Nura Al Gharib, sedang berada di dapur. Entah karena apa, Nura membenturkan kepala Satinah ke tembok. Satinah balas memukulkan adonan roti ke tengkuk Nura hingga korban pingsan. Nura meninggal setelah sempat koma beberapa lama di rumah sakit. Satinah langsung menyerahkan diri ke kantor polisi setempat dan mengakui perbuatannya. Satinah juga dikenai pasal perampokan karena dianggap melarikan uang majikan sebesar 37.970 riyal. Satinah diadili pada 2009-2010. Dia dijatuhi hukuman mati mutlak dengan dakwaan tuduhan melakukan pembunuhan berencana pada majikan perempuannya. Pemerintah Indonesia mengintervensi dengan melakukan lobi-lobi. Pemerintah meminta Arab Saudi sebagai mediator dengan pihak keluarga Nura agar keluarga memberi pemaafan dengan cara membayar uang darah (diyat). Jum'at, 28 Maret 2014 | 13:84 WIB Editor:Agus Fachry


Artikel Terkait

Mendapatkan Peluang Bisnis dari Segala Situasi

Sekarang ini semakin banyak bisnis startup baru yang bermunculan. Dari e-commerce hingga bisnis makanan kecil sekalipun, seperti cemilan. Pada kesempatan kali ini, program St...

The Heart of Fashion with Handy Hartono

Indonesia memiliki banyak kebudayaan, salah satunya adalah kekayaan akan kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah Indonesia. Kain tradisional memiliki nilai seni yang tinggi. Saat ini kai...

Survei Pasar Sebagai Fondasi Berbisnis

Opini masyarakat merupakan suatu hal yang dapat membantu pebisnis dalam memasarkan produk dan jasa mereka. Oleh sebab itu, sebelum memulai sebuah bisnis, sangat perlu untuk melakukan survei pasar t...

Impactful Coaching

Apakah belakangan ini Anda sering mendengar kata coach, yang digunakan untuk menyebut seorang pelatih? Namun,  apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah coaching? Bagaimana...

Ide Bisnis Yang Melawan Mainstream

Menciptakan sebuah bisnis perlu adanya sebuah produk atau jasa yang menjual dan memiliki value. Bisnis yang dibentuk dengan value pasti akan mampu bertahan dalam jangka wangku yan...