Heartline Network

Sluman, Slumun, Slamet

Tangerang, Heartline.co.id - Keselamatan (safety) dalam transportasi di Indonesia, nampaknya menjadi isu yang krusial. Setiap kali kerabat kita hendak bepergian dengan moda apapun, kita selalu titip pesan singkat “safe flight, safe trip”, sebagai ujud doa agar perjalanannya sampai tujuan. Meski keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama di atas variabel apapun, tapi perilaku semua pihak yang berkepentingan tak menampakkan keurgenan tersebut. Hitunglah perilaku penumpang pesawat terbang, yang masih bermain-main dengan smartphonenya ketika pesawat sudah mau take off atau landed. Mereka juga enggan untuk menggunakan safety belt meski dianjurkan kalau pesawat belum mendarat sempurna. Lebih buruk lagi, perilaku pihak operator, baik moda transportasi darat, laut dan udara, mereka tak memperhatikan faktor keselamatan lebih penting dibanding faktor kalkulasi keuntungan. Perawatan moda transportasi sangat minim, peralatan yang serba kanibal dan tak memenuhi standar keselamatan, sumber daya manusia yang minim pengetahuan dan keterampilan. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya gigi regulator (pemerintah) untuk menegakkan rule of law yang sudah ada. Peristiwa naas jatuhnya AirAsia QZ8501, menurut Chappy Hakim, penulis buku “Believe It of Not. Dunia Penerbangan Indonesia” (2014), yang juga menjadi narasumber di Heartline Coffee Morning show Selasa pagi ini (6/1), adalah puncak gunung es dari buruknya wajah kelola penerbangan di Indonesia yang selama ini tidak memperhatikan faktor keselamatan. Chappy, mantan Kepala Staf Angkatan Udara, yang sekarang banyak berkecimpung sebagai pengamat penerbangan nasional ini, dalam perbincangan dengan host Jose Marwan dan Dina Virgy menaruh harapan besar bagi kementerian perhubungan untuk melakukan pembenahan secara fundamental terhadap keselamatan di semua moda transportasi. Dalam bukunya, Chappy Hakim juga mengungkapkan akibat tak diperhatikannya faktor keselamatan, maka Otoritas Penerbangan Amerika (FAA) pada tahun 2007 menurunkan level penerbangan kita ke level 2, yang berarti masuk ke zona penerbangan yang tidak aman. Bahkan di tahun yang sama Otoritas Penerbangan Eropa melarang semua maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang ke Eropa. Penerbangan Indonesia menjadi anekdot di kalangan pengamat penerbangan. Katanya, kalau seorang pilot sedang belajar menerbangkan dan mendaratkan pesawat, tempatnya adalah di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Jika seorang pilot sudah bisa menerbangkan dan mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandara terbesar di Indonesia ini, maka dianggap sudah punya kapasitas untuk membawa pesawat di belahan bumi manapun. Mengapa anekdot ini muncul, sebab Bandara Soetta adalah bandara terpadat di dunia. Kapasitasnya hanya untuk memantau 500 pergerakan pesawat, tetapi sekarang harus mengawasi lalu-lintas 2000 pergerakan. Sehingga potensi untuk tabrakan di udara sangat mungkin terjadi. Tidak jarang, ketika kita hendak mendarat, pesawat yang kita tumpangi harus berputar-putar terlebih dahulu di atas udara Jakarta. Banyak respon pendengar dengan topik keselamatan ini di Heartline Coffee Morning. Salah satunya dari Fidel, yang mengaku sudah phobia naik pesawat sejak 10 tahun lalu, padahal pekerjaan memaksanya untuk terbang 3 kali seminggu. Fiel mengharapkan pemerintah bisa tegas dalam menegakkan peraturan penerbangan di Indonesia. Stephanie melalui line BBM juga menyarankan agar perilaku penumpang bisa berubah, dengan tidak memainkan HP di atas pesawat. Bisnis penerbangan di Indonesia memang booming, penumpang meningkat 10-15% per tahun. Seharusnya permintaan yang tinggi ini diimbangi dengan ketatnya prosedur keselamatan yang dijalankan oleh semua pihak, sehingga kita merasa aman dan nyaman terbang menikmati perjalanan. Orang Jawa punya ungkapan Sluman, Slumun, Slamet, sebuah harapan bahwa ketika kita melakukan perjalanan, kemanapun dan dengan apapun, yang paling penting adalah selamat. Semoga. (JM)


Artikel Terkait

Ada Apa Dengan Cinta?

Bertepatan dengan momen hari kasih sayang atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan valentine’s day, Heartline Radio Tangerang kembali mengadakan program siaran Heartline Co...

Prakiraan Cuaca Ibukota dan Sekitarnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa, dalam dua hari ke depan hingga Rabu (15/02/17), ibukota dan sekitarnya akan diguyur hujan berpotensi sedang hingga lebat...

The Rise Of Servant Leadership

Di segala lini kehidupan, manusia dituntut untuk melayani. Baik secara profesional maupun dalam keseharian, manusia akan ikut serta dalam perannya untuk melayani ataupun dilayani.

Dalam ran...

Siap Merayakan Imlek??? Yuk Intip Makna Pernak-Pernik Khas Imlek?

Masyarakat keturunan Tionghoa sedang bersiap menyambut perayaan tahun baru Imlek. Di Indonesia sendiri, tahun baru Imlek 2568 jatuh pada hari Sabtu tanggal 28 Januari 2017. Perayaan tahun baru Imle...

AKHIRNYA TERUNGKAP! Inilah Rahasia Bisnis Orang Tionghoa

Etnis Tionghoa adalah contoh bangsa pendatang yang sukses di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa etnis Tionghoa banyak mendominasi berbagai sektor penting di negara ini, diantaranya: pemerintahan, pe...