Heartline Network

Kita Berantas Narkoba dari Keluarga

Tangerang, Heartline.co.id - Awal tahun baru biasanya diawali dengan hal-hal baik. Harapan-harapan untuk hidup yang lebih maju dari tahun sebelumnya, senantiasa menyertai ujud doa setiap orang ketika menginjak tahun baru. Tapi cerita tentang musisi Fariz Rustam Munaf (Fariz RM), pelantun lagu Sakura dan Barcelona yang sempat melejit di tahun 1980-an, agak berbeda. Musisi yang berusia 56 tahun ini, kemarin dikabarkan tertangkap polisi karena penyalahgunaan narkoba. Sebelumnya Fariz pernah mendekan di penjara, setelah tertangkap pada 28 Oktober 2007 dengan barang bukti 1,5 linting ganja seberat 5 gram yang disimpan dalam bungkus rokok. Terjeratnya Musisi sekaliber Fariz dalam lipatan narkoba seakan mengokohkan pepatah lama, “Drugs and music are an escape from reality.” Awal tahun 2015, nampaknya juga menjadi cerita seru bagi Badan Narkotika Nasional (BNN). Belum selesai pesta kembang api selesai, BNN sudah menggulung jaringan narkoba kelas internasional di daerah Jakarta Barat, yang membawa 840 kg sabu. Jumlah ini terbilang fantastis, karena biasanya BNN hanya bisa menyita sekitar 100-an kg narkoba. Dan menurut mereka, ini adalah tangkapan terbesar se-Asia Tenggara. Jefri Tambayong, salah seorang pendekar pemberantasan Narkoba melalui organisasi Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) mem-broadcast tanggapannya terkait penangkapan ini, “Luar biasa 800-an kg sabu seharga 1,7 T asal Cina ditangkap BNN. Bersyukur banyak anak bangsa diselamatkan. Mari satukan langkah wujudkan Indonesia Bersinar – Bersih Narkoba 2015.” Dalam perbincangan dengan host Jose dan Virgy di Heartline Coffee Morning pagi ini (7/1), Jefri mengatakan saat sekarang sudah bukan lagi saatnya mengatakan “say no to drugs” tapi “fight again drugs”. Semua pihak harus turun tangan untuk perang terhadap narkoba. Kembali Ke Rumah Dalam perbincangan Heartline Coffee Morning pagi ini (7/1), Joko Dewo, Sekretaris Jenderal SIAN (Seniman Indonesia Anti Narkoba), yang menjadi salah satu narasumber, mengatakan bahwa kampanye anti narkoba, melalui berbagai media sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat tentang bahayanya narkoba. Joko Dewo juga menegaskan, keluarga yang kuat adalah salah satu benteng pertahanan akan pengaruh narkoba. Sementara itu, Irjen (Purn) Benny Mamoto, mantan Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, mengatakan 80% penyelundupan narkoba ke Indonesia melalui laut. Indonesia, menurut Benny, adalah pasar potensial karena permintaan yang tinggi dan harga bagus, sementara penegakan hukum lemah. Benny sendiri mendukung eksekusi mati bagi para bandar narkoba. Dan yang paling mendasar, pencegahan narkoba bisa dilakukan melalui keluarga. Orang tua harus membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak, sehingga mereka bisa curhat langsung ke orang tua. Anak-anak bisa terbangun jati diri dan karakaternya dalam keluarga. Berdasarkan catatan BNN, 50 pemakai narkoba di Indonesia meninggal dunia dengan sia-sia setiap harinya. Ini belum terhitung dengan kerugian anak-anak yang putus sekolah dan bahkan menjadi gila karena narkoba. Peredaran narkoba di Indonesia sudah masuk di level mengkhawatirkan. Tahun 2015 pengguna narkoba diprediksi menembus 5,8 juta jiwa. Pemerintah, meski masih ada kekurangan, sudah berupaya memberantas peredaran benda haram ini. Wacana untuk menghukum mati para gembong narkoba sudah bergulir, meski mendapatkan sambutan pro dan kontra. Hukuman mati mungkin memberikan efek jera, tetapi bukan penyelesaian yang komprehensif. Demikian juga organisasi-organisasi sosial keagamaan sudah mengkampanyekan bahaya narkoba. Tetapi, kita semua tidak boleh tinggal diam. Kita bisa memulai dari keluarga. Keluarga adalah awal segala kebaikan dan keburukan yang terjadi di masyarakat kita. Mayoritas anak-anak kita yang terlibat narkoba, karena mereka jarang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Anak-anak tumbuh dalam dasar nilai-nilai yang rapuh, dan tidak dibangun atas pondasi kerohanian yang kokoh. Mereka berguru pada media, pada kawan pergaulan, dan orang-orang dewasa lain yang seharusnya tak layak menjadi teladan. Mari kita kembali melihat keluarga kita masing-masing. Bagaimana anak-anakku, apakah kita sebagai orang tua sudah cukup waktu memperhatikan mereka. 2015, kita berantas narkoba dari keluarga. (JM)


Artikel Terkait

Presiden Jokowi dan Wapres JK Kompak Kenakan Pakaian Adat Saat Sidang Tahunan MPR

Ada penampilan yang unik dari Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada sidang tahunan MPR. Pasalnya, kedua figur pemimpin negara Indonesia ini, kompak menge...

Ironi Kelangkaan Garam Nasional

Terjadi kelangkaan pasokan garam di sejumlah pelosok tanah air. Salah satu penyebabnya dinilai karena anomali cuaca yang buruk akibat tingginya curah hujan, padahal seharusnya Indonesia sudah masuk...

Otoritas Keamanan Australia Sukses Gagalkan Teror Bom Pesawat

Otoritas keamanan Australia telah suskes menggagalkan rencana teror untuk meledakan sebuah pesawat komersial dengan menggunakan bom rakitan dan gas beracun. Bom tersebut diketahui telah dirakit men...

Waduh, Utang Pemerintah RI Naik Lagi!

Utang pemerintah Indonesia per akhir Juni 2017 tercatat mencapai Rp 3.706,53 triliun. Jika dibandingkan pada bulan Mei 2017, angka ini terbilang naik 34,19 triliun.

Sebagian besar utang pem...

E-mail Presiden Jokowi Dicatut

Tindak kriminalistas nampaknya tak pernah absen di dunia. Tidak pandang bulu, tindak kriminalitas dapat memburu dan menimpa siapa saja.

Kali ini bahkan Presiden Republik Indonesia Joko Wido...