Heartline Network

Life is Sacred

Tangerang, Heartline.co.id - Hukuman mati terhadap 6 narapidana kemarin menyisakan kegelisahan nurani sebagian masyarakat. Haruskah hukuman mati? Aliran Pro-Life menyadari nyawa itu asasi dari yang asasi. Kita (negara) tidak diberi daulat untuk mencabut nyawa orang. Sebab Tuhan yang memberi nyawa, dan Tuhan juga yang berhak mengambilnya. “Life is Sacred,” tulis Tim Kaine. Tapi aliran Pro-Death Penalty melihat hukuman mati bisa memberi efek jera yang menggetarkan setiap pelaku kejahatan untuk berpikir ulang melakukan tindak melawan hukum. Hukuman mati sudah ada sejak abad 18 SM, termaktub dalam Kodeks Hamurabi. Namun seiring kesadaran HAM, saat ini hukuman mati sudah ditinggalkan oleh 71% negara di dunia. Hukuman Mati di Indonesia Hukuman mati sebagai pidana pokok di Indonesia adalah produk kolonial penjajahan Belanda, yang dituangkan dalam Wetboek van Strafrecht voor Netherlands-Indie atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Hindia Belanda, yang diberlakukan di Hindia Belanda pada 1 Januari 1918. KUHP Hindia Belanda kemudian diadopsi masuk ke dalam hukum Indonesia pasca penjajahan, melalui aturan peralihan UUD 1945 dan UU No. 1 tahun 1946 tentang KUHP. Pada masa itu, sifat penghukuman adalah pembalasan. Faham ini berbeda dengan sifat penghukuman pada masa modern saat ini, yaitu memperbaiki sifat dan perilaku seseorang. Belanda saja, negara asal-usul KUHP, sudah mulai meninggalkan hukuman mati pada 17 Februari 1983. Balas Dendam atau Keadilan? Albertus Patty, salah satu teolog dari PGI, dalam diskusi di 100.6 FM #HeartlineCoffeeMorning pagi ini (Senin, 19/1) menuturkan ketidaksetujuannya terhadap eksekusi hukuman mati. “Tuhan yang memberi nyawa dan Tuhan juga yang berkuasa atas nyawa manusia.” Negara memang wakil Tuhan, tetapi bukan Tuhan. Pengadilan belum tentu benar, keputusannya bisa salah. Maka tidak ada kebenaran absolut yang dihasilkan oleh penguasa melalui palu hakim. Ada banyak cara menerapkan asas keadilan, dan ada banyak cara menghukum kesalahan tanpa membunuh orangnya. Desmond Tutu, salah satu rohaniawan menulis, “To take a life when a life has been lost is revenge, not justice.” Mencabut nyawa seseorang itu balas dendam, bukan keadilan. Dalam sudut pandang kekristenan, yang kepercayaannya berakar pada pengampunan, hukuman mati harus ditolak. (JM)


Artikel Terkait

Mengenal Sosok Presiden Wanita Pertama Singapura

Ada yang unik pada pemilihan presiden Singapura tahun ini. Pasalnya, Singapura tidak perlu repot-repot menggelar pemungutan suara tahun ini.

Halimah Yacob, sang mantan Ketua Parlemen Singap...

Menilik Konflik Kemanusiaan di Rakhine

Konflik kemanusiaan terhadap etnis Rohingnya di Rakhine, Myanmar, kembali terjadi dan menjadi sorotan dunia internasional. Berbagai lapisan masyarakat di berbagai negara turut prihatin akan kondisi...

Dunia Kecam Uji Coba Nuklir Korut

Korea Utara (Korut) yang terkenal sebagai negara komunis, telah mendapat banyak kecaman dari internasional. Pasalnya, Korut telah menggelar uji coba nuklir terbarunya pada Minggu (3/9) yang lalu. U...

Memperingati HUT RI Ke-72, Polda Banten Gelar Istighosah Kemerdekaan

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, Polda Banten menggelar acara Istighosah Kemerdekaan pada hari Sabtu (26/06/17) lalu. Acara dimulai sekitar pukul 20.30 dan ...

Perang Terhadap Provokasi Isu SARA

Saracen merupakan kelompok yang kerap menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) dengan topik  isu berbau suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Kelompok ini memiliki ribuan aku...