Heartline Network

Belajar dari Pak Tedjo

Tangerang, Heartline.co.id - Keseleo lidah (Slip of the tongue) oleh Profesor Soenjono Dardjowidjojo disebut “kilir lidah”, sebuah fenomena dalam berujar sehingga kata/kalimat yang keluar tidak sesuai harapan. Hal naas ini baru saja menimpa Menkopolhukam, Tedjo Edhy Purdijatno, yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut 2008-2009. Pernyataannya yang membuat kontroversi adalah ungkapan “Rakyat yang tidak jelas” kepada para tokoh/aktivis yang mendukung KPK dalam kontroversinya dengan Polri. Dianggap “Rakyat yang tidak jelas” para aktivis, akademisi, dan sejumlah tokoh nasional tidak terima. Mereka mencela komentar kesleo sang Menteri. Di Sosmed muncul hastag #terTedjo sebagai sindiran. Kedalaman Kata Kebijaksaan kuno mentamzilkan kata-kata ibarat anak panah, bukan dengan senjata yang lain, seperti pedang, golok atau tombak. Kenapa anak panah? Sebab laiknya anak panah, sekali dilepaskan maka kita tak akan pernah bisa menariknya kembali. Karena itu dampak dari kata-kata, jauh lebih besar daripada luka oleh senjata apapun. Pepatah mengatakan, “a slip of the foot you may soon recover, a slip of the tongue you nevel will.” (Selip kaki bisa segera disembuhkan, namun selip lidah takkan bisa disembuhkan. Kata-kata memiliki makna kedalaman, bukan sembarang bunyi yang kita dengar di telinga, tetapi gambaran apa yang ada di dalam hati seseorang. lbnu Katsir mendefinisikan kata-kata sebagai “sesuatu yang digunakan manusia untuk mengungkapkan apa yang tersimpan dalam batinnya”. Sejalan dengan Ibnu Katsir, Yahya bin Muadz memberikan ungkapan yang lebih jelas dan menarik tentang lisan. Katanya, “Hati itu laksana periuk, dan kata-kata adalah alat ciduknya. Maka lihatlah seseorang jika sedang berbicara. Pada saat kata-kata keluar dari mulut, dia seperti sedang menciduki apa-apa yang terdapat di dalam hatinya. Dia bisa manis atau kecut, bisa tawar atau asin. Dan bisa menjelaskan kepadamu tentang keadaan hati orang itu adalah hasil cidukannya.” Era Media Menjadi pejabat publik di era sekarang, tantangannya jauh lebih kompleks, bukan hanya bisa menyelesaikan masalah, tapi harus bisa mengkomunikasikan masalah tersebut kepada masyarakat. Charles Bonar Sirat, salah satu pakar Public Speaking, yang menjadi narasumber di program #HeartlineCoffeeMorning pagi ini (Selasa, 27/1) mengatakan seorang pejabat harus siap ketika disodorin mikropon oleh para pencari warta. “Mereka harus punya tim yang sudah mengelola isu, sehingga pejabat yang bersangkutan sudah punya update sebelum wartawan menodongnya,” ujar Charles Bonar Sirait. Pengamat politik dari PP Muhammadiyah, Dahnil Anzar, yang juga menjadi narasumber di acara ini menuturkan, pejabat yang kesleo bicara harus berani minta maaf kepada publik. “Tapi etika seperti ini masih jarang di negara kita,” imbuhnya. Kematangan kata-kata seseorang, terutama pejabat publik, sebaiknya menjadi syarat ketika berkomunikasi. Kita harus berhati-hati memilin kata, meski faktanya orang lebih berhati-hati memilih baju daripada memilih kata-katanya. Kita harus perlakukan kata-kata dengan hati-hati, seperti kita sedang membawa pistol yang penuh peluru. Saat kata-kata kita menyakitkan, kita akan melukainya selamanya. Psikiater Antonio Wood menulis,“Ketika kita berbicara secara menyakitkan kepada orang lain, kita mengasingkan diri sendiri dari orang tersebut.” Kata-kata punya kekuatan. Seorang penulis novel itu awalnya hanya mengambil secarik kertas kosong. Tapi ketika kertas tersebut diisi dengan kata-kata, maka orang yang membacanya bisa terharu, menangis, sedih, benci, cinta, marah. Mari kita jaga perkataan kita; itu pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian Pak Tedjo di atas. (YM).


Artikel Terkait

Mendapatkan Peluang Bisnis dari Segala Situasi

Sekarang ini semakin banyak bisnis startup baru yang bermunculan. Dari e-commerce hingga bisnis makanan kecil sekalipun, seperti cemilan. Pada kesempatan kali ini, program St...

The Heart of Fashion with Handy Hartono

Indonesia memiliki banyak kebudayaan, salah satunya adalah kekayaan akan kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah Indonesia. Kain tradisional memiliki nilai seni yang tinggi. Saat ini kai...

Survei Pasar Sebagai Fondasi Berbisnis

Opini masyarakat merupakan suatu hal yang dapat membantu pebisnis dalam memasarkan produk dan jasa mereka. Oleh sebab itu, sebelum memulai sebuah bisnis, sangat perlu untuk melakukan survei pasar t...

Impactful Coaching

Apakah belakangan ini Anda sering mendengar kata coach, yang digunakan untuk menyebut seorang pelatih? Namun,  apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah coaching? Bagaimana...

Ide Bisnis Yang Melawan Mainstream

Menciptakan sebuah bisnis perlu adanya sebuah produk atau jasa yang menjual dan memiliki value. Bisnis yang dibentuk dengan value pasti akan mampu bertahan dalam jangka wangku yan...