Heartline Network

Belajar Percaya

Tangerang, Heartline.co.id - Dalam bukunya “Syukur Tiada Akhir”, Jakob Oetomo, pendiri Kelompok Kompas Gramedia (KKG), mengupas satu bahasan tentang “Masyarakat yang tidak Tulus”, yang menggambarkan kondisi masyarakat kita saat ini memiliki trusting level yang rendah. Ketulusan semakin terkikis dalam setiap tindak kebaikan yang dilakukan oleh seseorang atau sekumpulan orang. Seseorang yang berniat membantu kita di tengah jalan, terpaksa harus kita curigai, karena kita belum mengenalnya. Masing-masing orang memasang kewaspadaan tinggi saat berada di luar zona tempat tinggalnya. Dalam bahasa Walter Lippman, seorang kolumnis terkenal, ini disebut picture in our head, gambaran dalam kepala kita saat berjumpa dengan orang lain. Setiap orang terhanyut dalam irama hidup masyarakat yang tidak tulus ini, terseret dalam penampakan yang penuh rekayasa. Padahal, ketulusan itu penting; kepercayaan itu prinsip dalam membangun masyarakat. Francis Fukuyama menaruh ide ini dalam kata: Social Capital. Selain modal uang, kita juga butuh modal social trust, agar bisa menjadi masyarakat yang berkembang. Konflik yang terus mengular antara KPK dan Polri, berawal dan berdampak pada habisnya kepercayaan semua pihak kepada semua pihak. Kita bingung; sekarang harus percaya kepada siapa. Dalam amar putusannya, benarkah KPK masih bersih, benarkah Polri masih murni, hanya hukum demi hukum dan bukan yang lain, atau Presiden; benarkah masih bisa berdiri tanpa campur tangan kepentingan politik para pendukungnya? Inilah obrolan seru #HeartlineCoffeeMorning pagi ini (Rabu, 28/1) dengan para narasumber Victor Silaen (Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan) dan Adrianus Meliala (Krimonolog UI dan Komisioner Kompolnas). Saat presiden membentuk tim independen, yang terdiri 9 tokoh kredibel, untuk mengurai masalah KPK dan Polri, ini hanya sebuah tanda, bahwa presidenpun tak percaya dengan institusi/lembaga yang sudah ada. Ketiadaan kepercayaan itu petaka, dimana saja. Gagasan yang tercuat dari diskusi ini adalah: harapan agar kekisruhan ini segera terjernihkan. Duduk perkara segera diletakkan sewajarnya. Bapak Presiden sebagai orang nomor satu, bisa segera mengambil tindak bijaksana dan tegas. Dan semua energi bangsa kembali digunakan untuk kerja, kerja dan kerja, seperti slogan pemerintahan baru ini. Pemerintah butuh memulihkan kepercayaan publik lagi. Kepercayaan yang sudah terlukai harus segera diobati. Sebab kalau bicara The Big Brother (seperti dalam novel George Orwel), maka The Big Brother presiden seharusnya adalah rakyat, bukan politisi. Dengar suara rakyat, dan buat keputusan. Belajarlah percaya, suara rakyat itu suara Tuhan. (YM).


Artikel Terkait

Ada Apa Dengan Cinta?

Bertepatan dengan momen hari kasih sayang atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan valentine’s day, Heartline Radio Tangerang kembali mengadakan program siaran Heartline Co...

Prakiraan Cuaca Ibukota dan Sekitarnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa, dalam dua hari ke depan hingga Rabu (15/02/17), ibukota dan sekitarnya akan diguyur hujan berpotensi sedang hingga lebat...

The Rise Of Servant Leadership

Di segala lini kehidupan, manusia dituntut untuk melayani. Baik secara profesional maupun dalam keseharian, manusia akan ikut serta dalam perannya untuk melayani ataupun dilayani.

Dalam ran...

Siap Merayakan Imlek??? Yuk Intip Makna Pernak-Pernik Khas Imlek?

Masyarakat keturunan Tionghoa sedang bersiap menyambut perayaan tahun baru Imlek. Di Indonesia sendiri, tahun baru Imlek 2568 jatuh pada hari Sabtu tanggal 28 Januari 2017. Perayaan tahun baru Imle...

AKHIRNYA TERUNGKAP! Inilah Rahasia Bisnis Orang Tionghoa

Etnis Tionghoa adalah contoh bangsa pendatang yang sukses di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa etnis Tionghoa banyak mendominasi berbagai sektor penting di negara ini, diantaranya: pemerintahan, pe...