Heartline Network

Radio dan Perubahan Sosial

Tangerang, Heartline.co.id - Oleh UNESCO, 13 Februari dinyatakan sebagai Hari Radio Sedunia sebagai bentuk pengakuan keunikan radio karena kemampuannya mendistribusikan informasi ke daerah yang sulit dijangkau media lain. Namun di tengah perayaan ini, pekerja radio seluruh dunia merasa prihatin karena kekerasan yang masih dialami para jurnalis radio. Seperti ditulis Jean-Paul Marthoz, penasehat Committee to Protect Journalist, New York, 20% jurnalis yang dibunuh di seluruh dunia bekerja di media radio. Data terakhir, dalam waktu 2 tahun ini saja, ada 65 jurnalis radio yang mati dibunuh, dan hampir separuhnya berusia di bawah 30 tahun. 1.Youth & Radio Perayaan Hari Radio Seluruh Dunia (World Radio Day) 2015 mengangkat tema Youth & Radio: Celebrating Radio...by youth, for youth...in safety and security. Tema ini diangkat, karena UNESCO menyadari populasi anak muda yang mendominasi, sebesar 52% populasi dunia saat ini berusia di bawah 30 tahun. Mereka, 90% -nya tinggal di negara berkembang. Dan dari mereka, 26% -nya suka mendengarkan radio. Meski menjadi populasi yang dominan, tetapi suara anak-anak muda masih tersisih dari media radio. Karena itu UNESCO mengajak semua pihak untuk meningkatkan partisipasi anak muda melalui radio dalam tiga level. Pertama, Radio for Youth: Radio harus mengangkat isu-isu yang digeluti anak-anak muda, termasuk di dalamnya melakukan wawancara dengan mereka. Kedua, Radio with Youth: Radio harus melibatkan anak-anak muda dalam proses produksi program. Ketiga, Radio by Youth: Anak muda berperan sebagai produser, penyiar dan reporter. 2.Interaktif Radio adalah media yang populer, khususnya di daerah dimana masyarakatnya terbelenggu buta huruf dan kemiskinan. Radio menjadi satu-satunya sumber informasi bagi daerah dengan infrastruktur transportasi dan komunikasi yang tidak memadai, tidak ada akses ke media cetak, televisi dan internet. Radio bahkan bisa menyelamatkan nyawa manusia ketika bencana melanda. Seorang biksu buta di Birma saat menerima bantuan pesawat radio setelah bencana taufan Nargis mengatakan, “I can’t see, so when my radio was destroyed in the cyclone, I felt very isolated. Now that I have a radio, I feel like I can see!” Sejak ditemukan tahun 1920, radio telah meradikalkan komunikasi sosial. Gaya interaktifnya telah menempatkan radio di pusaran perubahan pola komunikasi sosial yang otoriter dan berjarak. Sejak lahir, radio membawa genetika kedekatan. Meskipun penyiar dengan para pendengar tidak kenal, tetapi radio mampu mendekatkan mereka secara personal, membangun komunitas imaji yang turut menyumbang kekokohan modal sosial. Radio menjadi salah satu pabrik modal sosial yang tersebar di seluruh dunia. Robert D. Putnam menulis, inti modal sosial adalah penghargaaan kepada hubungan-hubungan sosial sebagai aset. Jati diri radio yang interaktif telah memungkinkan orang untuk membangun komunitas dan merajut solidaritas. Rasa memiliki memungkinkan mereka hidup dalam atmosfer kepercayaan dan toleransi. Tanpa interaksi, maka kepercayaan antar masyarakat satu sama lain akan membusuk. Ketika pembusukan kepercayaan terjadi, maka ini adalah pertanda masalah-masalah serius akan terjadi di dalam masyarakat. (Beem 1999:20). Sifat interaktif radio memberi ruang kepada pendengar bisa bercakap-cakap secara langsung, menyampaikan keluhan, opini, pertanyaan dengan narasumber di radio tanpa protokoler. Semua masyarakat punya akses informasi dengan biaya murah. Melalui radio, monolog dirubah menjadi dialog, elitisme diganti egalitarianisme. Percakapan (conversation) di radio lalu berubah menjadi diskursus untuk mempengaruhi penguasa. Percakapan di ruang publik inilah yang justru lebih berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Jurnalisme lalu hanya menjadi bagian dari percakapan, seperti ditulis Jeft Jarvis, “Rather thinking of themselves as setting the agenda, news organisations need to recognise that journalism is now just part of a conversation.” Keinteraktifan radio menjelmakan penyiar sebagai sosok yang mengerti dan mengenal pendengar secara pribadi seperti syair “Balada Seorang Penyiar” yang didendangkan Bimbo, “Pendengarmu tak kenal wajahmu. Pendengarmu tak mau tahu. Rumahmu suaramu pengenalmu. Menyentuh merayap kalbu.” Kedekatan radio dengan pendengar, tidak hanya melibatkan emosi tetapi juga imajinasi. Hingga saat ini radio tetap menjadi media yang paling menstimulasi imajinasi. Ketika mendengarkan radio, imajinasi seseorang tidak hanya terbatas pada 29, 32 atau 55 inci. Pendengar bisa berimajinasi seluas mungkin tentang suasana, warna, bau, ukuran, bentuk, dari tuturan kalimat atau sound effect yang berbunyi di radio. Jack Gilbert (Collected Poems, 2012) menulis, “Some years ago, a child was asked whether he liked radio or television best. The boy said radio, because the pictures were better.” 3.Partisipatif Pengalaman bergumul bersama Radio Heartline Network (www.heartline.co.id), mendaraskan satu keyakinan bahwa kekuatan utama radio terletak dalam model partisipatifnya. Program yang partisipatif dapat membantu pembejaran dan dialog sosial (social learning and dialogue) antara komunitas pendengar. Model ini berkontribusi pada proses pengambilan keputusan-keputusan strategik dalam sebuah komunitas. Psikologi masyarakat sekarang, tak hanya senang dilayani tetapi bahagia ketika mampu berpartisipasi. Partisipasi membangun konsensus, untuk melakukan negosiasi, konsultasi atau bertukar informasi tentang kepentingan bersama. Saat mereka berdialog, basis pengetahuan yang mereka miliki meningkat sehingga terbentuklah fondasi untuk pengambilan keputusan. Oleh Paul Richards (Richards, 1996), ini disebut “bantuan pemikiran” (smart relief). Partisipasi masyarakat tidak hanya terbatas dalam interaksi sebuah program, tetapi di beberapa radio komunitas masyarakat justru diperlakukan tidak lagi sebagai penerima pesan, tetapi pembuat pesan. Anak-anak dan ibu-ibu yang secara kultural sulit menyampaikan opini, dilibatkan dalam pembuatan program radio dengan isu seputar kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup. Pelibatan masyarakat dalam menentukan bentuk dan isi program membuat arah komunikasi tidak lagi dari radio ke masyarakat, tetapi dari masyarakat melalui radio untuk masyarakat. Inilah teori partisipasi demokratis (democratic-participation theories). (Mc Quail, 1987). Radio berakar dan tumbuh dalam kepedihan dan kegembiraan masyarakatnya. Program radio yang tidak menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat akan mati secara perlahan-lahan. Denise Gray- Felder dari Communication for Social Change Consortium, mengatakan, “Radio itu bukan hanya soal memproduksi program. Radio adalah tentang proses sosial. Radio tetap bisa bertahan hidup karena mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat, baik ketika masyarakat sedang berada dalam kekacauan atau pertumbuhan.” Selamat Hari Radio Sedunia.

Yusuf Marwoto, Direktur Radio Heartline 100.6 FM Tangerang


Artikel Terkait

E-mail Presiden Jokowi Dicatut

Tindak kriminalistas nampaknya tak pernah absen di dunia. Tidak pandang bulu, tindak kriminalitas dapat memburu dan menimpa siapa saja.

Kali ini bahkan Presiden Republik Indonesia Joko Wido...

Harga BBM Jadi Murah, Bentuk Realisasi Program BBM Satu Harga

PT. Pertamina (Persero) akan kembali mengoperasikan 4 lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) pada bulan Juli 2017, sebagai wujud realisasi pelaksanaan program BBM Satu Harga.

Empat lemba...

BNN Gelar Puncak Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional

Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar perhelatan puncak peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI), hari ini (13/7), di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Mengangka...

Uji Kelayakan Simpang Susun Semanggi

Proyek simpang susun Semanggi rencananya akan dioperasikan secara penuh per tanggal 17 Agustus 2017 mendatang. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi 30% beban kepadatan lalu lintas di sekitar ruas J...

Menelisik Kiprah Ronny F. Sompie Dalam Perjalanan Karirnya

Rangkaian program siaran bincang pagi Heartline Coffee Morning kembali diadakan Radio Heartline, kemarin (04/07/17). Bertempat di Heart Studio, Gd. Heartline Center lantai 4, siaran langsung terseb...