Heartline Network

Belajar Merendahkan Hati: Bisa Walau Sulit

Pagi ini dengan usaha dan motivasi, saya berhasil mengangkat sepatu lari dan jaket untuk menyelesaikan "tugas" harian, target untuk berinvestasi pada harta jasmani supaya tetap fit. Menikmati pagi ini, pukul 5:45 udara masih segar dan dingin, menambah semangat sembari dalam hati berbisik, "Lumayan juga bisa napas banyak, sambil denger suara burung di alam yang semakin jarang." Oh iya, banyak rekan-rekan yang sudah berpengalaman bersepeda dan lari pagi, menasehati saya bahwa aturan nomor satu untuk lari di luar adalah pada saat jalan atau lari “HARUS MELAWAN” arah lalu-lintas agar bisa melihat lalu-lintas di depan kita. Aturan lain, kita juga harus memilih jalur di pinggir sekali jika kebetulan tidak ada trotoar. Karena itu, selama 3 tahun ini saya selalu ingat pesan rekan-rekan. Saya sangat sedih kalau ada beberapa rekan yang bersepeda dan mengalami kecelakaan. Pagi ini, 4.5km pertama sangat asyik karena kebetulan sedang fit. Tiba-tiba sedang asyik-asyiknya menyelesaikan 500 meter terakhir, ada sebuah motor yang hampir menyerempet saya dari belakang. Motor itu juga "Melawan Arus". Sekitar 50 meter di depan saya motor tersebut berhenti, pengemudi laki-laki turun karena kebetulan di depan sebuah komplek, lalu penumpang menjadi pengemudi yang adalah seorang wanita. Saat itu saya hanya berpikir 2 hal: 1. Ingin mengingatkan bahwa melawan arah adalah salah. Kebetulan jalan tersebut sangat amat kosong, jangankan ada mobil atau motor lain, bahkan seekor anjing atau kucing pun absen, mungkin sedang mencari sarapan pagi. 2. Cuek sajalah, ngak perlu ngomong, lagian percuma juga kalo mau memberitahu. Pagi ini karena terlalu bersemangat, saya mengambil pilihan pertama. Saya bilang dengan si ibu yang berbalik arah setelah menurunkan pengemudi. Saya mencoba menyampaikan dengan sangat amat sopan supaya tidak terkesan menegur, "Ibu melawan arah sangat tidak baik, saya atau orang lain bisa tertabrak." Sebenarnya harapan saya, dia mengerti apa kesalahan yang dia lakukan dan tidak mengulanginya. Tapi responnya bikin saya agak emosi, karena dengan santai dan pongahnya dia cuma bilang, "Ngaklah Pak, saya juga lihat, masa orang gede gitu ngak dilihat." Saya langsung ngeloyor pergi, sebelum suasananya merusak kebahagian pagi saya. Dalam perjalanan pulang saya berpikir, betapa sulitnya kita belajar menerima masukan dari orang lain. Ya, kita semua, termasuk saya. Semakin kita mencapai kesuksesan, kita semakin tidak bisa mendengar nasihat atau masukan dari siapapun. Rasanya sayang juga jika rekan atau sahabat kita tidak lagi ingin memberi kita masukan, padahal demi kebaikan kita. Semua terjadi karena kesombongan kita, yang pada akhirnya membuat kita tidak bisa bertumbuh lagi menjadi manusia yang lebih baik. Yang paling repot, jika kita sampai tidak ingin dinasehati atau ditegur Tuhan, betapa gawatnya. Semoga kita semua mau terus belajar dari siapapun dan menjadikan belajar sebagai kebiasaan (habit). Salam terus belajar! Andy Djojo Budiman (Member of Heartline Writer Community)


Artikel Terkait

Rahasia Sukses Dan Kaya

Siapapun pasti ingin sukses dan kaya dalam kehidupannya. Muda, tua, laki-laki, perempuan, di pedesaan atau di perkotaan, pasti menginginkan hal yang sama terjadi pada hidupnya dan berlomba mewujudk...

BMKG: Jangan Khawatir Dampak Equinox!

Indonesia diprediksi akan mengalami fenomena Equinox pada 21 Maret 2017 dan 23 September 2017 mendatang. Menurut kabar yang berhembus, akibat fenomena Equinox ini, suhu udara di Indonesia akan menc...

How The Millenial Generation Works?

Bicara tentang perkembangan jaman dan teknologi, sudah pasti akan menghasilkan generasi-generasi milenial. Generasi yang dinilai cakap dan mumpuni menghadapi perkembangan jaman, karena menguasai be...

Peresmian Gedung Serbaguna PENABUR Harapan Indah

Kota Harapan Indah, Bekasi – BPK PENABUR Jakarta meresmikan Gedung Serbaguna Komplek PENABUR Harapan Indah, Sabtu (04/03/17) lalu pukul 08.00 – 12.00 WIB. Gedung dengan luas bangun...

Property Trends: What To Expect in 2017

Properti, kini bukan lagi hanya sekedar menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Bila dahulu, kepemilikan akan tempat tinggal, adalah skala prioritas yang harus dipenuhi manusia, saat ini kepemi...