Heartline Network

Kisahku Menjadi Seorang Guru

(Ternyata setiap kali merayakan hari guru, saya teringat beribu kenangan tentang Cindy Language Course – CLC – ke permukaan. Cerita ini saya persembahkan untuk para ex murid yang sekarang sudah menjadi “orang” – eh, emangnya dulu bukan orang? ) Cindy Language Course (CLC) adalah sebuah lembaga kursus yang unik dan tiada duanya. Unik di dalam seluruh aspek keberadaan, pengajaran, maupun relasinya antar guru dan murid. CLC mendobrak semua pakem tentang lembaga kursus. Berdirinya kursus ini sebenarnya tidak saya rencanakan. Ketika 1981 saya pindah ke Jepara, cita-cita saya adalah membuka salon. Namun, ternyata di sepanjang jalan dimana rumah saya berdiri, sudah ada 2 salon, salah satunya tepat di sebelah rumah saya. Sehingga saya mengurungkan niat membuka salon tersebut. Adalah ibu K, ibunda dari yang sekarang menjadi dosen di UKDW, bapak Pendeta Daniel K.L yang meminta saya untuk mendirikan kursus karena beliau mengetahui bahwa saya seorang guru. Terimakasih cik K untuk idenya! Cerita ini dimulai dari Jepara Untuk keperluan kursus, kami akhirnya membangun sebuah rumah yang didesain sedemikian rupa untuk usaha. Rumah kami terdiri atas tiga bagian. Dua ruangan depan dan toilet untuk usaha, kemudian ada teras dan kolam ikan yang memisahkannya dari rumah induk yang terdiri atas ruang keluarga yang luas, 4 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang makan dan dapur. Di samping kanan kiri ruang keluarga terdapat taman kecil. Disamping belakang terdapat sebuah pavilyun, terdiri atas 3 kamar yang kami gunakan untuk menampung 3 anak asuh / angkat dari desa-desa di sekitar Jepara. Di belakang rumah masih ada kebun yang cukup luas berisi bermaca-macam tanaman buah. Ada pepaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, ketela, paria, labu air maupun tanaman bumbu. (Jadi tidak perlu pergi ke pasar minggu dulu mencarinya..............hehehe....jadi teringat lagu kanak-kanak nih). Keunikan yang tak Terlupakan Selama 24 tahun CLC berdiri, saya telah mengajar lebih dari 1.500 orang siswa. Murid-murid saya berasal dari berbagai kalangan dan usia, mulai dari kelas 2 SD sampai para profesional seperti pegawai bank, PNS, sarjana perikanan, pendeta, notaris, orang-orang manca negara, ibu rumah tangga maupun orang yang ingin bepergian ke luar negeri. Mereka tidak hanya berasal dari kota Jepara saja, melainkan merambah sampai ke daerah-daerah sekitar Jepara seperti Sukodono, Pecangaan, Gotri, Bangsri, Jeruk dan sebagainya. Di CLC diajarkan 4 bahasa: Inggris, Perancis, Belanda dan Indonesia. Lho, kenapa Indonesia? Bahasa Indonesia disediakan bagi orang asing, para exchange students dan furniture buyer yang ingin berkomunikasi dengan orang kita. Jepara terkenal dengan mebel ukirnya sehingga menarik para buyer dari manca negara. Pendaftaran siswa di setiap tahun ajaran baru juga luar biasa uniknya. Kalau kursus lain mempekerjakan pegawai Tata Usaha (TU), maka personel TU saya hanyalah sebuah papan tulis untuk penempelan pengumuman dan sebuah meja dengan 2 buah kotak di atasnya, yang saya letakkan di depan garasi. Di dalam kotak pertama tersedia formulir pendaftaran dan pena, sedang kotak kedua mirip kotak suara pemilu untuk memasukkan formulir yang sudah diisi. Saya sendiri pergi berlibur keluar kota. Herannya, pendaftaran tetap masuk walaupun tidak ada nona manis yang menerima pendaftaran. Mengapa dulu kalian mau ya, wahai para ex- murid? Saya tidak pernah mau memakai buku yang digunakan di sekolah. Buku dari penerbit lainlah yang saya pakai. Mengapa? Saya tidak ingin murid-murid saya hanya mendapat nilai baik untuk pekerjaan rumah maupun ulangan, namun gagal dalam ujian akhir karena mereka tidak mengerti apa esensi materi pelajarannya. Apabila mereka mengerti intinya, maka walaupun soal diganti seratus kalipun, mereka tetap bisa menyelesaikannya. Setiap ada kelas baru saya selalu menekankan bahwa untuk mempelajari sesuatu, prinsip yang paling mendasar adalah memposisikan diri secara positif yaitu tidak ada hal yang sulit asal kita mau belajar. Kalau belum apa-apa kita sudah menganggap hal tersebut sulit, maka kitapun akan sulit maju. Buktinya, dengan pendekatan seperti ini, nilai rapor para murid, baik semua. Semua Murid Belajar di Kelas Saya bekerja selama 8 jam sehari, mulai 12.00 - 20.00 WIB. Terkadang ada juga yang mengambil les di pagi hari bagi yang dewasa. Murid-murid terbagi dalam kelas-kelas yang bergantian setiap jam. Saya tidak pernah mau mengajar di tempat lain karena akan menyita waktu untuk perjalanan sehingga kelas yang masuk tidak bisa langsung bergantian. Sebenarnya ada banyak instansi yang meminta saya untuk mengajar di kantor, seperti bank, BBAP, sekolah dan sebagainya, tetapi saya tolak. Kalau mau les ya mereka harus ke tempat saya. Itu prinsip saya. Pernah suatu ketika ada seorang bapak datang ke tempat saya. Percakapan kami adalah sebagai berikut: Bapak : Permisi, apakah benar di sini tempat kursus Inggris? Saya : Benar pak. Bapak : Ibu tahu siapa saya? Saya : Maaf pak, saya tidak tahu .... (dalam hati sambil garuk-garuk kepala, emangnya saya kenal semua orang Jepara?) Bapak : Saya Pak ...... (dia sebut namanya) Saya : Maaf Pak, saya belum tahu. Bapak : Saya wedana. Saya : Oh, Maaf Pak, saya baru tahu. Ada perlu apa Pak? Bapak : Begini bu, saya minta ibu untuk mengajar anak-anak saya, tetapi di rumah saya. Saya : Wah, itu saya tidak bisa pak. (Saya jelaskan cara kerja saya). Bapak : Ibu minta berapa? Saya tidak keberatan. Berapapun akan saya bayar. Saya : Mohon maaf Pak, tetap tidak bisa. Kalau mau ya biarlah anak-anak bapak ikut di kelas, lebih murah. Atau Bapak kursuskan saja ke tempat les lainnya. (Singkat cerita, anak-anaknya akhirnya ikut les dengan masuk ke kelas yang ada). Pernah juga datang ajudan bupati Jepara dengan permintaan yang sama seperti di atas. Meskipun saya kenal dengan bupati tersebut dan sayapun pernah bertemu beliau ketika saya diminta untuk mengisi suara dalam bahasa Inggris untuk video clip tentang obyek pariwisata di Jepara dan sejarahnya, permintaan itupun saya tolak dan anaknya yang datang ke tempat saya. Dari BBAP sampai FAO Balau Budi Daya Air Payau (BBAP) sudah menjalin kerja sama dengan saya untuk stafnya yang akan diajukan untuk mendapat beasiswa studi lanjut ke luar negeri dari pemerintah. Mereka dikursuskan TOEFL selama 3 bulan di tempat saya. Saya yang menguruskan pendaftaran ujian dan ketika rombongan pertama berangkat, sayapun ikut menempuh ujian tersebut. Bagi universitas di daerah Asia, seperti Thailand dan Jepang, nilai TOEFL yang diminta adalah minimal 450, sedang di Amerika dan Inggris mensyaratkan minimal 500. Saya mendapat nilai 650, yaitu hampir sempurna. Kenangan yang tak kalah menarik adalah ketika suatu hari datang dua orang asing yang ternyata adalah staf FAO. Kedatangan mereka berkaitan dengan rencana pemberian beasiswa dari FAO untuk staf BBAP. Saya diwawancarai panjang lebar dan akhirnya saya diterima sehingga saya langsung mendapatkan pembayaran dari FAO dan bukan dari pemerintah seperti biasanya. Kami layaknya Keluarga Hubungan saya dengan para siswa kursus tidak seperti hubungan antar guru dan murid yang konvensional. Di tempat saya, murid bebas makan dan minum selama pelajaran, asal pikiran dan tangan tetap bekerja alias tetap belajar dan berpikir meskipun mulut mengunyah makanan. Hubungan kami juga lebih mirip keluarga: hangat, seperti ibu dan anak. Terkadang ada anak yang menggelendot manja ke tubuh saya ketika menanyakan sesuatu. Mereka bebas menemui saya di luar jam kursus. Mereka boleh curhat tentang segala sesuatu ataupun meminta nasehat. Alhasil, saya tahu banyak tentang kondisi keluarga mereka, mulai dari kondisi finansial, kebahagiaan ketika menang undian, tangisan ketika ada KDRT sampai kegalauan mereka akan masa depan. Saya suka bekerja dengan anak-anak, mereka ceria dan membawa sunshine ke dalam kehidupan saya. Ada anak-anak yang berkejar-kejaran kesana kemari sebelum masuk kelas. Ada yang tidur-tiduran di lantai membaca buku pinjaman ataupun memandangi ikan-ikan yang berenang ria ditingkahi gemercik air di kolam. Ada juga yang ramai-ramai berburu bekicot di halaman belakang. Lucunya Murid-Murid Asing Kenangan tentang murid-murid asing juga tak kalah menariknya. Pernah ada seorang siswa yang berasal dari Amerika. Suatu hari dia muncul di les dengan membawa sebotol besar air minum 1,5l. Selama pelajaran dia minum terus, sampai akhirnya saya tanya, apa tidak kembung/beser minum sebanyak itu? Jawabnya, "Saya sedang sakit pilek, jadi saya minum sebanyak-banyaknya supaya virusnya ter-flush out dan cepat sembuh." Oh ya? Baru tahu saya,kalau pilek minumlah air sebanyak mungkin agar cepat sembuh. Pengalaman dengan siswa dari Kanada lain lagi. Untuk mengenalkan keindahan tempat-tempat wisata di Jawa Tengah, kami bepergian ke Baturraden, Solo, Yogjakarta, Borobudur dan Kalasan. Sekalian menemui ayahnya yang adalah seorang pilot yang kebetulan pesawatnya dicharter oleh Garuda untuk penerbangan haji. Beliau akan menemui kami di Solo. Kami menginap di Hotel Sahid. Karena mereka orang Barat, saat dinner minuman yang dihidangkan adalah wine, baik red maupun white wine dan bukan teh seperti kita. Setelah dinner kami bercengkerama dengan para crew pesawat. Disanalah saya ditantang untuk minum lebih banyak lagi wine dan saya menerima tantangan itu. Pramugarinya sampai ketakutan kalau saya mabuk nanti. Katanya, "Jangan, kan dia tidak biasa minum minuman keras." Saya katakan, " Tidak apa-apa, jangan khawatir." Dan saya minum 4 gelas besar wine malam itu tanpa menjadi mabuk, hehehe.....Seandainya tantangannya adalah untuk minum scotch whisky atau brandy, tentu saya tidak berani karena itu keras sekali. Kalau hanya wine atau liquor, no problem, sikat saja! Mereka tidak tahu bahwa sejak kecil saya suka mencuri-curi minum-minuman keras Papa saya yang diberi oleh nakhoda-nahkoda kapal asing yang bersandar di pelabuhan Semarang. Ketika saya masih kecil, Papa saya adalah kepala douane (bea cukai) pelabuhan Semarang. Untuk membalasnya, keesokan harinya saya membeli sekantung besar usus goreng dan saya bagikan. Mereka bertanya, "Apa ini? " Saya jawab, "Chips, enak. Coba saja......" Kemudian setelah mereka makan, saya tanya, " Enakkah?" Kata mereka, " Ya, enak, gurih. Apa itu?" Kujawab, "Usus ayam." Kontan ada suara ho'ek ho'ek........ ada yang muntah. Di negara mereka, jerohan, kepala, brutu dan sebagainya tidak pernah dimakan orang. Itu diolah menjadi makanan binatang. Hanya satu orang yang benar-benar suka dan mengambil lagi. Hehehe....impas sudah...... Kisah lucu juga terjadi ketika saya mendapat murid orang Spanyol. Dia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia sama sekali dan hanya menguasai sedikit bahasa Inggris dan Perancis, terparah-patah. Nah, bagaimana saya harus mengajar? Bahasa pengantarnya apa, sedang saya tidak bisa berbahasa Spanyol? Akhirnya kami memakai bahasa gado-gado antara Inggris, Perancis dan bahasa Tarzan........Gelak tawa kami selalu mewarnai setiap pelajaran karena lucunya. Guru Les Termuda Saya mengajar semua kelas sendiri, karena saya khawatir mutu akan merosot bila saya memakai asisten luar. Asisten saya adalah puteri saya yang saat itu duduk di kelas 1 SMP. Dia mulai belajar bahasa Inggris sejak usia 2 tahun, dalam rangka persiapan untuk operasi jantung di luar negeri pada usia 3,5 tahun. Ketika dia duduk di SMP dan mengikuti kursus, dia setingkat dengan anak-anak kelas 2 SMA. Satu kelas terdiri atas 28 siswa. Suatu ketika, jadwal saya sudah penuh dan tidak bisa menerima murid baru lagi. Namun ada orang tua yang mendesak terus untuk mengkursuskan anak-anak mereka (SD) di tempat saya. Akhirnya saya tawari, bagaimana kalau gurunya adalah anak saya, apakah mereka mau? Dan mereka mau sehingga sejak kelas 1 SMP puteri saya mengajar kelas kecil sampai dia lulus SMP. Ketika dia duduk di kelas 2 SMP, saya mengalami kecelakaan sehingga tulang lengan saya hancur sepanjang 10 cm. Tulang saya hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kecil yang sampai mencuat keluar dari daging. Saya 3 kali masuk keluar Rumah Sakit untuk pencangkokan tulang dan penggantian dengan logam platinum. Ketika saya di Rumah Sakit, les diambil alih oleh anak saya. Dia mengajar semua kelas mulai SD sampai SMA kecuali kelas dewasa. Anak saya ini memang unik. Sejak SD sampai SMA dia selalu juara. Ketika dia duduk di semester 2 di Universitas Binus, dia melamar untuk lowongan asisten dosen dan diterima. Kuliah di Binus dia selesaikan dalam kurun waktu 3,5 tahun dan dia lulus dengan predikat cum laude. Students' Meeting Setiap akhir tahun kami mengadakan acara Students' Meeting dimana semua siswa dikumpulkan untuk berpesta bersama. Ada acara unik yakni acara tukar kado yang selalu dinanti-nantikan oleh semua siswa. Acara diadakan di ruang keluarga secara lesehan memakai tikar. Ada 150 orang bisa tertampung disana karena luasnya 60 meter persegi. Masing-masing kelas harus menampilkan satu acara, entah itu menyanyi, membaca puisi, menari tarian daerah, menari modern dance, senam dan drama. Tak terkecuali kelas dewasa juga harus tampil. Semuanya dilakukan di dalam bahasa Inggris. Drama yang dipentaskan bermacam-macam, ada dongeng, cerita 1001 malam, ada pula karya William Shakespeare. Pernah ada sekeluarga yang pentas bersama: bapak, ibu dan 3 anaknya. Memang ada beberapa keluarga yang seluruh anggota keluarganya les di tempat saya dalam masing-masing kelas yang berbeda. Di dalam Students' Meeting juga diberikan penghargaan untuk siswa yang tidak pernah absen, siswa yang paling pandai dan sebagainya. Bagi yang mengikuti ujian nasional PDK, ijazah juga dibagikan dalam acara tersebut. Saya sendiri tidak pernah mengeluarkan sertifikat / ijazah kelulusan. Bagi siswa yang mau dan mampu, saya ikutkan ujian negara di PDK Semarang. Terkadang kami juga mengadakan Charity Trip ke panti asuhan dan merayakan akhir tahun disana dengan mementaskan acara Students' Meeting kami. Hal ini saya lakukan untuk mengajar anak didik tentang kepedulian dan kerelaan berbagi dengan sesama yang kurang beruntung. Well, that's it guys! I hope you enjoyed reading this story. Oh,..how I wish we could meet again someday, you all have a very special place in my heart. God bless you, dear ex students. Anneke Natanael Member of Heartline Writer Community (HWC)


Artikel Terkait

E-mail Presiden Jokowi Dicatut

Tindak kriminalistas nampaknya tak pernah absen di dunia. Tidak pandang bulu, tindak kriminalitas dapat memburu dan menimpa siapa saja.

Kali ini bahkan Presiden Republik Indonesia Joko Wido...

Harga BBM Jadi Murah, Bentuk Realisasi Program BBM Satu Harga

PT. Pertamina (Persero) akan kembali mengoperasikan 4 lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) pada bulan Juli 2017, sebagai wujud realisasi pelaksanaan program BBM Satu Harga.

Empat lemba...

BNN Gelar Puncak Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional

Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar perhelatan puncak peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI), hari ini (13/7), di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Mengangka...

Uji Kelayakan Simpang Susun Semanggi

Proyek simpang susun Semanggi rencananya akan dioperasikan secara penuh per tanggal 17 Agustus 2017 mendatang. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi 30% beban kepadatan lalu lintas di sekitar ruas J...

Menelisik Kiprah Ronny F. Sompie Dalam Perjalanan Karirnya

Rangkaian program siaran bincang pagi Heartline Coffee Morning kembali diadakan Radio Heartline, kemarin (04/07/17). Bertempat di Heart Studio, Gd. Heartline Center lantai 4, siaran langsung terseb...