Heartline Network

Menggenggam Pasir

Only a few things are really important (Marie Dressler) Kehidupan ini selalu mengambil apa yang diberikannya kepada kita. Tidak lebih tidak kurang, karena itulah kita menyebutnya dengan keadilan. Jika kita masih menangis karena kehilangan sesuatu, atau bergembira karena mendapatkan sesuatu, maka kita seperti burung yang enggan berkicau karena tak ada yang mendengarkannya. Memiliki atau tidak memiliki, adalah kulit terluar dari lapisan kehidupan. Sakit, kegagalan, penderitaan, keputus-asaan adalah pengalaman hidup yang mengupas kulit terluar ini, untuk menihilkan batas apa itu memiliki dan tidak memiliki. Orang yang pernah dikelupas kulit luar kehidupannya, akan menemukan bagaimana memiliki atau tidak memiliki hanya hiasan, seperti tudung bunga bakung yang didandani indah, meskipun esok akan layu dan dibuang ke perapian.

Seorang sahabat selalu berdiri di halaman rumahnya setiap pagi, menatap matahari, katanya, ”Kita seharusnya belajar dari matahari, yang senantiasa bercahaya tanpa peduli apakah ada yang disinarinya atau tidak.” Nasehat bijak ini senafas dengan kisah dimana ada seorang ibu yang hendak pergi ke pasar dengan membawa daftar belanjaannya. Tapi sayang, daftar belanjaan itu hilang dalam perjalanan. Sedihlah hati si ibu itu. Ia mencarinya kembali di sepanjang jalan yang sudah ia lalui.

Akhirnya, di sebuah sudut jalan, Ibu ini menemukan daftar belanjaannya, maka gembiralah hatinya. Lalu, setelah Ibu ini selesai berbelanja, ia segera membuang daftar belanjaannya itu. Secarik kertas itu tak lagi berguna baginya. Tak Melihat Suatu pagi, saya bangun dan tiba-tiba satu mata sebelah kanan tak bisa melihat dengan terang. Sejak saat itu, saya menjalani hidup penuh pikiran tentang kemungkinan-kemungkinan negatif.

Hati saya dipenuhi dengan ketakutan menjadi buta dan kehilangan salah satu indera yang bisa membuat saya tak bisa menjalani hidup seperti sedia kala. Saya melakukan pekerjaan dengan menggerutu, keluh-kesah karena tidak bisa maksimal lagi. Hingga akhirnya seorang sahabat mengatakan kepada saya, ”Berhentilah berpikir. Hidup ini akan lebih ringan kalau dijalani, bukan dipikirkan.” Sejak saat itulah, saya mulai bisa tersenyum ketika sesuatu yang berharga diambil dari hidup saya.

Sebab, ketika Tuhan mengambil sesuatu yang berharga, Dia akan memberikan sesuatu yang lebih berharga lagi untuk kita. Ketika mata kita buta, maka hati kita justru mampu melihat lebih jauh. Sama halnya seorang sahabat yang tak memiliki kaki, justru itu membuatnya berani melangkah lebih jauh dalam kehidupan ini, bukan berjalan dengan kakinya, tapi dengan hatinya. Ada kisah tiga orang yang sama-sama terbaring di rumah sakit, mengalami sakit parah. Orang pertama mengatakan kepada sakitnya, ”Hei, sakit, enyahlah engkau dari tubuhku. Aku tidak membutuhkanmu.

Pergilah secepatnya.” Sementara orang kedua mengatakan begini, ”Hei, sakit, engkau boleh tinggal dalam tubuhku, tapi kuberi waktu satu minggu saja ya. Setelah satu minggu, engkau harus segera pergi dari tubuhku.” Lalu orang yang terakhir mengatakan begini, ”Hei, sakit, silahkan masuk ke dalam tubuhku. Tinggallah selama yang kau mau, bahkan seandainya itu berarti seumur hidupku.

Lakukan apa saja yang mau kau lakukan, bahkan jika itu artinya engkau semakin bertambah parah.” Dari ketiga pasien ini, siapakah yang akan terbebas dari rasa sakit? Dalam keadaan kehilangan segala-galanya, Ayub mengoyak jubahnya dan berseru, ”Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Nama-Nya.” Tak ada yang hilang ketika kita merasa tak memiliki apa yang ada pada kita, sebab semua yang ada pada kita akan pergi, seperti halnya diri kita yang akan pergi meninggalkan apa yang ada pada kita. Kehadiran kita di dunia ini dan kepergian kita dari dunia ini, tak ubahnya lukisan di atas pasir, segera akan terhapus oleh sapuan ombak.

Begitulah kehidupan yang sudah berjalan beribu-ribu tahun sebelum kita ada dan akan terus berlangsung beribu-ribu tahun setelah kita tidak ada, bahwa yang ada akan pergi, dan yang baru akan datang. Apa yang bisa kita pertahankan? Bukankah semakin keras kita menggenggam pasir, semakin sedikit pasir yang tersisa di telapak tangan kita? Jose-Yusuf Marwoto Member of Heartline Writer Community


Artikel Terkait

Waduh, Utang Pemerintah RI Naik Lagi!

Utang pemerintah Indonesia per akhir Juni 2017 tercatat mencapai Rp 3.706,53 triliun. Jika dibandingkan pada bulan Mei 2017, angka ini terbilang naik 34,19 triliun.

Sebagian besar utang pem...

E-mail Presiden Jokowi Dicatut

Tindak kriminalistas nampaknya tak pernah absen di dunia. Tidak pandang bulu, tindak kriminalitas dapat memburu dan menimpa siapa saja.

Kali ini bahkan Presiden Republik Indonesia Joko Wido...

Harga BBM Jadi Murah, Bentuk Realisasi Program BBM Satu Harga

PT. Pertamina (Persero) akan kembali mengoperasikan 4 lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) pada bulan Juli 2017, sebagai wujud realisasi pelaksanaan program BBM Satu Harga.

Empat lemba...

BNN Gelar Puncak Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional

Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar perhelatan puncak peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI), hari ini (13/7), di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Mengangka...

Uji Kelayakan Simpang Susun Semanggi

Proyek simpang susun Semanggi rencananya akan dioperasikan secara penuh per tanggal 17 Agustus 2017 mendatang. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi 30% beban kepadatan lalu lintas di sekitar ruas J...