Heartline Network

Harmoni dalam Perbedaan

Beberapa hari ke depan, saya akan menurunkan tulisan refleksi berkaitan dengan agenda Radio Heartline Network yang mengadakan rapat akhir Tahun 2016 dengan mengambil tema: The Power of Working in Unity.

Topik ini menyentil saya, tak hanya bagaimana prinsip kerja sama dan kesatuan bisa diejawantahkan di tempat kerja, namun juga bagaimana prinsip ini bisa dijalin di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Kemajemukan kita temukan dimana-mana, bukan hal baru atau langka. Dalam managemen perbedaan, saya mengutip Daniel Goldman yang menulis: “Cara terbaik untuk menyelesaikan konflik karena perbedaan adalah menggunakan cari kita; bukan cara saya atau cara Anda.”

Bagaimanapun, sebagai jurnalis, kami deg-degan juga dengan apa yang akan terjadi di Jakarta. Berita-berita panas yang terjadi di Kota Metropolitan pun tak lepas dari perbincangan sesama leader di Heartline Network: tentang Ahok; tentang rencana unjuk rasa 4 November; tentang manuver Presiden Jokowi menemui Prabowo, MUI, NU dan Muhamadiyah; tentang konferensi pers mantan Presiden SBY; dan juga isu-isu yang terkait. Diskusi-diskusi kecil dengan membahas kembali analisa-analisa yang sudah tersebar di social media, membuat rapat akhir tahun 2016 ini sedikit berbeda.

Sayangnya, tanggal 4 besok kami tak di Jakarta, sehingga bisa dipastikan, kami akan melihat saja apa yang akan terjadi di Jakarta dari layar kaca atau berita di social media. Kami berharap tak terjadi apa-apa yang mengulang trauma dan luka lama. Semoga damai, segalanya berjalan lancar dan tertib, sesuai aturan. Jakarta seharusnya sudah dewasa. Kerusuhan hanya akan membuat semua warga menderita.

Apa boleh buat, isu-isu liar ini telah mencuatkan lagi gagasan tentang kebhinekaan, kemajemukan, NKRI sebagai bahas diskusi hangat: Apakah selama 71 tahun Merdeka, bangsa kita sudah selesai menjadi Indonesia? Atau Indonesia ini memang masih dalam proses menjadi (Menjadi Indonesia = Indonesia in the making)? Saat Indonesia dibentuk, benturan tentang Agama dan Negara begitu keras mengguncang republik ini, sehingga rumusan dasar negara menjadi sengit hingga pemberontakan-pemberontakan berbau agama terjadi. Mengingat pada pelajaran kuliah; bahwa Indonesia ini terdiri dari tiga golongan besar, meskipun di setiap golongan juga tidak monolit, yakni: golongan agama, golongan nasionalis, dan golongan sosialis. Itulah yang diakomodasi oleh kearifan founding fathers kita dengan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” (agama), sila ketiga “Persatuan Indonesia” (nasionalis) dan sila kelima “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”(Sosialis). Ketiga sila ini adalah representasi faksi-faksi yang ada di tengah masyarakat kita.

Namun, menariknya, diantara ketiga sila tersebut, tersebut dua prinsip yang dijadikan rujukan, yang mungkin oleh founding fathers, dimaksudkan sebagai orientasi nilai saat terjadi perselisihan diantara ketiga faksi ini. Dua prinsip nilai ini tertulis dalam sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Jadi apapun ketegangannya, hendaklah penyelesaiannya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan manusiawi.

Lalu juga sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.” Artinya: segala konflik yang terjadi, hendaklah diselesaikan dengan musyawarah mufakat, atau kalau tidak bisa ya berdasarkan perwakilan.

 

 

Hasyim Muzadi dan Sriwijaya Air

Sayangnya, tanggal 4 November besok kami tak di Jakarta. Tepat subuh tanggal 3 November 2016, kami bergegas ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, 2F, karena hari ini agenda kami adalah pergi ke Kota Malang. Entah kenapa, saat menunggu pesawat, kami berjumpa dengan tokoh NU, Hasyim Muzadi, mantan ketua PBNU. Wajahnya teduh meski terlihat lebih sepuh, namun tetap memancarkan kedamaian. Kami salaman dan berbincang serta berswafoto agar terlihat kekinian. Salah seorang kawan kami nyeletuk, “Semoga Indonesia damai dan aman yang Kyai.” Saya berbisik kepada seorang kawan, “Kita beruntung di Indonesia ini masih ada NU dan Muhamadiyah, organisasi keagamaan yang mati-matian mempertahankan apa itu kebhinekaan, kemajemukan, dan NKRI tanpa harus mempertentangkan agama dan negara.”

Panggilan masuk pesawat pun terdengar. Kami bergegas masuk menaiki Sriwijaya Air yang akan membawa kami ke Kota Malang. Saya selalu merasa nyaman di Sriwijaya Air, sebab ada satu hal yang selalu menarik untuk saya tulis. Di Sriwijaya Air selalu disediakan satu lembar kertas yang berisi doa dari berbagai macam agama yang diakui ada di Indonesia. Sebelum take off, pramugari biasanya selalu mengajak para penumpang untuk berdoa sesuai dengan keyakinannya masing-masing agar perjalanan selamat. Saya pribadi selalu membaca doa-doa dari agama lain, satu demi satu. Saya membayangkan bagaimana para penumpang dengan berbagai keyakinan agama itu sama-sama berdoa dengan caranya masing-masing; namun dengan intensi yang sama, agar selamat sampai tujuan. Bukankah pesawat itu bisa menjadi simbol Indonesia; dimana rakyat yang berbeda-beda ini suka tidak suka, berada di pesawat yang sama untuk menuju satu tujuan.

Betapa eloknya Indonesia dengan perbedaan ini. Saya bangga menjadi Indonesia, menjadi diri saya dan memiliki sahabat-sahabat seperti Anda, meski berbeda keyakinan.

 

Ditulis di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang.

Jose-Yusuf Marwoto

Direktur Radio Heartline 100.6 FM Tangerang


Artikel Terkait

Mengenal Sosok Presiden Wanita Pertama Singapura

Ada yang unik pada pemilihan presiden Singapura tahun ini. Pasalnya, Singapura tidak perlu repot-repot menggelar pemungutan suara tahun ini.

Halimah Yacob, sang mantan Ketua Parlemen Singap...

Menilik Konflik Kemanusiaan di Rakhine

Konflik kemanusiaan terhadap etnis Rohingnya di Rakhine, Myanmar, kembali terjadi dan menjadi sorotan dunia internasional. Berbagai lapisan masyarakat di berbagai negara turut prihatin akan kondisi...

Dunia Kecam Uji Coba Nuklir Korut

Korea Utara (Korut) yang terkenal sebagai negara komunis, telah mendapat banyak kecaman dari internasional. Pasalnya, Korut telah menggelar uji coba nuklir terbarunya pada Minggu (3/9) yang lalu. U...

Memperingati HUT RI Ke-72, Polda Banten Gelar Istighosah Kemerdekaan

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, Polda Banten menggelar acara Istighosah Kemerdekaan pada hari Sabtu (26/06/17) lalu. Acara dimulai sekitar pukul 20.30 dan ...

Perang Terhadap Provokasi Isu SARA

Saracen merupakan kelompok yang kerap menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) dengan topik  isu berbau suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Kelompok ini memiliki ribuan aku...