Heartline Network

Pelajaran Hidup dari Bumi Raganata

Kamis, 3 November 2016, akhirnya rombongan Leader Heartline Network mendarat  di Bandara Abdurahman Saleh, di Bumi Raganata, sebutan lain untuk Malang. Raganata, menurut Pak Suparno, Tour Guide kami, adalah panglima perang di era Kerajaan Singosari. Kesohoran angkatan perang Singosari tersebar kemana-mana, sehingga Malang kinipun selain dikenal sebagai Kota Pendidikan, juga dikenal sebagai wilayah yang empunya kekuatan tentara yang tangguh, baik angkatan darat dan angkatan udara. “Kerajaan Singosari adalah benih lahirnya Kerajaan Majapahit di daerah Trowulan, kerajaan besar yang memasyurkan nama Nusantara,” imbuhnya. Kisah legendaris Ken Arok dan Ken Dedes juga dimulai dari wilayah Tumpang, daerah yang kami lewati setelah keluar dari bandara. Kota ini rupanya menjadi endapan cikal bakal Republik Indonesia. Selama menyusuri esoktika Kota Malang, kami menemukan banyak monumen dibuat, yang dipadupadankan dengan taman-taman kota, sebagai bagian dari Memoria kepada perjuangan melawan Penjajahan Kolonial. 

Yang membuat saya berdecak kagum dengan Kota yang terkenal dengan buah apelnya ini adalah dibangunnya taman-taman kota yang begitu elok dengan tanaman bunga yang mekar berwarna-warni, menambah kecantikan Kota Malang. Nampaknya Malang hendak meneguhkan sebagai ikon dari Kota Bunga juga, sebab di dataran yang dilapisi tanah vulkanologi ini, pertanian telah menjadi rantai wisata yang mengagumkan. Tanah yang subur dan sejuk, dihimpit beberapa gunung yang menjulang di belakangnya ini telah menghasilkan apel, jeruk baby, jeruk keprok, dan produk unggulan lainnya.

Sejuknya Hidup Beragama

Mungkin tahu sebagian dari kami adalah rombongan dari Jakarta, Tour Leader dengan sengaja menuturkan sepanjang jalan bagaimana kerukunan umat beragama di Kota Malang ini terjalin. Lagi-lagi menjadi perbandingan kehidupan beragama di Kota Jakarta yang hari-hari ini terasa menghangat terkait Pilkada, Tour Guide seakan mau menampilkan wajah yang berbeda bagaimana cara orang menghayati agamanya. “Di sini Sekolah Tinggi Alkitab berdampingan rukun dengan Pondok Pesantren. Masjid berdiri damai dengan Gereja. Tempat parkir diatur bersama. Tidak ada saling keras-kerasan speaker saat ibadah. Semua bisa toleran,” Tutur Pak Suparno yang begitu menguasai latar belakang sejarah Malang.

Kisah kesejukan hidup beragama ini memang khas Jawa Timur; meskipun karakter mereka keras, tetapi hatinya lembut jika menyoal hidup dalam perbedaan. Kenyataan ini mengingatkan saya dengan sebuah buku berjudul “Agama Masa Depan” yang baru saja selesai saya baca. Buku ini adalah sebuah tulisan ambisius dari Komarudin Hidayat (Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah) dan koleganya tentang watak agama di masa depan yang dibutuhkan; yakni watak yang toleran, dialogis dan menampilkan peringai humanis. Buku ini meletakkan sudut pandangnya pada Filsafat Perenialis; sebuah cara pandang yang sangat berkontribusi pada pemahaman dan praksis orang membangun semangat toleran meskipun agama mereka berbeda-beda.

Cara pandang Filsafat Perenialis kira-kira terbagi atas dua hal: “The One and The Many: Yang Satu dan Yang Banyak. Tuhan yang Maha Satu, yang dikenal dengan banyak nama, banyak wajah oleh manusia.” Seperti sungai-sungai yang jumlahnya banyak, dengan namanya masing-masing, dan air mengalir mengikuti kelokan-kelokannya. Kita menyebutnya air sungai Citarum, air sungai Ciliwung dan lain sebagainya. Namun saat air itu berakhir di lautan luas, di samudera raya, maka air yang dulunya kita kasih nama sudah melebur, menjadi satu kesatuan, tak bernama lagi. “The One and The Many; Yang Satu dan Yang Banyak.” Ada keunikan sekaligus kesamaan dalam setiap keyakinan; ada perbedaan namun juga ada banyak persamaan; dan disitu kita akan menemukan ruang-ruang perjumpaan teologis; pertemuan solidaritas; yang menyatukan umat manusia dari segala keyakinan dalam damai, cinta, dan hati penuh welas asih.

Malam ini kami menginap di lereng Bromo, tepat pukul 22.53 WIB saya menulis ini, di sebuah Homestay sederhana. Setelah sehari ini kami dilelahkan memetik buah apel di perkebunan warga dan menikmati wisata sejarah (edu-historis) di Museum Angkut; malam ini saya mendengar suara-suara jengkerik, terasa padu dengan gesekan daun-daun di belakang jendela kamar. Angin dingin menusuk tulang, dan aku berdoa; semoga kesejukan ini menjadi mata air bagi kesejukan hidup beragama, keberagaman di Ranah Republik yang cikal bakalnya dari tanah yang kuinjak saat ini, Bumi Raganata!

Jose-Yusuf Marwoto, Direktur Radio Heartline 100.6 FM Tangerang.


Artikel Terkait

Ada Apa Dengan Cinta?

Bertepatan dengan momen hari kasih sayang atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan valentine’s day, Heartline Radio Tangerang kembali mengadakan program siaran Heartline Co...

Prakiraan Cuaca Ibukota dan Sekitarnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa, dalam dua hari ke depan hingga Rabu (15/02/17), ibukota dan sekitarnya akan diguyur hujan berpotensi sedang hingga lebat...

The Rise Of Servant Leadership

Di segala lini kehidupan, manusia dituntut untuk melayani. Baik secara profesional maupun dalam keseharian, manusia akan ikut serta dalam perannya untuk melayani ataupun dilayani.

Dalam ran...

Siap Merayakan Imlek??? Yuk Intip Makna Pernak-Pernik Khas Imlek?

Masyarakat keturunan Tionghoa sedang bersiap menyambut perayaan tahun baru Imlek. Di Indonesia sendiri, tahun baru Imlek 2568 jatuh pada hari Sabtu tanggal 28 Januari 2017. Perayaan tahun baru Imle...

AKHIRNYA TERUNGKAP! Inilah Rahasia Bisnis Orang Tionghoa

Etnis Tionghoa adalah contoh bangsa pendatang yang sukses di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa etnis Tionghoa banyak mendominasi berbagai sektor penting di negara ini, diantaranya: pemerintahan, pe...