Heartline Network

Berhentilah Membenci, Mulailah Mencintai!

Pagi ini, Jumat, 4 November 2016, ketika saya bersimpuh di padang savana di pegunungan Bromo, di hati saya terngiang dengan satu tulisan dari Jalaludin Rumi, seorang Sufi besar yang sangat saya kagumi pemikiran-pemikirannya, “Jika engkau melihat jejak unta, bukankah kita harus percaya bahwa unta itu ada meskipun kita belum melihat untanya sendiri.”

Sejak subuh, pukul 03.00 WIB, kami, satu rombongan Leader Heartline Network memang sudah beranjak menyusuri jalanan setapak pegunungan Tengger untuk melihat sunrise, menggunakan 4 mobil Jeep. Sengatan udara dingin, 14 derajat celcius, tak melemahkan tekad kami untuk merambah ke puncak Bromo. Nampaknya rombongan yang datang tak hanya dari Heartline Network tetapi ada banyak rombongan lain yang datang dari berbagai penjuru kota, menyesaki dataran Tengger. Alhasil, kami berdesak-desakan untuk menanti momen matahari bangun dari peraduannya. Tetapi sayang, pagi ini kami kurang beruntung. Cahaya fajar yang kami nanti-nanti tak kunjung menampakkan diri karena selimut kabut yang begitu tebal. “Kami mengejar matahari.” Ujar salah seorang mahasiswa yang bersama rombongannya subuh itu juga bertengger di Bukit Tengger. “Dalam hidup, kadang-kadang kita tak perlu mengejar. Anda cukup duduk diam, dan yang Anda kejar akan datang dengan sendirinya.” Ucapku menimpali obrolan singkat kami. “Seperti kupu-kupu; semakin kamu mengejarnya, semakin ia menjauh darimu. Diam. Duduklah. Dan entah bagaimana kupu-kupu itu akan hinggap di pundakmu.

Hujan rintik-rintik membuyarkan obrolan kami. “Kita akan ke kaldera, di bawah sana. Sebelum mendaki ke kawah Bromo, kita akan ke padang Savana terlebih dahulu,” celetuk Tour Guide kami, sembari menunjuk ke arah padang rumput yang nampak hijau dari kejauhan, sangat kontras dengan lautan dan gundukan pasir yang menyembunyikan aktivitas aktif Gunung Bromo.

Bersimpuh di Padang Savana

Setelah berjuang turun dari puncak Gunung Tengger dengan jeep tahun 80-an, saya dan rombongan akhirnya sampai juga di hamparan savana yang begitu elok. Aku membiarkan hatiku dituntun oleh suara-suara jernih yang berbicara nyaring; tentang Jejak-Jejak Tuhan yang terhampar di depan mataku. Savana ini begitu indah. Begitu indah, bisikku, “Anda duduk di tengah padang Savana, dan Tuhan akan berjalan menghampirimu dengan lembut. LangkahNya yang ringan akan mendekatimu, seiring desiran angin yang menyapu pelan ke dalam ceruk lembah, seiring liukan rumput-rumput yang seolah sedang menari bahagia, seiring dengan kicauan burung-burung yang bermain-main diantara hamparan semak pohon-pohon pakis kecil dan ilalang.” Tuhan ada di sini. Tuhan ada di sini. Diam. Hening. Dan dengarkan sapaanNya. “Jika mulut kita diam, maka giliran Tuhan yang akan berbicara,” kenangku pada kata-kata Mother Theresa.

Kadang-kadang kita tak perlu mencari Tuhan, sebab Ia yang akan mendekatimu. Tuhan tak perlu dicari, sebab Dia tak pernah hilang. Kitalah yang sering hilang, dan Tuhanlah yang sering mencari kita. Terkadang kita tak perlu memanggil Tuhan, sebab Ia tak pernah menjauh. Kitalah yang sering menjauh dan karenanya Tuhanlah yang sering memanggil kita. Dan yang paling penting; jangan pernah menjual Tuhan, sebab Tuhan sudah membelimu dengan harga yang sangat mahal.

Aku masih bersimpuh di Padang Savana, duduk bersila, dengan tangan terkatup. Sayup-sayup aku masih mendengar rombonganku berbicara dan tertawa di belakang sana, lalu lama-kelamaan aku hanya mendengar nafasku sendiri yang teratur lembut keluar dan masuk. Selebihnya aku hanya mendengar momen keheningan. Keheningan yang mendalam. Dari keheningan itu; Aku mendengar suara-suara jernih jejak-jejak Tuhan, yang menciptakan hamparan keindahan alam yang sedang kutapaki ini. Aku hanya mendengar gemericik aliran cinta yang menetesi kekeringan batin, meniraskan kebencian yang mencekik kehidupan.

Kontemplasiku terseret dengan kebencian yang diteriakkan orang-orang dengan mengatasnamakan kemuliaan Tuhan. Apa sih yang bisa menambah dan mengurangi kebesaran Tuhan? Jika makhluk di seluruh dunia ini bersatu padu membela Tuhan, bukankah itu sama sekali tidak akan menambah Tuhan menjadi lebih hebat. Atau, jika seluruh makhluk yang Ia ciptakan ini menghinaNya, bukankah itu juga tak akan membuatNya cacat tercela. Karenanya Tuhan disebut sempurna, karena tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk ditambahi atau dikurangi. Ia sempurna. Penuh.  

Teriakan-teriakan kebencian yang mengiang di telingaku, perlahan luntur. Aku menemukan cinta di padang Savana ini. Bukankah Cinta adalah ajaran terbesar di semua agama? “If your religion requires you to hate someone, you need a new religion,” kata Dalai Lama. Jika agama yang kamu anut memintamu untuk membenci seseorang, maka Anda butuh agama baru. “The purpose of religion is to control yourself, not to critize others,” sambung His Holiness, sebutan untuk Dalai Lama. Tujuan dari semua agama adalah untuk mengontrol dirimu sendiri, bukan untuk mencela orang lain.

Dari padang Savana Gunung Bromo, aku berdoa: Agar kita berhenti membenci. Sebab kalau kita tak pernah berhenti membenci, kita tak punya waktu untuk mencintai sesama kita lagi. Semakin mereka membenci kita; justru mereka semakin butuh untuk kita cintai, habis-habisan!

 

Dari Padang Savana Bromo,

Jose-Yusuf Marwoto, Direktur Radio Heartline 100.6 FM Tangerang    


Artikel Terkait

Ada Apa Dengan Cinta?

Bertepatan dengan momen hari kasih sayang atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan valentine’s day, Heartline Radio Tangerang kembali mengadakan program siaran Heartline Co...

Prakiraan Cuaca Ibukota dan Sekitarnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa, dalam dua hari ke depan hingga Rabu (15/02/17), ibukota dan sekitarnya akan diguyur hujan berpotensi sedang hingga lebat...

The Rise Of Servant Leadership

Di segala lini kehidupan, manusia dituntut untuk melayani. Baik secara profesional maupun dalam keseharian, manusia akan ikut serta dalam perannya untuk melayani ataupun dilayani.

Dalam ran...

Siap Merayakan Imlek??? Yuk Intip Makna Pernak-Pernik Khas Imlek?

Masyarakat keturunan Tionghoa sedang bersiap menyambut perayaan tahun baru Imlek. Di Indonesia sendiri, tahun baru Imlek 2568 jatuh pada hari Sabtu tanggal 28 Januari 2017. Perayaan tahun baru Imle...

AKHIRNYA TERUNGKAP! Inilah Rahasia Bisnis Orang Tionghoa

Etnis Tionghoa adalah contoh bangsa pendatang yang sukses di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa etnis Tionghoa banyak mendominasi berbagai sektor penting di negara ini, diantaranya: pemerintahan, pe...