Heartline Network

MEDIA: Tuntunan atau Tontonan?

Secara umum media dimengerti masyarakat sebagai wadah untuk bertukar informasi. Entah itu dalam bentuk untuk mendapatkan informasi ataupun mengirimkan informasi.

Mengikuti perkembangan teknologi, media pun ikut melebarkan sayapnya. Tidak hanya terpaku pada media konvensional, seperti: televisi, radio, koran, majalah, dll, media pun berdiri atas azas digitalisasi.

Pada media digital, komunikasi pertukaran informasi lebih terasa “real time”. Jika pada periode kejayaan media konvensional, masyarakat cenderung pasif hanya untuk mengkonsumsi informasi yang disajikan. Justru pada periode media digital, masyarakat memiliki hak kebebasan untuk terjun memberikan informasi kepada semua orang di belahan bumi manapun, atau lebih dikenal dengan istilah citizen journalism.

“Lembaga penyiaran memiliki 5 fungsi utama, yaitu: media informasi, kontrol sosial, media pendidikan, media hiburan, dan lembaga ekonomi. Namun, amat disayangkan, yang lebih dijalankan saat ini hanyalah fungsi hiburan,” ujar Lutfi selaku Koordinator Bidang PS2P KPID Banten, saat ditemui dalam program Heartine Coffee Morning, Selasa (09/05/17).

Oleh sebab itu, Lutfi mengatakan bahwa tidaklah mengherankan apabila fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, sangat berkaitan erat dengan tayangan dari televisi, contohnya: kekerasan dalam rumah tangga, kejahatan yang dilakukan anak-anak, dll. Berkaitan dengan hal ini masyarakat diminta untuk menjalankan literasi media, dimana masyarakat dan orang tua dituntut untuk cerdas memilih konten informasi seperti apakah yang akan dikonsumsi untuk dirinya atau keluarganya.

Lebih lanjut, Anggota Komisi I DPR RI Marinus Gea menegaskan bahwa, media harus menampilkan berita yang seharusnya diketahui masyarakat, tidak hanya berita yang ingin diketahui masyarakat saja. Hal ini juga mempengaruhi informasi negatif yang sangat mungkin dijangkau oleh anak-anak. Untuk itu, Direktur dari Focus on The Family Indonesia Valerie Mellanov Gan menyarankan untuk membuat anak Anda mengikuti kegiatan-kegiatan positif, sebagai langkah preventif anak untuk tidak menjangkau konten negatif.

Ditemui di salah satu acara bincang pagi Radio Heartline Tangerang, Wartawan Senior KOMPAS Andreas Maryoto menyatakan bahwa, manusialah yang harus mengontrol teknologi. Menurutnya masyarakat harus cerdas dalam memahami dan mempelajari segala informasi yang diterima oleh media itu sendiri.

Secanggih-canggihnya teknologi, teknologi itu sendiri merupakan hasil ciptaan manusia. Maka masyarakat harus mempergunakan ciptaan tersebut dengan bertanggung jawab. Kebebasan jangan sampai kebablasan, sebab amatlah konyol jika pencipta teknologi justru dikendalikan oleh hasil ciptaannya. (HL/IL)

 


Artikel Terkait

Ada 2,3 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek

Puncak arus mudik untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438H sudah dimulai sejak tadi malam, Kamis (23/6). Data di Kementerian Perhubungan mencatat jumlah kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek per...

Kemenkes Siagakan Ambulans 24 Jam di Jalur Mudik

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyediakan fasilitas layanan kesehatan di sejumlah titik jalur mudik selama arus mudik dan arus balik lebaran 2017.

Fasilitas layanan kesehatan itu di...

Kesalehan Sosial

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, bangsa yang terbentuk dari segala keberagaman warga negaranya. Lalu apakah dengan segala keanekaragaman ini, justru menghilangkan keunikan Indonesia itu...

Belasan WNI Terjebak Konflik Marawi Dipulangkan Besok

Kementerian Luar Negeri menyatakan Konsulat Jenderal RI di Kota Davao, Filipina, akan memulangkan 17 warga Indonesia yang sempat terjebak konflik di Marawi, besok.

Konflik yang melibat...

Presiden Teken Pembentukan Badan Pemantapan Pancasila

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyatakan, pembentukan lembaga atau badan pemantapan Pancasila yang sempat digagas pada awal tahun ini sudah ditandatangani Presiden...